RADARBONANG.ID – Kebiasaan menggulir layar ponsel untuk membaca berita buruk secara terus-menerus atau dikenal sebagai doomscrolling bisa membuat pikiran terasa semakin terbebani.
Kebiasaan ini sering terjadi ketika seseorang terus mengikuti kabar negatif di media sosial, mulai dari bencana, konflik, kriminalitas, hingga berbagai persoalan sosial.
Awalnya, seseorang mungkin hanya berniat mencari informasi terbaru.
Namun, tanpa disadari, aktivitas tersebut berlangsung semakin lama.
Meski sudah merasa cemas atau tidak nyaman, keinginan untuk terus membaca kabar berikutnya terkadang sulit dihentikan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, doomscrolling menjadi kebiasaan yang perlu dikenali.
Bukan berarti seseorang harus berhenti mengikuti berita, tetapi penting untuk memahami kapan konsumsi informasi mulai mengganggu kenyamanan psikologis.
Baca Juga: Selat Bali Hanya 4 Kilometer, Mengapa Jawa–Bali Tidak Dihubungkan Jembatan? Ini 4 Alasannya
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling merupakan kebiasaan terus menggulir layar perangkat digital untuk mengonsumsi informasi negatif atau kabar buruk dalam waktu lama.
Istilah ini banyak digunakan untuk menggambarkan perilaku pengguna internet yang berulang kali mencari berita mengkhawatirkan, meskipun aktivitas tersebut membuat suasana hati memburuk.
Kebiasaan ini dapat muncul saat seseorang membuka media sosial untuk melihat perkembangan suatu peristiwa, kemudian berpindah dari satu unggahan ke unggahan lain.
Algoritma platform digital yang menyajikan konten serupa juga bisa membuat pengguna bertahan lebih lama di layar.
Keinginan untuk selalu mengetahui perkembangan terbaru menjadi salah satu alasan seseorang terus membaca informasi.
Mereka mungkin merasa khawatir tertinggal kabar penting atau ingin memperoleh kepastian mengenai situasi yang sedang terjadi.
Namun, semakin banyak informasi yang dikonsumsi tidak selalu membuat seseorang merasa lebih tenang.
Dalam kondisi tertentu, paparan berita negatif yang berulang justru dapat menambah kekhawatiran.
Doomscrolling dan Kaitannya dengan Kesehatan Mental
Kaitan antara doomscrolling dan kesehatan mental menjadi perhatian dalam penelitian ilmiah.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 18 September 2026 menelaah penelitian mengenai doomscrolling, kesehatan mental, dan kesejahteraan psikologis pada remaja maupun orang dewasa.
Penelitian tersebut menghimpun 44 laporan penelitian, dengan 21 studi berkontribusi dalam meta-analisis utama.
Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara doomscrolling dan sejumlah indikator psikologis, termasuk kecemasan, depresi, tekanan psikologis, serta penurunan kesejahteraan psikologis dan kepuasan hidup.
Hubungan dengan tekanan psikologis tercatat paling kuat di antara lima indikator yang dianalisis. Sementara itu, doomscrolling juga menunjukkan hubungan dengan kecemasan dan depresi.
Meski demikian, hasil tersebut tidak berarti doomscrolling secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan mental.
Para peneliti menekankan bahwa temuan yang tersedia masih memiliki keterbatasan, termasuk perbedaan hasil antarpenelitian dan rendahnya tingkat kepastian bukti.
Dengan demikian, kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara berlebihan perlu dipahami sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan kondisi psikologis, bukan sebagai satu-satunya penyebab kecemasan atau depresi.
Mengapa Sulit Berhenti Menggulir Berita Negatif?
Ada beberapa alasan seseorang bisa terjebak dalam doomscrolling. Salah satunya adalah keinginan untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin ketika menghadapi situasi yang tidak pasti.
Saat muncul berita tentang bencana, konflik, atau ancaman tertentu, seseorang mungkin terus mencari pembaruan agar merasa lebih siap.
Sayangnya, informasi yang terus bertambah belum tentu memberikan kepastian yang dibutuhkan.
Fitur gulir tanpa batas pada sejumlah platform digital juga membuat pengguna lebih mudah menghabiskan waktu tanpa menyadarinya.
Satu unggahan dapat membawa seseorang menuju unggahan berikutnya, terlebih ketika konten yang muncul berkaitan dengan topik yang sedang menarik perhatiannya.
Selain itu, pemberitahuan dari aplikasi dapat mendorong seseorang kembali membuka ponsel.
Jika kebiasaan ini berlangsung berulang kali, waktu untuk beristirahat, bekerja, belajar, atau berinteraksi dengan orang lain berpotensi terganggu.
Tanda-Tanda Kebiasaan Doomscrolling Perlu Dibatasi
Doomscrolling tidak selalu ditandai dengan durasi penggunaan ponsel yang sangat lama.
Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kebiasaan tersebut memengaruhi aktivitas dan perasaan sehari-hari.
Seseorang perlu mulai mengevaluasi kebiasaannya apabila sering membuka berita negatif tanpa tujuan yang jelas, merasa sulit berhenti meski sudah lelah, atau terus memikirkan kabar buruk setelah menutup aplikasi.
Tanda lainnya adalah munculnya perasaan gelisah setelah membaca berita, terganggunya waktu tidur karena terus memantau perkembangan informasi, serta berkurangnya konsentrasi saat menjalankan kegiatan sehari-hari.
Tanda-tanda tersebut bukan diagnosis gangguan kesehatan mental.
Namun, jika kebiasaan mengonsumsi informasi mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, mengatur ulang penggunaan media digital bisa menjadi langkah awal yang bermanfaat.
Lima Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling
1. Tentukan batas waktu membaca berita
Sediakan waktu khusus untuk mengikuti perkembangan informasi, misalnya pada pagi atau sore hari.
Batas waktu membantu seseorang tetap mendapatkan kabar terbaru tanpa terus-menerus membuka aplikasi sepanjang hari.
2. Pilih sumber informasi tepercaya
Tidak semua unggahan di media sosial menyajikan informasi lengkap dan akurat.
Utamakan sumber berita yang kredibel serta hindari kebiasaan berpindah-pindah akun hanya untuk mencari kabar yang belum terkonfirmasi.
3. Kurangi notifikasi yang tidak diperlukan
Pemberitahuan yang terus muncul dapat memicu keinginan untuk kembali membuka ponsel.
Matikan notifikasi dari aplikasi atau akun yang tidak mendesak agar perhatian tidak mudah teralihkan.
4. Hindari membaca berita menjelang tidur
Paparan informasi yang mengkhawatirkan sebelum tidur dapat membuat pikiran sulit beristirahat.
Cobalah menjauhkan ponsel sebelum waktu tidur dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih menenangkan.
5. Berhenti sejenak ketika mulai merasa terbebani
Jika membaca berita mulai memunculkan kecemasan atau membuat suasana hati memburuk, ambil jeda.
Alihkan perhatian dengan berjalan santai, melakukan aktivitas fisik ringan, berbincang dengan orang terdekat, atau mengerjakan kegiatan yang disukai.
Baca Juga: Cegah Risiko Osteoporosis, Ini 5 Makanan yang Baik untuk Kesehatan Tulang
Tetap Terinformasi tanpa Membebani Pikiran
Mengikuti perkembangan berita merupakan bagian penting dari kehidupan di era digital.
Informasi dapat membantu seseorang memahami keadaan dan mengambil keputusan yang tepat. Namun, kebiasaan terus membaca kabar buruk tanpa batas juga perlu diwaspadai.
Kuncinya bukan menghindari seluruh berita negatif, melainkan mengatur cara dan durasi mengakses informasi.
Dengan memilih sumber yang tepercaya, membatasi waktu layar, serta mengenali kondisi diri sendiri, seseorang dapat tetap memperoleh informasi tanpa harus terus-menerus terjebak dalam arus kabar buruk.
Jika rasa cemas, gangguan tidur, atau tekanan emosional berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan yang tepat.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang