Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Ponpes Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang Kini Bersih dari Tumpukan Kayu Setelah Banjir Bandang

Muhammad Azlan Syah • Jumat, 2 Januari 2026 | 15:28 WIB

Tampak udara kompleks Ponpes Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang yang kini sudah bersih dari tumpukan kayu pascabanjir bandang, aktivitas pembersihan hampir rampung.
Tampak udara kompleks Ponpes Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang yang kini sudah bersih dari tumpukan kayu pascabanjir bandang, aktivitas pembersihan hampir rampung.

RADARBONANG.ID - Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Mukhlisin di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, kini menunjukkan wajah berbeda setelah beberapa pekan lalu lingkungan pesantren tersebut dipenuhi oleh tumpukan kayu gelondongan dan material banjir.

Kondisi yang sempat viral di media sosial itu kini sudah banyak berubah setelah tim gabungan berhasil membersihkan area pesantren dari sisa-sisa kayu yang terbawa arus banjir bandang akhir November 2025.

Kondisi darurat yang sempat memprihatinkan kini menjadi cerita pemulihan.

Tim pembersihan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kementerian Kehutanan (Kemenhut), serta relawan lokal telah bekerja selama lebih dari satu minggu untuk mengeluarkan kayu dan lumpur dari sekitar kompleks pesantren.

Baca Juga: Chikungunya: Virus yang Dibawa Nyamuk Aedes, Kenali Risiko dan Pencegahannya

Peralatan berat seperti excavator dan truk besar terlihat bekerja tanpa henti di lokasi. 

Banjir bandang yang menghantam wilayah Aceh Tamiang mengakibatkan gelondongan kayu dari hulu sungai terbawa deras hingga menumpuk di halaman dan sekitar bangunan pesantren.

Kayu-kayu besar tersebut sempat menyulitkan akses menuju fasilitas pendidikan dan tempat ibadah di dalam kompleks pesantren. Beberapa santri bahkan harus menunda aktivitas belajar karena kondisi lingkungan yang penuh dengan kayu dan lumpur. 

Menurut Staf Ahli Menteri Kehutanan, upaya pembersihan kayu dilakukan tidak hanya untuk membuka kembali akses pesantren, tetapi juga untuk mengurangi risiko baru bagi warga serta santri yang beraktivitas di dalam kompleks pesantren.

Upaya ini melibatkan pemilahan kayu berdasarkan ukurannya, dengan kayu besar yang memiliki nilai guna dipisahkan dari kayu kecil dan serpihan yang kemudian ditumpuk di sisi area pesantren sebagai benteng sementara guna mengurangi dampak banjir di masa mendatang.

Hingga saat ini, progres pembersihan dilaporkan telah mencapai sekitar 90 persen.

Kayu-kayu besar yang berhasil diangkat dan dievakuasi diperkirakan mencapai ratusan kubik.

Pemerintah daerah bahkan mulai memikirkan pemanfaatan kayu tersebut untuk kebutuhan pembangunan hunian sementara atau fasilitas sosial sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabanjir.

Ini merupakan kabar baik bagi masyarakat setempat yang selama ini kehilangan akses ke bangunan pendidikan serta tempat ibadah mereka akibat banjir.

Santri dan pengurus pondok sangat mengapresiasi kerja cepat tim pembersihan.

Mereka menyatakan lega karena lingkungan pesantren kini kembali bersih dan aktivitas belajar serta keagamaan bisa berjalan normal kembali.

Para santri juga merasa bangga karena bantuan datang cepat dari berbagai pihak, termasuk relawan lokal yang tak kenal lelah membersihkan sisa-sisa banjir. 

Kejadian ini juga menjadi pelajaran penting bagi masyarakat luas, khususnya terkait kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.

Di daerah yang rawan banjir, perencanaan tata ruang dan sistem pengelolaan sungai perlu terus diperhatikan untuk mengurangi risiko terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Upaya pencegahan seperti penanaman kembali pohon di hulu sungai dan normalisasi alur sungai bisa menjadi langkah strategis bagi pemerintah daerah dan masyarakat. 

Lebih jauh lagi, banjir bandang di Aceh Tamiang yang menyebabkan tumpukan kayu di Ponpes Darul Mukhlisin sempat menarik perhatian publik karena menjadi simbol dampak perubahan iklim dan perlunya sistem mitigasi yang efektif di kawasan rawan bencana.

Baca Juga: Gaji Pas-pasan tapi Bisa Nabung dan Investasi? Ini Strategi Finansial Anak 20-an yang Bikin Banyak Orang Kaget

Kini, setelah pembersihan dilakukan, masyarakat berharap kejadian semacam ini bisa menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih proaktif dalam penanggulangan bencana alam. 

Dengan berakhirnya proses pembersihan, sebagian besar lingkungan pesantren sudah kembali bersih dari tumpukan kayu dan lumpur.

Aktivitas belajar, ibadah, serta kegiatan sosial lain di ponpes diharapkan dapat berjalan normal seperti sedia kala.

Ke depannya, pondok pesantren ini juga akan memulai kembali kegiatan belajar mengajar secara penuh setelah beberapa pekan terganggu.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#banjir bandang Aceh #mitigasi bencana ponpes #Ponpes Darul Mukhlisin #Aceh Tamiang #pembersihan kayu banjir #pesantren bersih dari kayu