Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Menyelami Wisata Sejarah di Kaltim: Keraton Sambaliung, Warisan Megah di Tepi Sungai Kelay

Amin Fauzie • Kamis, 26 Juni 2025 | 16:05 WIB
Keraton Sambaliung, salah satu wisata sejarah di Kaltim.
Keraton Sambaliung, salah satu wisata sejarah di Kaltim.


RADARBONANG.ID – Saat berbicara tentang Kalimantan Timur (Kaltim), banyak yang membayangkan keindahan laut Derawan atau megahnya proyek IKN Nusantara.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa provinsi ini juga menyimpan wisata sejarah di Kaltim yang tak kalah memesona.

Salah satu yang mencuat dari balik kabut sejarah adalah Keraton Sambaliung, peninggalan kejayaan masa lalu yang masih kokoh berdiri di Kabupaten Berau.

Terletak di Kecamatan Sambaliung, tepat di tepi Sungai Kelay, Keraton Sambaliung tak sekadar bangunan tua.

Ia adalah saksi bisu dari runtutnya silsilah kesultanan di Bumi Batiwakkal.

Dulunya, keraton ini adalah pusat pemerintahan Kesultanan Sambaliung, yang berdiri sejak tahun 1810 setelah perpecahan dari Kesultanan Berau akibat politik adu domba kolonial.

Menurut Inda Pangean, pengelola Keraton Sambaliung yang dikutip dari Antara, Rabu (25/6), awal mula kerajaan ini bermula dari Sultan Alimuddin atau Raja Alam, cucu dari Sultan Hasanuddin dan keturunan ke-13 dari Raja pertama Berau, Aji Suryanata Kesuma.

Kisah pecahnya dua kesultanan, Sambaliung dan Gunung Tabur, menjadi bagian penting dalam narasi sejarah lokal Berau.

Bangunan megah ini dibangun sejak 1881 dan selesai sekitar tahun 1930-an.

Saat itu berada di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Aminuddin, raja terakhir Sambaliung yang kemudian menjadi bupati pertama Kabupaten Berau setelah integrasi sistem kerajaan ke pemerintahan modern pada 1960.

Arsitekturnya? Jangan ditanya. Kayu ulin menjadi tulang punggung bangunan, berpadu dengan dominasi warna hijau dan kuning khas Melayu.

Sentuhan gaya Bugis dan China turut memperindah estetika keraton.

Total ada 13 ruangan, mulai dari ruang utama, kamar-kamar kerajaan, hingga ruang meditasi tempat raja menyendiri.

Yang menarik, keraton ini punya aturan adat yang ditulis pada dua tugu kayu dengan aksara Arab-Melayu dan aksara Bugis. Salah satu isinya menekankan penghormatan terhadap perempuan:

"Jangan menutup atau memotong arah jalan perempuan di tengah jalan meskipun di pandanganmu adalah seorang budak. Kalian para lelaki menepilah sedikit, jika perlu turunlah dari jalanan apabila ada perempuan bersama dengan ibunya yang kamu lihat turun dari rumah (menuju jalanan) maka laki-laki berhenti dahulu dan jangan langsung memotong arah jalannya."

Sebuah pesan luhur yang melampaui zamannya.

Masuk ke dalam ruangan, pengunjung disuguhi koleksi istimewa.

Ada kursi singgasana, pedang besar asal China, kain serat nanas dari India yang berusia lebih dari 120 tahun, hingga alat musik tradisional.

Foto-foto para sultan dan silsilah keluarga kerajaan menghiasi dinding ruang utama.

Semua ini menjadikan Keraton Sambaliung sebagai destinasi wisata sejarah di Kaltim yang tak bisa dilewatkan.

Tak hanya itu, di halaman luar, pengunjung akan menjumpai awetan seekor buaya sepanjang tujuh meter dalam kotak kaca.

Buaya ini, menurut cerita Inda, diyakini pernah merasuki tubuh manusia untuk menyampaikan pesan protes karena dijadikan pajangan.

Sebuah simbol yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan dengan alam, terutama di kawasan sungai Berau yang masih menjadi habitat buaya liar.

Bagi wisatawan yang ingin lebih dari sekadar berlibur, Keraton Sambaliung menawarkan pengalaman berbeda: melihat langsung napak tilas peradaban dan adat istiadat lokal yang dijunjung tinggi hingga kini.

Bukan hanya bangunan dan benda pusaka yang diwariskan, tetapi nilai-nilai tentang tata krama, kehormatan, hingga hubungan manusia dengan lingkungan sekitar.

Di antara gemerlap wisata modern dan destinasi populer lainnya, Keraton Sambaliung berdiri sebagai permata tersembunyi wisata sejarah di Kalimantan Timur.

Bagi yang ingin menapaki jejak masa silam dan menggali kearifan lokal, tak ada salahnya menyeberangi Sungai Kelay dan menyapa sejarah yang masih hidup di jantung Berau. (*)

Editor : Amin Fauzie
#Keraton Sambaliung #napak tilas peradaban #sungai kelay #silsilah kesultanan di Bumi Batiwakkal #kabupaten berau #adat istiadat lokal #wisata sejarah di Kaltim