TUBAN-Wanawisata Pemandian Nganget di Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur dikaitkan dengan kelengkapan tempat pemujaan.
Tempat pemujaan tersebut berbentuk bangunan tinggi. Lokasi bangunan ini berjarak sekitar 200meter (m) dari pemandian Nganget.
Pada 25 Agustus 2009, tim Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto turun untuk meneliti batu bata bangunan tersebut.
Kuswanto, koordinator arkeolog yang turun mengatakan, dari ukuran dan bentuknya, batu bata tersebut diduga kuat dibuat pada zaman Majapahit. Atau setidaknya pada era sesudahnya, yakni pada masa wali.
Batu bata yang sama, namun ukurannya lebih kecil ditemukan di Masjid Demak, Kudus, Jateng.
Dalam penelitian tersebut, dia belum bisa menyimpulkan bentuk bangunan bersejarah yang dibangun dari batu bata tersebut.
Sebab, di sekitar situs sejarah tersebut tidak ditemukan struktur bangunannya dalam keadaan utuh. Hampir semua batu bata yang ditemukan juga dalam kondisi fragmen tidak utuh.
Posisi batu bata tersebut, terang dia, diperkirakan sudah tidak pada posisi semula.
Bahkan, sebagian dipakai untuk membangun keliling pemandian Nganget.
Dari posisi batu bata yang ditemukan di dekat sumber air Nganget yang berada di kaki pegunungan Nolodito atau Nolotidu (berdasar peta Belanda yang dibuat pada 1926), sangat mungkin bangunan yang didirikan dari batu bata tersebut adalah tempat pemujaan atau tempat semedi.
Karena tidak ada yang tahu kalau itu situs sejarah, batu bata tersebut dibiarkan berserakan.
Selama ini, Pemandian Nganget lebih dikenal sebagai wanawisata daripada tempat bersejarahnya. (*)