RADARBONANG.ID - Pasar saham teknologi China mengalami tekanan setelah indeks STAR 50 dilaporkan anjlok sekitar 40 persen sejak Juni 2026.
Penurunan tersebut menghapus nilai hingga USD 2,4 triliun dari pasar saham China sejak Mei dan memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI).
Fenomena ini menjadi sorotan kanal YouTube Eno Bening yang membahas dugaan pecahnya gelembung investasi atau AI bubble di China.
Baca Juga: Perang Tim Sweeney dan Steam Memanas, Label Penggunaan AI Jadi Pemicu
Persoalan profitabilitas perusahaan, persaingan global, dan ketidakpastian pasar menjadi sejumlah faktor yang disorot.
Mengutip Bloomberg, pelemahan saham terjadi ketika China dan Amerika Serikat masih bersaing menguasai industri AI.
Goldman Sachs mencatat, saham perusahaan AI menyumbang lebih dari 40 persen nilai pasar saham di China dan Hong Kong.
Investasi AI Didukung Pemerintah
Menurut Eno Bening, lonjakan investasi AI di China tidak lepas dari dukungan pemerintah.
Persaingan dengan Amerika Serikat membuat teknologi tersebut dipandang sebagai sektor strategis untuk memperkuat posisi China di industri global.
Investasi pun mengalir ke berbagai bidang, mulai dari perangkat lunak seperti chatbot, semikonduktor, RAM, pusat data, robotika, hingga layanan konsultasi dan pendidikan.
Namun, tingginya valuasi perusahaan belum sejalan dengan kemampuan menghasilkan keuntungan.
"Perusahaan AI ini belum ada yang untung," ujar Eno.
Dia menjelaskan, banyak perusahaan masih mengandalkan pendanaan investor untuk membiayai penelitian, pengembangan, dan promosi.
Kondisi ini membuat investor mulai mempertanyakan kapan perusahaan AI bisa menghasilkan keuntungan melalui layanan berlangganan, kerja sama bisnis, maupun penjualan teknologi.
Persaingan Global Tekan Prospek Perusahaan
Selain profitabilitas, industri AI China menghadapi tekanan geopolitik.
Kebijakan Amerika Serikat yang membatasi penggunaan sejumlah produk dan teknologi asal China dinilai dapat mempersempit akses perusahaan ke pasar internasional.
Sektor pusat data dan perangkat keras ikut berpotensi terdampak.
Investasi besar untuk membangun infrastruktur AI membutuhkan pelanggan dan permintaan yang cukup agar biaya pengembangan dapat kembali.
Menurut Eno, perusahaan China juga masih harus mengejar kemampuan sejumlah pemain global dalam pengembangan AI dan teknologi pendukungnya.
Penguasaan RAM serta perangkat keras lainnya bisa menjadi strategi untuk membangun keunggulan, meski belum tentu langsung menjadikan China pemimpin industri AI.
Gelembung Pecah Bukan Akhir Teknologi AI
Eno menilai, penurunan saham tidak berarti AI kehilangan manfaat atau masa depannya telah berakhir.
Pecahnya gelembung investasi justru bisa menjadi proses seleksi antara perusahaan dengan fundamental bisnis kuat dan perusahaan yang hanya bertahan karena ekspektasi investor.
Dia membandingkannya dengan dot-com bubble pada awal 2000-an.
Saat gelembung tersebut pecah, sejumlah perusahaan teknologi tumbang, tetapi sebagian lainnya justru berkembang menjadi pemain besar.
"AI berguna. AI mengubah kehidupan banyak orang, mengubah kehidupan dunia," kata Eno.
Menurutnya, tantangan industri AI saat ini bukan sekadar membuktikan manfaat teknologi, melainkan menunjukkan kemampuan menghasilkan keuntungan berkelanjutan.
Kondisi di China juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan tekanan serupa terjadi di Amerika Serikat, mengingat kedua negara masih membutuhkan investasi besar untuk mengembangkan industri AI.
Anjloknya saham teknologi China menunjukkan bahwa optimisme terhadap teknologi tidak selalu sejalan dengan kondisi bisnis perusahaan.
Kemampuan menghasilkan produk kompetitif dan keuntungan nyata tetap menjadi faktor penting bagi keberlangsungan industri AI. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari