Perang Tim Sweeney dan Steam Memanas, Label Penggunaan AI Jadi Pemicu

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Rabu, 4 November 2026 | 14:26 WIB
Steam yang menerapkan kebijakan baru mengenai AI. (dokumentasi Vannya Alysa P)
Steam yang menerapkan kebijakan baru mengenai AI. (dokumentasi Vannya Alysa P)

RADARBONANG.ID - Perselisihan CEO Epic Games Tim Sweeney dan Valve kembali memanas akibat kebijakan transparansi penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) generatif di platform Steam.

Sweeney mengkritik kewajiban pengembang mencantumkan informasi penggunaan AI karena dinilai berpotensi memicu perundungan dan tekanan terhadap studio gim.

Perdebatan ini dibahas kanal YouTube Water CS2 yang menyoroti perbedaan pandangan kedua perusahaan mengenai keterbukaan penggunaan AI.

Baca Juga: Wajah dan Suara Bisa Dipalsukan AI, Ini 7 Cara Mengenali Video Deepfake di Media Sosial

Kebijakan Steam tersebut berlaku sejak awal 2024. Pengembang wajib memberikan keterangan apabila AI generatif digunakan untuk menghasilkan konten yang dapat dilihat atau didengar pemain.

Namun, pembaruan aturan pada awal 2026 mengecualikan penggunaan AI untuk kebutuhan internal, seperti membantu penulisan kode dan meningkatkan efisiensi pengembangan.

Tim Sweeney Kritik Label AI di Steam

Kontroversi kembali mencuat setelah Sweeney menyampaikan kritik melalui media sosial pada Oktober 2026.

Dia menilai kewajiban pengungkapan penggunaan AI dapat dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menyerang studio gim.

"Ya, mereka menghancurkan bisnis pengembang yang sebenarnya berkualitas demi memaksakan pandangan politik mereka," tulis Sweeney pada 24 Oktober 2026.

Sehari kemudian, dia menyebut label AI berpotensi merugikan pengembang secara finansial apabila tidak mengikuti pandangan ideologis tertentu.

Sweeney bahkan membandingkan kewajiban tersebut dengan keharusan mengungkap riwayat pilihan politik.

Sementara itu, Valve menyatakan aturan tersebut berkaitan dengan transparansi produk.

Pengembang harus menjelaskan penggunaan AI untuk menghasilkan ilustrasi, suara, hingga dialog dalam gim.

Informasi itu membantu konsumen mempertimbangkan produk sebelum membeli.

Epic Games Terapkan Aturan Serupa

Kritik terhadap Sweeney menjadi sorotan setelah diketahui bahwa Fab, marketplace milik Epic Games, juga mewajibkan kreator mencantumkan penggunaan AI generatif pada aset digital yang diunggah.

Sweeney menjelaskan, Fab merupakan marketplace antarbisnis atau business-to-business (B2B).

Sejumlah pelanggan membutuhkan informasi asal-usul aset karena terikat kontrak yang mengharuskan mereka mengetahui sumber konten dalam gim.

"Ini adalah marketplace antarbisnis. Banyak pelanggan Fab beroperasi berdasarkan kontrak yang mengharuskan mereka memahami asal-usul seluruh konten dalam gim mereka," jelas Sweeney.

Di sisi lain, Epic Games terus mendorong pemanfaatan AI dalam ekosistem pengembangan gim, termasuk melalui Unreal Engine. Valve juga tidak sepenuhnya menolak teknologi tersebut.

CEO Valve Gabe Newell sebelumnya menyampaikan bahwa AI berpotensi meningkatkan produktivitas pengembang.

Tim Valve bahkan pernah menggunakannya untuk bereksperimen dengan sistem pencocokan pemain dalam gim Deadlock.

Perselisihan Juga Menyinggung Komisi Steam

Perbedaan pandangan kedua perusahaan turut merambah persoalan pembagian pendapatan.

Steam menerapkan komisi standar sebesar 30 persen dari penjualan gim, kebijakan yang berulang kali dikritik Sweeney karena dianggap membebani pengembang dan membatasi persaingan.

Meski demikian, Steam menyediakan berbagai layanan melalui Steamworks, seperti penyimpanan data berbasis cloud, dukungan multipemain, modifikasi melalui Workshop, forum komunitas, dan ulasan pengguna.

Perselisihan Epic Games dan Valve memperlihatkan perbedaan pendekatan dalam membangun ekosistem industri gim.

Seiring meluasnya penggunaan AI generatif, transparansi menjadi isu penting yang menyangkut kepentingan pengembang, penyedia platform, dan konsumen. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Tim Sweeney Valve kecerdasan buatan ai epic games