RADARBONANG.ID – Berlian selama ini identik dengan perhiasan mewah. Namun, berkat kemampuannya menghantarkan panas dengan sangat baik, material ini berpotensi membantu mengatasi dan menjaga suhu chip komputer tetap terkendali di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Potensi tersebut dibahas jurnalis sains Cleo Abram dalam video berjudul The $1 Trillion Problem Diamonds Can Solve di kanal YouTube miliknya.
Dia menjelaskan bahwa berlian tidak hanya memiliki nilai sebagai batu mulia, tetapi juga menawarkan sifat fisik yang menarik untuk berbagai kebutuhan industri.
“Kebanyakan orang menganggap berlian sebagai perhiasan mahal atau mungkin bahan untuk mata bor yang sangat keras,” ujar Cleo dalam pengantar videonya.
Berlian tersusun dari atom karbon yang membentuk struktur kristal khas.
Struktur tersebut membuatnya sangat keras sekaligus memiliki konduktivitas termal yang tinggi, sehingga panas dapat merambat melalui material ini dengan sangat baik.
Karakteristik tersebut menjadikan berlian buatan sebagai salah satu kandidat material untuk membantu memindahkan panas dari komponen elektronik.
Meski demikian, penggunaannya untuk pendinginan chip masih menghadapi tantangan teknis dan biaya produksi.
Panas Jadi Tantangan Besar Komputasi AI
Perkembangan AI mendorong kebutuhan komputasi dalam skala besar.
Chip grafis atau graphics processing unit (GPU) yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model AI harus menangani pemrosesan data dalam jumlah besar.
Aktivitas tersebut menghasilkan panas yang perlu dikelola agar perangkat dapat bekerja secara stabil.
Selama ini, tembaga dan aluminium banyak digunakan dalam sistem pengelolaan panas elektronik.
Namun, peningkatan kepadatan komponen dan kebutuhan daya membuat proses pendinginan semakin menantang, terutama pada pusat data yang mengoperasikan banyak cip secara bersamaan.
Salah satu pendekatan yang sedang dikembangkan adalah penggunaan lapisan berlian tipis sebagai heat spreader atau penyebar panas.
Lapisan tersebut berpotensi membantu menyalurkan panas dari chip menuju sistem pendingin sehingga suhu dapat dikelola dengan lebih efektif.
Dalam pembahasannya, Cleo juga menyoroti kemajuan teknologi yang memungkinkan manusia memproduksi berlian di laboratorium tanpa harus menunggu proses geologis alami selama jutaan tahun.
“Kita telah membangun mesin besar yang mampu menciptakan kembali kondisi di dalam Bumi,” jelas Cleo saat membahas teknologi produksi material tersebut.
Kutipan tersebut perlu dicocokkan kembali dengan audio asli sebelum diterbitkan.
Secara umum, produksi berlian sintetis dapat dilakukan melalui dua metode utama, yaitu High-Pressure High-Temperature (HPHT) dan Chemical Vapor Deposition (CVD).
Metode HPHT menggunakan tekanan dan suhu tinggi untuk membentuk kristal berlian.
Sementara itu, CVD memanfaatkan gas yang mengandung karbon dalam kondisi tertentu untuk menumbuhkan lapisan berlian secara bertahap.
Kedua metode tersebut memungkinkan berlian dibuat untuk berbagai kebutuhan industri.
Namun, menghasilkan berlian dengan kualitas yang sesuai untuk aplikasi elektronik tetap membutuhkan proses produksi dan pengolahan yang cermat.
Produksi dan Biaya Masih Jadi Tantangan
Meski memiliki potensi besar, penggunaan berlian buatan sebagai material pendingin chip belum lepas dari sejumlah kendala.
Biaya produksi, kualitas material, serta teknik menghubungkan lapisan berlian dengan komponen elektronik menjadi beberapa hal yang perlu diatasi sebelum penerapannya dapat meluas.
Selain itu, kemampuan menghantarkan panas yang tinggi tidak otomatis membuat suatu material menjadi solusi pendinginan yang sempurna.
Desain perangkat, kualitas sambungan antarmaterial, dan sistem pembuangan panas secara keseluruhan tetap menentukan kinerja pendinginan.
Di luar pusat data AI, berlian sintetis juga berpotensi dimanfaatkan pada perangkat elektronik berdaya tinggi dan teknologi antariksa.
Berbagai aplikasi tersebut membutuhkan material yang mampu mengelola panas secara efisien dalam kondisi kerja yang menantang.
Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana material yang selama ini identik dengan kemewahan dapat memiliki fungsi penting di bidang teknologi.
Jika kendala produksi dan integrasi dapat diatasi, berlian buatan berpeluang menjadi salah satu pilihan untuk mendukung pengelolaan panas pada perangkat elektronik generasi berikutnya.
Dengan meningkatnya kebutuhan komputasi AI, penelitian terhadap material pendingin baru pun semakin relevan. Berlian bukan satu-satunya solusi, tetapi sifat termalnya menjadikannya kandidat yang menarik untuk terus dikembangkan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari