RADARBONANG.ID - Nama Persatu Tuban kembali mencuri perhatian publik sepak bola lokal.
Klub kebanggaan wong Tuban ini tengah bersiap menyongsong era baru setelah sempat absen dari kompetisi resmi sepanjang 2024.
Meski sempat tenggelam, harapan untuk kembali bersinar kini kembali menyala.
Kenangan kejayaan Persatu masih segar di ingatan masyarakat.
Tepat pada Minggu malam, 14 Desember 2014, di Stadion Sultan Agung Bantul, Persatu mencetak sejarah dengan menaklukkan Laga FC Surabaya 2-1 di final Piala Nusantara.
Trofi berbentuk wayang pun diboyong ke Bumi Ronggolawe dan diarak keliling kota, disambut euforia ribuan suporter.
Kemenangan itu menjadi tonggak awal kebangkitan Persatu sekaligus bukti bahwa sepak bola Tuban mampu bersaing di level nasional.
Kala itu, klub berjuluk Laskar Ronggolawe dianggap setara dengan tim-tim besar tetangga seperti Persibo Bojonegoro dan Persela Lamongan.
Namun, masa kejayaan itu tak bertahan lama. Setelah semusim berlaga di Liga 2, Persatu terdegradasi ke Liga 3, bahkan sempat terpuruk hingga Liga 4.
Direktur PT Persatu Tuban Putra, Fahmi Fikroni, mengenang masa itu dengan getir.
“Selama Persatu berlaga dari liga amatir sampai liga profesional, Piala Nusantara menjadi satu-satunya trofi yang dimiliki tim berjuluk Laskar Ronggolawe tersebut,” ujarnya.
Roni, sapaan akrab Fahmi Fikroni, menuturkan perjalanan keras timnya naik turun kasta.
Setelah promosi ke Liga 2 pada 2017, Persatu hanya bertahan satu musim.
Meski sempat bangkit lagi, nasib serupa terjadi pada 2019—terdegradasi ke Liga 3.
Pandemi 2020, pembatalan kompetisi 2022, hingga gagal lolos fase grup 2023 membuat langkah klub semakin berat.
“Puncaknya pada 2024 lalu, klub yang dulunya bermarkas di Stadion Loka Jaya ini absen dari kompetisi resmi sepak bola Indonesia karena kondisi manajemen yang semakin runyam,” ujar Roni.
Masalah terbesar, menurutnya, terletak pada aspek finansial. Minimnya sponsor membuat Persatu sulit bertahan.
“Dana dari Askab PSSI Tuban hanya Rp1,5 miliar, sementara keseluruhan biaya mencapai Rp3,6 miliar. Artinya, kami harus urunan Rp2 miliar,” ungkapnya.
Satu-satunya sponsor besar kala itu hanya datang dari PT Semen Indonesia Group (SIG) sebesar Rp200 juta.
Sementara, perusahaan lain disebut hanya memberikan bantuan kecil.
“Perusahaan lain itu hanya mendukung Rp10–15 juta saja. Bahkan ada yang hanya memberi Rp5 juta dan uangnya saya kembalikan,” katanya.
Roni juga tak menampik bahwa perjalanan panjang Persatu membuatnya sering jadi sasaran kritik.
“Seperti 2019 lalu, ketika kembali terdegradasi ke Liga 3, banyak tuntutan untuk saya mundur dari manajer. Tapi bagi saya itu tidak masalah, karena semua suara itu berdasarkan rasa cinta pada klub kebanggaan wong Tuban,” ujarnya.
Kini, secercah harapan baru muncul setelah pengusaha sekaligus anggota DPR RI Eko Wahyudi resmi mengambil alih pengelolaan klub.
“Kami percaya Mas Yudi mampu membawa Persatu lebih baik, dan tiga tahun lagi bisa promosi ke Liga 3,” harap Roni.
Untuk musim ini, manajemen baru tak menargetkan hasil muluk. Fokus utama adalah berpartisipasi di Liga 4 tanpa terkena sanksi dari Asprov.
Tahun depan, barulah Persatu menyiapkan target lebih tinggi.
“Harapan dari target kami, tahun kedua nanti bisa lolos ke tingkat nasional. Jika lolos di delapan besar, itu artinya bisa promosi Liga 3. Dan saya kira itu mudah untuk waktu tiga tahun,” pungkasnya.
Dengan semangat baru dan dukungan pengelolaan yang lebih solid, Persatu Tuban berharap dapat kembali ke jalur kejayaan seperti satu dekade silam. (*)
Editor : Amin Fauzie