RADARBONANG.ID - Film dokumenter terbaru berjudul “Yang (Tak Pernah) Hilang” hadir sebagai pengingat sejarah sekaligus memorialisasi perjuangan demokrasi di Indonesia.
Lewat kisah dua aktivis 98, Herman Hendrawan dan Petrus Bima Anugerah, yang hingga hari ini keberadaannya masih misterius, film ini mengajak publik menatap kembali luka lama yang belum juga terobati.
Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Pusat, Dandik Katjasungkana, menyebut film tersebut mendapat sambutan positif sejak diputar keliling di berbagai daerah.
“Kami keliling di beberapa tempat, universitas dan komunitas untuk memutar film dokumenter itu, mendapat respon yang sangat baik dari kalangan anak muda, bahkan sangat mengapresiasi,” ujar Dandik saat acara nonton bareng di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Selasa (30/9).
Durasi film yang mencapai dua jam ini bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga bentuk perjuangan menuntut kebenaran.
Film menampilkan rekonstruksi kehidupan Herman dan Bima, mulai dari masa kecil mereka di mata keluarga, perjuangan dalam gerakan mahasiswa, hingga detik-detik menjelang hilang pada masa akhir rezim Orde Baru.
Lebih dari 35 narasumber dilibatkan, mulai dari orang tua, saudara, kawan sekolah, rekan organisasi, dosen, hingga sesama aktivis partai politik.
Dari mereka, penonton diajak mengenal lebih dekat siapa sosok Herman dan Bima, dua aktivis yang saat itu tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID).
Menurut Dandik, film ini juga menjadi sarana mendesak negara agar menuntaskan kasus penghilangan paksa belasan aktivis 98 yang hingga kini tak jelas nasibnya.
“Film itu juga menjadi salah satu upaya agar pemerintah menuntaskan kasus penghilangan belasan aktivis yang kini belum diketahui nasibnya, apakah sudah meninggal atau masih hidup, yang jelas ini merupakan pelanggaran HAM berat,” tegasnya.
Selain itu, “Yang (Tak Pernah) Hilang” juga diharapkan bisa menjadi penyambung lidah bagi generasi muda.
Dandik menambahkan, “Kami ingin agar generasi di masa depan bisa mengingat sejarah dan mencegah tragedi pelanggaran HAM berat tersebut kembali terulang.”
Herman dan Bima ditangkap di lokasi berbeda pada 1998, tepat di masa genting menjelang tumbangnya Orde Baru.
Keduanya hilang bersama 11 aktivis lain, menjadikan kasus ini sebagai salah satu misteri terbesar sekaligus noda hitam dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Film dokumenter ini tak hanya menyajikan potret sejarah, melainkan juga menjadi pengingat kolektif bahwa perjuangan menegakkan demokrasi dan HAM di negeri ini masih belum selesai. (*)
Editor : Amin Fauzie