RADARBONANG.ID – Fenomena 'ain atau evil eye dikenal dalam berbagai kebudayaan sejak ribuan tahun lalu.
Kepercayaan terhadap pandangan mata yang dianggap membawa dampak buruk ditemukan dalam tradisi Mesopotamia, Mesir Kuno, Yunani, hingga Romawi.
Dalam Islam, 'ain juga dikenal sebagai fenomena yang keberadaannya ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Ungkapan “Al-'ainu haqqun” berarti bahwa 'ain itu nyata.
Baca Juga: Bukan Sekadar Simbol Keseimbangan, Ini Makna Yin dan Yang yang Sebenarnya
Dalam pemahaman Islam, pengaruh tersebut terjadi atas izin Allah SWT, bukan karena kekuatan mandiri dari pandangan seseorang.
Pembahasan mengenai fenomena ini diulas melalui kanal YouTube Jazirah Ilmu. Topik yang dibahas mencakup pengertian 'ain, perbedaannya dengan hasad atau dengki, hingga cara memohon perlindungan menurut ajaran Islam.
Memahami Perbedaan 'Ain dan Hasad
Secara bahasa, 'ain berarti mata. Dalam konteks ajaran Islam, istilah ini merujuk pada pengaruh buruk yang dikaitkan dengan pandangan seseorang dan dapat menimpa orang lain atas izin Allah SWT.
'Ain kerap disamakan dengan hasad, padahal keduanya memiliki pengertian berbeda.
Hasad merupakan rasa iri atau dengki terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, disertai keinginan agar nikmat tersebut hilang dari pemiliknya.
Sementara itu, 'ain tidak selalu dikaitkan dengan kebencian atau niat mencelakakan.
Dalam penjelasan keagamaan, pengaruh tersebut juga dapat dikaitkan dengan rasa kagum yang berlebihan terhadap sesuatu yang dilihat.
Karena itu, seseorang perlu membedakan perasaan iri, kekaguman, dan keyakinan tentang 'ain tanpa terburu-buru menyimpulkan bahwa suatu masalah disebabkan oleh pandangan orang lain.
Kepercayaan terhadap evil eye juga tercatat dalam sejarah berbagai peradaban. Mesir Kuno mengenal simbol Eye of Horus atau Wedjat yang digunakan sebagai simbol perlindungan.
Dalam kebudayaan Yunani dan Romawi, terdapat istilah serta benda pelindung yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap pandangan jahat.
Tradisi Yahudi juga mengenal istilah ayin hara, yang berkaitan dengan pandangan buruk atau kecemburuan terhadap keberhasilan seseorang.
Di kawasan Mediterania, simbol seperti Hamsa dan manik-manik mata biru atau nazar kerap digunakan sebagai pelindung menurut tradisi setempat.
Meski memiliki kemiripan dalam hal kepercayaan terhadap pandangan yang membawa keburukan, cara setiap kebudayaan memaknainya tidak selalu sama.
Dalam Islam, perlindungan dari 'ain ditekankan melalui doa dan permohonan kepada Allah SWT, bukan dengan menggantungkan perlindungan pada jimat atau benda tertentu.
Doa Perlindungan dan Pengobatan Menurut Islam
Salah satu langkah yang dianjurkan dalam pembahasan 'ain adalah mendoakan keberkahan ketika melihat sesuatu yang mengagumkan.
Ungkapan seperti “Maa syaa Allah, laa quwwata illa billah” dapat digunakan untuk mengingatkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT.
Namun, ungkapan tersebut perlu dipahami sesuai konteks dan tidak dianggap sebagai jaminan otomatis untuk mencegah setiap keburukan.
Selain itu, umat Islam dapat memohon perlindungan dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan doa yang diajarkan dalam tradisi Islam.
Surat Al-Falaq dan An-Naas, misalnya, berisi permohonan perlindungan dari berbagai bentuk kejahatan, termasuk kedengkian.
Jika seseorang merasa mengalami gangguan yang dikaitkan dengan 'ain, rukiah syar'iyyah dapat dilakukan melalui doa dan bacaan Al-Qur'an sesuai tuntunan agama.
Meski demikian, keluhan yang muncul tidak seharusnya langsung dianggap sebagai akibat 'ain tanpa mempertimbangkan penyebab lain.
Apabila terdapat gejala fisik atau gangguan kesehatan, pemeriksaan medis tetap penting dilakukan.
Keyakinan dan praktik keagamaan dapat berjalan berdampingan dengan upaya mencari pertolongan kesehatan yang sesuai.
Dengan memahami batasan tersebut, pembahasan 'ain tidak perlu berujung pada kecurigaan berlebihan terhadap orang lain.
Doa, ikhtiar, dan sikap rasional tetap menjadi bagian penting dalam menyikapi fenomena yang diyakini dalam ajaran agama maupun tradisi masyarakat. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari