RADARBONANG.ID – Pabrik gula peninggalan kolonial Belanda di berbagai wilayah Jawa kerap lekat dengan cerita mistis. Bangunan tua dengan lorong gelap dan mesin-mesin usang itu sering menjadi latar kisah horor.
Namun, di balik anggapan tersebut, terdapat sejarah panjang industri gula yang berkaitan dengan eksploitasi tenaga kerja pada masa penjajahan.
Kanal edukasi sejarah Flora Logia membahas kaitan antara mitos mistis di lingkungan pabrik gula dan kondisi sosial pada era kolonial.
Dalam ulasannya, tayangan tersebut menyoroti kemungkinan pemanfaatan kepercayaan terhadap hal gaib sebagai sarana untuk mengendalikan buruh.
Baca Juga: Perjalanan Teknologi dari Masa ke Masa, dari Alat Sederhana hingga Era Digital yang Mengubah Kehidup
"Tahayul dan mitos mistis sengaja dipelihara serta dimanfaatkan oleh orang Belanda untuk menjaga kontrol atas buruh tani, sekaligus menutupi jejak penderitaan dan eksploitasi manusia di balik kemegahan industri gula Jawa," bunyi narasi dalam video tersebut.
Penjelasan tersebut mengajak masyarakat melihat bangunan bekas pabrik gula bukan hanya melalui cerita horor yang berkembang, tetapi juga dengan memahami latar sejarah dan relasi kekuasaan yang pernah berlangsung di dalamnya.
Meski demikian, klaim bahwa pengelola Belanda secara sistematis memelihara mitos mistis untuk mengendalikan pekerja perlu ditelusuri melalui bukti sejarah yang lebih spesifik.
Hubungan antara cerita angker dan pengalaman pahit masa kolonial juga perlu dibedakan dari fakta yang terdokumentasi.
Industri Gula dan Penderitaan Buruh pada Masa Kolonial
Penerapan sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel sejak 1830 mengubah kehidupan ekonomi masyarakat Jawa.
Pemerintah Hindia Belanda mewajibkan desa-desa menanam komoditas ekspor tertentu, termasuk tebu di wilayah yang sesuai, untuk memenuhi kepentingan ekonomi kolonial.
Perkembangan industri gula mendorong pembangunan pabrik-pabrik berskala besar di sejumlah daerah.
Produksi gula menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi pemerintah kolonial dan pihak-pihak yang terlibat dalam perdagangan komoditas tersebut.
Namun, keuntungan ekonomi itu berjalan beriringan dengan beban berat yang ditanggung masyarakat.
Kewajiban produksi tanaman ekspor, pengerahan tenaga kerja, dan berbagai bentuk tekanan dalam pelaksanaan kebijakan kolonial menimbulkan persoalan sosial yang mendalam.
Lingkungan pabrik juga memiliki risiko kerja. Aktivitas penggilingan tebu dan pengoperasian mesin berat dapat membahayakan pekerja, sementara kondisi kerja pada masa itu tidak selalu memberikan perlindungan yang memadai.
Pengalaman penindasan dan kesulitan hidup tersebut menjadi bagian penting dari sejarah industri gula di Jawa.
Akan tetapi, cerita mengenai kecelakaan, kematian, atau pengalaman traumatis di lokasi tertentu perlu ditelusuri melalui catatan sejarah masing-masing pabrik agar tidak bercampur dengan legenda yang berkembang belakangan.
Dalam konteks ini, kisah keangkeran pabrik gula dapat dibaca sebagai bagian dari ingatan dan imajinasi masyarakat terhadap bangunan yang menyimpan sejarah panjang.
Meski begitu, cerita mistis tidak dengan sendirinya membuktikan adanya peristiwa gaib maupun praktik manipulasi yang dilakukan pengelola kolonial.
Mitos Mistis, Rasa Takut, dan Bangunan yang Terbengkalai
Unggahan video tersebut juga menyoroti bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap hal gaib berpotensi dimanfaatkan untuk membentuk perilaku.
Dalam lingkungan kerja yang ditandai ketimpangan kekuasaan, rasa takut dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tindakan seseorang.
Narasi mengenai tempat keramat, makhluk halus, atau larangan tertentu bisa berkembang melalui cerita lisan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jika rumor semacam itu sengaja dimanfaatkan oleh pihak yang memiliki kuasa, kepercayaan tersebut dapat berfungsi sebagai alat kontrol sosial.
Namun, untuk memastikan bahwa praktik tersebut benar-benar dilakukan di pabrik gula kolonial tertentu, diperlukan dokumen, kesaksian, atau sumber sejarah yang dapat diverifikasi.
Tanpa bukti tersebut, dugaan mengenai penggunaan mitos untuk mencegah pembangkangan pekerja sebaiknya diperlakukan sebagai interpretasi, bukan fakta sejarah yang telah dipastikan.
Setelah masa kolonial berakhir, sebagian bangunan pabrik gula mengalami perubahan fungsi, berhenti beroperasi, atau terbengkalai.
Arsitektur lama, ruang produksi yang luas, mesin yang tidak lagi digunakan, serta minimnya pencahayaan dapat memperkuat kesan menyeramkan bagi pengunjung.
Cerita horor, film, dan konten media sosial kemudian ikut membentuk citra pabrik gula tua di mata publik.
Dalam sejumlah kasus, popularitas kisah mistis bahkan lebih menonjol daripada sejarah ekonomi dan kehidupan pekerja yang pernah berlangsung di sana.
Memahami sejarahnya tidak berarti harus menerima setiap cerita mistis sebagai kebenaran. Sebaliknya, penelusuran sumber yang cermat dapat membantu memisahkan fakta, interpretasi, dan legenda sekaligus menjaga ingatan tentang pengalaman masyarakat pada masa kolonial. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari