RADARBONANG.ID – Di balik kaca bening di ruang utama Museum Kambang Putih Tuban, berdiri sebuah benda tua yang menjadi kebanggaan sekaligus kekhawatiran.
Kalpataru—artefak kayu jati yang dipercaya berasal dari abad ke-15 dan menjadi simbol kejayaan peradaban Islam era Sunan Bonang—perlahan mulai rapuh dimakan usia.
“Setiap kali dibersihkan, pasti ada bagian yang rontok. Dipegang sedikit saja sudah terlepas, jadi harus sangat hati-hati,” ujar Gilang Winarno Putra, staf Museum Kambang Putih.
Pernyataannya menggambarkan kondisi kritis salah satu masterpiece museum tertua di Bumi Wali itu.
Kalpataru yang dahulu menjadi ornamen di Pendopo Rante, kawasan barat kompleks Makam Sunan Bonang, kini lebih sering “disembunyikan” dalam lemari kaca tebal agar tetap aman dari sentuhan manusia dan udara lembap.
Perawatan Ekstra dengan Risiko Tinggi
Gilang mengaku, tim museum sudah berupaya maksimal melakukan perawatan rutin. Namun, usia material yang sudah ratusan tahun membuat tindakan konservasi tak bisa sembarangan.
“Benda ini dari kayu jati tua. Tidak memungkinkan diawetkan dengan metode modern karena justru bisa merusak teksturnya,” jelasnya.
Satu-satunya cara yang bisa dilakukan saat ini hanyalah pembersihan lembut secara berkala, serta pemberian obat antiserangga agar tidak ada organisme yang bersarang dan mempercepat kerusakan.
“Kami hanya bisa mencegah, tidak bisa diawetkan. Jadi, setiap pembersihan benar-benar harus teliti dan lembut,” imbuh Gilang.
Kerapuhan inilah yang membuat pihak museum tidak berani memindahkan Kalpataru untuk kebutuhan pameran luar ruangan.
Dalam berbagai event, pihaknya hanya menampilkan banner foto dan penjelasan sejarah, bukan benda aslinya.
“Membawa Kalpataru ke pameran sebenarnya berisiko meski dibawa di dalam lemari. Karena itu, kami memilih hanya memasang banner,” katanya.
Dilirik Seniman dan Kolektor Asing
Menariknya, Kalpataru yang bentuknya menyerupai pohon kehidupan ini sempat menarik perhatian kalangan seniman dan kolektor.
Seorang seniman asal Yogyakarta bahkan pernah datang langsung untuk meneliti dan berencana membuat replikanya.
“Sudah kami perbolehkan. Tapi entah kenapa, sampai sekarang belum ada kelanjutan,” ujar Gilang.
Tak hanya itu, minat terhadap artefak ini datang hingga dari luar negeri. Seorang kurator asing disebut menawar Kalpataru seharga Rp 2 miliar, angka fantastis untuk benda berukuran tak lebih dari dua meter itu. Namun, pihak museum tegas menolak.
“Kalpataru sudah jadi ikon Tuban, bukan sekadar benda. Nilai sejarahnya jauh lebih besar daripada uang,” tegas Gilang.
Menjaga Napas Warisan Sunan Bonang
Bagi masyarakat Tuban, Kalpataru bukan sekadar artefak. Ini adalah simbol peradaban spiritual dan seni Islam Jawa pada masa penyebaran ajaran Sunan Bonang.
Ukirannya yang rumit melambangkan kehidupan, kesuburan, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Kini, benda sakral itu tengah berpacu dengan waktu. Setiap serpihan kayu yang rontok bukan sekadar kehilangan materi, tapi juga bagian dari jejak sejarah Bumi Wali.
“Perawatan ekstra menjadi kunci agar peninggalan sejarah era Sunan Bonang ini dapat tetap dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang,” tandas Gilang. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah