Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Terungkap! Museum Kambang Putih Tuban Simpan Naskah Ramalan Jawa dari Abad ke-18, Lebih Tua dari Tarot dan Zodiak!

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 10 November 2025 | 17:38 WIB
Ilustrasi lemari kayu berisi manuskrip daun lontar bertuliskan aksara Jawa, menggambarkan naskah ramalan Kita Mangko abad ke-18.
Ilustrasi lemari kayu berisi manuskrip daun lontar bertuliskan aksara Jawa, menggambarkan naskah ramalan Kita Mangko abad ke-18.

RADARBONANG.ID – Di tengah gempuran konten ramalan tarot, zodiak, dan astrologi yang bertebaran di media sosial, ternyata Tuban punya versi lokalnya sendiri — dan jauh lebih tua.

Namanya Naskah Kita Mangko, sebuah manuskrip kuno dari abad ke-18 yang kini disimpan di Museum Kambang Putih.

Isinya? Ramalan hidup dan nasib manusia, lengkap dengan pertanda naik-turun derajat hingga datangnya bencana.

Dari luar, bentuknya sederhana: daun lontar tipis yang sudah menguning dimakan usia.

Tapi di balik lembar demi lembar lontar itu, tersimpan warisan spiritual dan pengetahuan Jawa kuno yang nyaris terlupakan.

“Naskah Kita Mangko ditulis pada abad ke-18 menggunakan aksara Jawa baru dan bermediakan daun lontar. Terdiri dari 72 lembar, masing-masing memuat jenis ramalan yang berbeda,” ungkap Deni Anto, staf Museum Kambang Putih.

Beberapa di antaranya mencatat ramalan tentang nasib dan bencana.

Misalnya, “Jinujung Drajat Kita Mengko” yang dipercaya menandakan peningkatan derajat seseorang, serta “Lamppaheb Mangging Bencana Kita Mengko” yang menjadi pertanda datangnya musibah bagi yang diramal.

Ramalan Jawa: Sebelum Tarot dan Zodiak Ada

Tak seperti tarot yang memakai simbol atau gambar, Kita Mangko berisi teks berbahasa Jawa dengan gaya tutur yang puitis.

Namun sayangnya, makna mendalam dari naskah ini sebagian besar telah hilang bersama para penafsirnya.

“Sayangnya kami tidak tahu pasti arti dari Kita Mangko dan bagaimana penggunaannya. Tidak ada panduan tertulis yang tersisa. Yang kami tahu, ramalan ini didasarkan pada hari kelahiran atau pakuwon jakun,” jelas Deni.

Pada masa lalu, naskah ini kemungkinan dibaca oleh sesepuh atau ahli ramal Jawa, yang memahami filosofi di balik tiap kata dan simbol.

Mereka berperan layaknya pembaca kartu tarot masa kini — sosok yang dipercaya masyarakat untuk memberi arah hidup, petunjuk rezeki, hingga solusi atas masalah pribadi.

Usia Tiga Abad, Masih Bertahan di Tuban

Deni menambahkan, Kita Mangko adalah salah satu koleksi tertua di Museum Kambang Putih. Naskah itu bahkan disebut sudah ada sejak masa awal masuknya Islam di Tuban.

“Kami tidak memiliki catatan apakah naskah ini hasil hibah atau temuan. Yang jelas sejak 1984 sudah berada di Pendopo sebelum akhirnya dipindah ke Museum Kambang Putih pada 1996,” terangnya.

Lebih menarik lagi, naskah ini bukan satu-satunya peninggalan “ramalan Jawa” yang masih eksis.

Ada pula Naskah Kite Mengke, koleksi Perpustakaan Nasional, yang usianya bahkan lebih tua dan ditulis dalam bahasa Sanskerta di atas bambu.

“Dalam naskah Kite Mengke, penyebutan Tuhan masih menggunakan istilah dewata, jadi besar kemungkinan berasal dari masa Hindu-Buddha,” jelasnya.

Warisan Leluhur yang Tergeser Zodiak

Ironisnya, generasi muda masa kini justru lebih akrab dengan zodiak dan tarot dari TikTok dibanding warisan leluhur sendiri.

“Sekarang yang populer di media sosial kan tarot dan zodiak. Jarang yang tahu kalau kita punya warisan ramalan sendiri,” ujar Deni.

Padahal, naskah seperti Kita Mangko bukan sekadar alat meramal.

Ia adalah catatan budaya, sistem kepercayaan, dan pandangan hidup masyarakat Jawa kuno — bagaimana mereka menafsirkan alam, takdir, dan perjalanan hidup manusia.

Staf Museum Kambang Putih Tuban memperlihatkan naskah kuno Kita Mangko dari daun lontar berisi ramalan hidup abad ke-18.
Staf Museum Kambang Putih Tuban memperlihatkan naskah kuno Kita Mangko dari daun lontar berisi ramalan hidup abad ke-18.

Kini, naskah itu tersimpan rapi di ruang khusus Museum Kambang Putih, bersama lebih dari 50 naskah kuno lainnya.

“Untuk jumlah pastinya saya kurang tahu, yang jelas lebih dari 50 lembar. Naskah kuno itu dihitung per lembarnya, sementara manuskrip atau buku kuno dihitung per jilidnya,” pungkas Deni.

Di tengah derasnya modernisasi, keberadaan Kita Mangko seolah jadi pengingat: bahwa sebelum kita mengenal tarot dan bintang-bintang Barat, leluhur kita sudah lebih dulu menatap langit dan membaca nasib lewat daun lontar. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Museum Kambang Putih Tuban #manuskrip kuno Tuban #naskah ramalan Jawa #kita Mangko #warisan budaya Jawa