RADARBONANG - Selama ini, nama Kutai di Kalimantan Timur dan Tarumanagara di Jawa Barat selalu disebut sebagai kerajaan tertua dalam sejarah Indonesia.
Namun, penelitian dan kisah tradisi lisan menyingkap adanya kerajaan lain yang diduga lebih tua, yakni Nan Sarunai, yang jejaknya kini tersisih dari buku sejarah resmi.
Baca Juga: 5 Tahun Pencak Silat Mendunia: Dari Langgar Kampung ke Panggung UNESCO
Jejak Kuno di Kalimantan Selatan
Kerajaan Nan Sarunai banyak hidup dalam ingatan masyarakat Dayak Maanyan. Situs Candi Agung di Amuntai, Hulu Sungai Utara, menjadi salah satu petunjuk penting.
Penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin menemukan sisa arang di lokasi tersebut yang melalui uji radiokarbon diperkirakan berasal dari 242–226 SM.
Jika benar, maka peradaban di daerah itu muncul jauh sebelum Kutai (abad ke-4 Masehi) dan Tarumanagara (abad ke-5 Masehi).
Walau demikian, sebagian ahli berpendapat temuan itu hanya membuktikan adanya aktivitas manusia purba, bukan serta merta berdirinya kerajaan. Perdebatan ini menunjukkan betapa rumitnya mengungkap sejarah awal Nusantara.
Dihancurkan Majapahit
Tradisi lisan Banjar dan Dayak menyebut Nan Sarunai sebagai kerajaan makmur yang kemudian hancur oleh serangan Majapahit sekitar abad ke-14.
Catatan naskah lokal menyinggung periode 1355–1362, saat pasukan Majapahit menghancurkan Nan Sarunai dalam ekspansi politiknya. Setelah runtuh, wilayah tersebut berkembang menjadi Negara Dipa di bawah Empu Jatmika yang berhubungan erat dengan Majapahit.
Pentingnya Nan Sarunai tidak hanya dalam skala politik, tetapi juga kultural. Sejarawan Fridolin Ukur menyebut kerajaan ini sebagai pusat awal masyarakat Dayak Maanyan, yang kemudian memberi pengaruh pada terbentuknya identitas masyarakat Banjar.
Mengapa Tersingkir dari Sejarah?
Ada beberapa alasan mengapa Nan Sarunai jarang disebut dalam narasi sejarah arus utama:
-
Minim bukti tertulis: tidak ada prasasti batu atau naskah kontemporer yang bisa memperkuat eksistensi kerajaan.
-
Dominasi kerajaan besar: Kutai, Tarumanagara, Sriwijaya, dan Majapahit memiliki catatan sejarah lebih lengkap sehingga lebih mudah dikenal.
-
Keterbatasan penelitian: ekskavasi arkeologi di Kalimantan belum seintensif di Jawa atau Sumatra.
Kondisi ini membuat Nan Sarunai hanya bertahan lewat cerita rakyat dan sisa arkeologi yang masih samar.
Pentingnya Penelitian Lanjutan
Para arkeolog menilai bahwa Nan Sarunai tetap perlu diperhitungkan. Ekskavasi lanjutan, penanggalan karbon modern, serta kajian lintas disiplin bisa membuka tabir lebih jelas.
Jika bukti-bukti arkeologis semakin kuat, bukan mustahil Nan Sarunai akan diakui sebagai salah satu kerajaan tertua Nusantara.
Lebih dari sekadar bukti sejarah, Nan Sarunai adalah simbol kebanggaan bagi masyarakat lokal. Ia menjadi pengingat bahwa peradaban Indonesia jauh lebih tua dan kompleks dibanding yang selama ini tercatat dalam buku pelajaran.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah