TUBAN-Wisata Air Terjun Nglirip di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur lebih dikenal dengan mitos dan legenda Putri Nglirip-nya.
Saking masyhurnya cerita tersebut, sejarah kejayaan Air Terjun Nglirip yang sempat difungsikan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) nyaris tak pernah terdengar.
Pegiat sejarah Tuban, Abdul Rosyid mengungkapkan, Air Terjun Nglirip yang berbatasan langsung dengan wilayah hutan Kecamatan Montong merupakan pusat kegiatan hidrologis.
‘’Pada akhir abad XVIII, Belanda memandang wilayah tersebut sebagai lokasi yang potensial untuk teknologi perairan,’’ ujar Ocid, sapaan akrabnya, mengutip sejumlah literasi sejarah.
Dia mengatakan, potensi tersebut disadari Belanda setelah mengetahui Air Terjun Nglirip merupakan terjunan beberapa sungai di hutan Distrik Montong yang menjadi satu.
Terjunan tersebut cukup terjal. Badan sungai di atas terjunan juga menyempit dan diapit dua sisi tebing.
Karena itu, kata Ocid, ketika volume air Sungai Nglirip tidak terlalu banyak, arus air yang terjun tetap deras.
Derasnya arus inilah yang menarik perhatian Belanda untuk merencanakan air terjun menjadi bendungan.
‘’Pembangunan bendungan merupakan proyek sekunder. Proyek primernya adalah pembangkit listrik tenaga air,’’ papar pria yang berdomisili di Desa Tunggulrejo, Kecamatan Singgahan itu.
Ocid menyampaikan, belum diketahui persis kapan bendungan dan PLTA Nglirip mulai dikerjakan.
Peresmian proyeknya tercatat pada 1891 dan izin operasi PLTA selama 40 tahun.
Catatan tersebut bisa dilihat di salah satu prasasti yang melekat pada konstruksi bangunan bendungan Nglirip.
Dia menyampaikan, pada era tersebut, Kecamatan Singgahan, utamanya Desa Mulyoagung merupakan daerah yang maju.
‘’Teknologi PLTA pada zaman itu sangat wah. Tidak sembarang daerah memiliki pembangkit listrik,’’ ujarnya.
Muhammad Nahrus, warga Desa Mulyoagung menambahkan, sewaktu kecil, dirinya mendapat cerita tentang PLTA Nglirip dari para sepuhnya.
Dia menyebut bukti keberadaan orang-orang Belanda di kawasan Air Terjun Nglirip masih tersisa.
‘’Pada 1995—1996, di sekitar bendungan terdapat dua hingga tiga rumah loji. Lokasinya di atas bendungan yang berada di dekat tebing jalan menuju Jojogan,’’ kenang pria yang juga seniman patung itu.
Dia memerkirakan rumah-rumah loji tersebut merupakan rumah dinas pegawai Belanda yang mengurus Bendungan Nglirip.
Sebab, rumah-rumah loji tersebut mempunyai kemiripan bentuk antara satu dan lainnya.
‘’Rumah loji itu seperti milik perusahaan atau pemerintahan. Bukan milik perorangan,’’ tuturnya. Sekarang, rumah-rumah loji tersebut tanpa sisa.
Lebih lanjut Nahrus mengungkapkan, sewaktu kecil, dirinya melihat area sekitar rumah-rumah loji tersebut dijadikan sebagai taman bermain.
Lengkap dengan fasilitas permainan anak seperti ayunan.
Saat ini, yang masih tersisa dari sejarah PLTA Nglirip tinggal konstruksi bendungan. (*)