RADARBONANG.ID – Pernah ada masa ketika ketinggalan nongkrong satu kali saja terasa seperti kehilangan dunia.
Grup chat ramai, unggahan story berseliweran, lalu muncul satu perasaan klasik: FOMO (Fear of Missing Out). Tak ikut berarti tertinggal. Tak hadir berarti tak relevan.
Namun kini, suasananya berubah. Anak muda justru mulai santai berkata, “Nggak ikut nggak apa-apa.”
Dari sinilah muncul satu fenomena baru yang pelan tapi pasti menggeser budaya FOMO: JOMO (Joy of Missing Out)—kesenangan saat memilih absen tanpa rasa bersalah.
Baca Juga: Bahaya Mengintai Akun Anda, Inilah Deretan Password yang Paling Sering Digunakan
Ketika Ketinggalan Tak Lagi Menakutkan
Fenomena JOMO mencerminkan perubahan cara Gen Z memandang hidup. Tak semua undangan harus dipenuhi.
Tak semua tren harus diikuti. Dan tak semua momen perlu dipamerkan di media sosial.
Alih-alih takut tertinggal, banyak anak muda justru merasa lega ketika melewatkan sesuatu. Lega tidak harus keluar rumah. L
ega tidak perlu dandan hanya demi unggahan. Lega tidak harus selalu “hadir” di setiap keramaian.
Diam di rumah, menonton ulang serial favorit, membaca buku, atau tidur lebih cepat kini terasa seperti kemewahan. Sesuatu yang dulu dianggap “nggak produktif”, kini justru dirayakan.
Capek Ikut Tren, Gen Z Pilih Diri Sendiri
JOMO lahir dari kelelahan kolektif. Terlalu lama hidup dalam tekanan sosial—harus seru, harus sibuk, harus terlihat menikmati hidup setiap saat.
Gen Z mulai menyadari bahwa ikut semua hal justru membuat cepat habis.
Habis energi karena terlalu sering keluar.
Habis uang karena gengsi sosial.
Dan yang paling berbahaya: habis mental.
Di titik inilah, memilih absen menjadi bentuk perawatan diri paling jujur. Bukan karena malas, tapi karena sadar batas.
Bukan Anti Sosial, Tapi Lebih Sadar
Salah kaprah terbesar tentang JOMO adalah anggapan bahwa penganutnya anti sosial. Padahal, JOMO bukan tentang menjauh dari dunia, melainkan memilih dengan sadar.
Datang ke acara yang memang ingin dihadiri. Bertemu orang yang benar-benar ingin ditemui. Mengatakan “nggak dulu” tanpa rasa bersalah dan tanpa perlu alasan panjang.
JOMO mengajarkan satu pelajaran penting yang sering terlupakan: waktu dan energi itu terbatas. Dan tidak semua orang berhak mendapatkannya.
Media Sosial Tak Lagi Jadi Penentu Bahagia
Jika dulu unggahan orang lain bisa merusak mood seharian, kini banyak anak muda memilih bersikap cuek.
Bahkan, tak sedikit yang sengaja mengurangi waktu scrolling, membatasi akun yang diikuti, hingga mematikan notifikasi.
Dalam perspektif JOMO, hidup bukan tentang apa yang dilewatkan, melainkan tentang apa yang dipilih untuk dijaga.
Kesehatan mental, ketenangan, dan hubungan yang bermakna jadi prioritas baru.
JOMO, Gaya Hidup Baru yang Terlihat ‘Mahal’
Menariknya, JOMO justru menciptakan kesan eksklusif. Bukan karena sibuk, tapi karena selektif. Bukan karena anti ramai, tapi karena menghargai diri sendiri.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan bising, kemampuan untuk melambat terasa seperti kemewahan baru.
Dan JOMO menawarkan ruang itu—ruang untuk bernapas tanpa tekanan sosial.
Dari Takut Ketinggalan, Kini Takut Kehilangan Diri
Jika FOMO membuat orang sibuk mengejar momen, JOMO mengajak orang menjaga makna. Bukan soal hadir di mana, tapi merasa utuh di mana pun berada.
Baca Juga: Jangan Abaikan Super Flu Picu Gagal Organ pada Komorbid, Ini Tanda Bahayanya
Anak muda kini mulai bertanya pada diri sendiri: apakah ini benar-benar aku inginkan, atau hanya takut dibilang ketinggalan? Dan sering kali, jawabannya sederhana: nggak ikut juga nggak apa-apa.
JOMO Bukan Malas, Tapi Matang
JOMO bukan tanda menyerah pada dunia. Justru sebaliknya, ini tanda kedewasaan emosional. Mampu berkata tidak, tanpa perlu pembenaran.
Karena kini, kebahagiaan tak lagi selalu datang dari keramaian, melainkan dari keputusan sadar untuk merasa cukup. Dan mungkin, itulah definisi sukses versi baru anak muda hari ini.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah