Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Gajah di Taman Nasional Tesso Nilo Riau Kini Hanya Tersisa 150 Ekor, Hutannya Terus Menyusut

Muhammad Azlan Syah • Rabu, 3 Desember 2025 | 00:05 WIB

TIm Flying Squad bersama beberapa ekor gajah jinak berjalan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, yang kian menyusut akibat perambahan dan kebakaran hutan dan lahan.
TIm Flying Squad bersama beberapa ekor gajah jinak berjalan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, yang kian menyusut akibat perambahan dan kebakaran hutan dan lahan.

RADARBONANG.ID - Populasi gajah Sumatera di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, dilaporkan terus menurun dan kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 150 ekor.

Angka ini menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, mengingat kawasan tersebut merupakan habitat penting bagi satwa liar besar, sekaligus benteng terakhir hutan hujan tropis dataran rendah Sumatra yang tersisa.

Penurunan populasi gajah dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari menyusutnya luas hutan, meningkatnya konflik satwa dan manusia, serta maraknya alih fungsi kawasan konservasi menjadi perkebunan.

Baca Juga: Otak Bruce Willis Akan Didonasikan untuk Penelitian Demensia: Warisan Besar dari Sang Aktor Legendaris

Kenapa Tesso Nilo Penting — Bukan Sekadar Hutan Biasa

Taman Nasional Tesso Nilo dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi yang menyimpan tingkat keanekaragaman hayati tinggi.

Namun dalam dua dekade terakhir, kawasan ini mengalami tekanan berupa perambahan dan perluasan kebun sawit yang semakin mendesak ruang hidup satwa.

Fragmentasi habitat membuat gajah kehilangan jalur jelajah, berkurangnya ketersediaan pakan, serta meningkatnya risiko masuk ke kawasan permukiman atau perkebunan warga.

Kondisi ini menjadi salah satu pemicu konflik yang berujung pada kematian satwa maupun kerugian bagi masyarakat.

Data dari pengelola taman nasional menunjukkan bahwa penurunan populasi bukan hanya disebabkan oleh penyusutan hutan, tetapi juga akibat kematian gajah yang terjadi karena jerat, perburuan, keracunan, hingga kecelakaan di area yang seharusnya menjadi hutan lindung.

Dalam rentang sepuluh tahun terakhir, puluhan gajah ditemukan mati di sekitar TNTN. Peristiwa ini memperlihatkan lemahnya pengawasan serta sulitnya mengendalikan aktivitas ilegal di kawasan hutan negara.

Di sisi lain, maraknya perambahan lahan untuk perkebunan sawit menjadi faktor terbesar yang mempercepat kerusakan ekosistem.

Banyak area yang secara legal merupakan kawasan konservasi berubah fungsi menjadi kebun tanpa adanya penanganan memadai.

Pembukaan lahan secara besar-besaran menyebabkan hutan primer menyusut dengan cepat, padahal hutan jenis ini merupakan rumah utama bagi gajah dan satwa besar lainnya.

Hutan yang terdegradasi juga lebih rentan terhadap kebakaran, sehingga memperparah hilangnya habitat secara keseluruhan.

Tanggapan Pemerintah: Restorasi untuk Selamatkan Habitat

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan akan mempercepat upaya restorasi ekosistem di kawasan Tesso Nilo.

Program yang disiapkan mencakup pemulihan hutan yang rusak, penanaman kembali pohon, serta penguatan pengawasan terhadap kegiatan yang berpotensi merusak kawasan.

Restorasi awal difokuskan pada titik-titik yang mengalami degradasi paling parah, sekaligus membangun ulang jalur jelajah satwa yang terputus akibat alih fungsi lahan.

Pemerintah juga menekankan pentingnya penegakan hukum untuk mencegah masuknya kebun ilegal ke dalam taman nasional.

Tantangan dan Jalan ke Depan

Meski demikian, tantangan yang dihadapi tidak sederhana. Konflik kepentingan antara kebutuhan ekonomi dan konservasi masih tinggi, ditambah keberadaan masyarakat yang telah lama tinggal di sekitar kawasan dengan ketergantungan terhadap lahan.

Di sejumlah daerah, klaim kepemilikan lahan juga tumpang tindih dengan status kawasan konservasi.

Tantangan lain adalah keterbatasan tenaga pengawas di lapangan yang belum sebanding dengan luas kawasan hutan yang harus dijaga.

Para pemerhati lingkungan menilai bahwa penyelamatan populasi gajah di Tesso Nilo tidak dapat dilakukan hanya melalui restorasi hutan, tetapi juga dengan memperbaiki tata kelola lahan di tingkat daerah.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Sehari-Hari yang Tanpa Disadari Bisa Memperparah Autoimun, Nomor 3 Sering Banget Dilakukan!

Penguatan regulasi, peninjauan ulang perizinan, serta transparansi informasi mengenai status kawasan dianggap penting untuk mencegah perluasan perkebunan ilegal.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai pentingnya pelestarian hutan dan pencegahan konflik satwa juga perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Dengan tersisanya hanya sekitar 150 ekor gajah, masa depan satwa ini di Tesso Nilo kini berada pada titik kritis. Jika kerusakan habitat tidak segera dihentikan, risiko penurunan populasi akan semakin besar.

Tesso Nilo adalah bagian penting dari ekosistem Sumatra yang tidak hanya menopang kehidupan gajah, tetapi juga berbagai jenis flora dan fauna endemik.

Upaya penyelamatan kawasan ini menjadi tanggung jawab bersama, mengingat kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada satwa, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan kehidupan manusia di masa mendatang.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Gajah Tesso Nilo #Konflik manusia dan gajah #Kerusakan hutan Riau #Populasi gajah Sumatra #Perambahan Taman Nasional Tesso Nilo