Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Air Tanah Tidak Selalu Aman untuk Dijadikan Air Minum Dalam Kemasan, Pakar IPB Ingatkan Hal Ini

Amin Fauzie • Selasa, 16 September 2025 | 03:25 WIB
Ilustrasi: Salah satu produksi lokal air minum dalam kemasan.
Ilustrasi: Salah satu produksi lokal air minum dalam kemasan.

RADARBONNAG.ID - Profesor Departemen Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Suprihatin, menegaskan bahwa tidak semua air tanah layak dijadikan bahan baku Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).

“Air tanah tidak sama di satu daerah dengan daerah lainnya. Air di perkotaan dengan aktivitas padat jelas berbeda dengan air di pegunungan yang terlindungi vegetasi dan minim campur tangan manusia," ujarnya, Senin (15/9).

Menurut Prof. Suprihatin, kualitas air sangat dipengaruhi lokasi, kondisi lingkungan, serta aktivitas manusia di sekitarnya.

Air tanah dangkal memiliki risiko pencemaran lebih tinggi karena dekat dengan permukaan dan mudah terinfiltrasi limbah.

Di perkotaan, air tanah kerap mengandung kontaminan seperti limbah domestik, pestisida, dan logam berat, sehingga proses pengolahan untuk layak minum lebih sulit dan mahal dibandingkan air pegunungan.

Penelitian di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Malang menunjukkan kualitas air tanah terus menurun.

Total zat terlarut (TDS) di beberapa lokasi bahkan setara dengan air sungai yang tercemar akibat limbah rumah tangga, industri, dan sanitasi yang buruk.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2017 menegaskan standar baku mutu air minum, namun survei lapangan menemukan banyak sumur dangkal di pemukiman padat penduduk yang tidak memenuhi parameter fisik, kimia, maupun mikrobiologi, sehingga meningkatkan risiko penyakit menular hingga dampak kronis logam berat.

Meski teknologi pengolahan modern seperti filtrasi, reverse osmosis, disinfeksi ultraviolet, hingga ozonisasi banyak dipakai untuk menurunkan kontaminan, sumber mata air alami tetap lebih bersih.

“Air tanah dalam dan mata air pegunungan cenderung lebih aman karena melewati proses filtrasi alami. Namun, setiap sumber tetap harus diperiksa karena adanya risiko kontaminan masuk hingga ke lapisan dalam akuifer," jelas Prof. Suprihatin.

Pakar IPB ini menekankan pentingnya pelestarian lingkungan dan pengelolaan limbah di hulu untuk menjaga kualitas air.

Masyarakat pun diingatkan agar tidak menganggap semua sumur air tanah aman tanpa pengujian.

Pemeriksaan rutin terhadap kualitas air perlu dilakukan bahkan di daerah pegunungan, karena aktivitas manusia tetap bisa memengaruhi.

“Sumber air pegunungan yang terlindungi alam terbukti lebih layak menjadi bahan baku air minum. Tantangan terbesar adalah memastikan keberlanjutan pasokan sekaligus menjaga kualitasnya agar tetap sesuai standar kesehatan," ucapnya.

Air minum yang aman bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga kualitas yang dijaga melalui pengawasan dan perlindungan sumber air dari hulu hingga hilir. (*)

Editor : Amin Fauzie
#ipb #pegunungan #Perkotaan #Air Minum Dalam Kemasan