Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

‘Darurat Rokok’ di Indonesia Disorot Dunia! Ilmuwan Global Bahas Strategi Cerdas Selamatkan Jutaan Nyawa

Tulus Widodo • Selasa, 17 Juni 2025 | 02:40 WIB
Butuh strategi baru yang lebih ilmiah dan realistis untuk cara mengurangi dampak buruk rokok di tengah angka perokok tetap tinggi terutama di kalangan muda Indonesia. Foto adalah ilustrasi.
Butuh strategi baru yang lebih ilmiah dan realistis untuk cara mengurangi dampak buruk rokok di tengah angka perokok tetap tinggi terutama di kalangan muda Indonesia. Foto adalah ilustrasi.

RADARBONANG.ID – Indonesia kembali jadi sorotan dunia. Bukan karena prestasi olahraga atau budaya, melainkan karena statusnya sebagai negara dengan jumlah perokok ketiga terbanyak di dunia!

Ironisnya, jutaan jiwa terus terancam setiap tahunnya oleh bahaya laten tembakau.

Melihat situasi ini, ratusan ilmuwan, akademisi, dokter, dan pakar kesehatan dari berbagai negara berkumpul dalam sebuah agenda penting bertajuk Asia-Pacific Conference on Harm Reduction 2025 yang digelar di Kota Bandung.

Tak sekadar konferensi, forum ini menjadi titik balik penting untuk mengubah pendekatan lama dalam pengendalian rokok yang dinilai gagal menyentuh akar persoalan.

Meski regulasi iklan, kampanye anti rokok, dan kenaikan cukai terus digencarkan, angka perokok di Indonesia justru tetap tinggi—terutama di kalangan muda.

Mengapa? Menurut para ahli, pendekatan konvensional sudah tidak relevan dan harus dikombinasikan dengan strategi baru yang lebih ilmiah dan realistis.

“Kita sudah terlalu lama terjebak dalam pola pikir hitam-putih soal rokok. Padahal di lapangan, jutaan orang sulit berhenti dan butuh jembatan keluar,” ujar Prof. Rizki Abdulah, Wakil Rektor Unpad bidang Riset dan Kerja Sama.

Alih-alih sekadar melarang, pendekatan harm reduction justru menawarkan cara mengurangi dampak buruk rokok dengan menghadirkan alternatif nikotin yang lebih rendah risiko, tanpa menutup upaya berhenti total sebagai tujuan utama.

“Ini bukan tentang menyerah pada rokok. Ini tentang menyelamatkan lebih banyak nyawa dengan langkah yang lebih manusiawi dan ilmiah,” kata Prof. Riccardo Polosa, pendiri CoEHAR dan pakar penyakit dalam dari Universitas Catania, Italia.

Konferensi ini tidak hanya bicara teori. Hadir pula program kolaboratif antara Unpad dan Universitas Catania, seperti REPLICA Project yang meneliti efektivitas strategi cara mengurangi dampak buruk rokok.

Tak ketinggalan, peluncuran Talent Research Award untuk mendukung peneliti muda di negara berkembang agar bisa memimpin studi berbasis bukti.

“Kita butuh data, bukan dogma. Sains bisa menyelamatkan kita, tapi hanya jika ada keberanian untuk berubah,” tegas Prof. Amaliya dari Fakultas Kedokteran Gigi Unpad.

Data WHO mencatat, rokok membunuh lebih dari 8 juta jiwa tiap tahun.

Dan lebih dari 70 zat dalam asapnya terbukti bersifat karsinogenik.

Yang lebih miris, anak-anak dan perempuan jadi korban pasif paling rentan di rumah-rumah kita sendiri.

Sayangnya, Indonesia belum punya regulasi komprehensif untuk mengatur produk tembakau alternatif—padahal negara lain sudah jauh melangkah.

Konferensi internasional ini menjadi harapan baru: bukan lagi tentang melawan rokok semata, tapi soal bagaimana menyelamatkan manusia dari jerat adiksi secara nyata dan terukur.

“Ini bukan soal menang debat metode. Ini soal siapa yang bisa menyelamatkan lebih banyak jiwa,” tandas Prof. Polosa, yang mendapat standing ovation dalam sesi penutup. (*)

Editor : Amin Fauzie
#kenaikan cukai #Angka Perokok di Indonesia #alternatif nikotin #Harm Reduction 2025 #produk tembakau #cara mengurangi dampak buruk rokok #strategi baru yang lebih ilmiah