Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Fenomena Quiet Quitting Semakin Ramai, Saat Banyak Pekerja Memilih Kerja Secukupnya Demi Kesehatan Mental

M. Afiqul Adib • Senin, 25 Mei 2026 | 14:26 WIB
Kerja secukupnya kini jadi pilihan banyak orang demi menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup (Photo by Markus Winkler on Unsplash)
Kerja secukupnya kini jadi pilihan banyak orang demi menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup (Photo by Markus Winkler on Unsplash)

RADARBONAG.ID - Istilah quiet quitting belakangan semakin ramai diperbincangkan di media sosial hingga lingkungan kerja profesional.

Fenomena ini muncul ketika banyak pekerja memilih menjalankan tugas sesuai tanggung jawab tanpa berusaha melakukan lebih dari yang diminta perusahaan.

Meski namanya mengandung kata “quitting”, quiet quitting sebenarnya bukan berarti seseorang berhenti bekerja atau mengundurkan diri dari kantor.

Istilah tersebut lebih menggambarkan sikap pekerja yang mulai menolak budaya kerja berlebihan atau hustle culture yang selama ini dianggap normal.

Para pekerja tetap datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan sesuai target, dan menjalankan tugas berdasarkan deskripsi kerja mereka.

Baca Juga: Pelaku Body Shaming Bisa Dipenjara 5 Tahun, Ini Ancaman Hukum Tegas bagi Perundungan Fisik di Indonesia

Namun, mereka tidak lagi ingin terus-menerus lembur, selalu siap dihubungi di luar jam kerja, atau mengorbankan kehidupan pribadi demi pekerjaan.

Fenomena ini kemudian memicu perdebatan besar. Sebagian orang menganggap quiet quitting sebagai langkah sehat untuk menjaga keseimbangan hidup, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai tanda menurunnya semangat kerja.

Muncul karena Banyak Pekerja Mengalami Kelelahan

Quiet quitting tidak muncul tanpa alasan. Banyak pekerja modern merasa kelelahan akibat tekanan kerja yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

Target tinggi, tuntutan produktivitas tanpa henti, hingga budaya kerja yang menganggap lembur sebagai bentuk loyalitas membuat banyak orang mengalami burnout secara mental maupun fisik.

Dalam kondisi seperti itu, sebagian pekerja mulai merasa bahwa pekerjaan telah mengambil terlalu banyak ruang dalam hidup mereka.

Tidak sedikit karyawan yang merasa sulit menikmati waktu bersama keluarga, kehilangan waktu istirahat, hingga mengalami stres berkepanjangan karena harus selalu siap bekerja kapan pun dibutuhkan.

Akibatnya, muncul dorongan untuk kembali menjalani pola kerja yang dianggap lebih sehat dan manusiawi.

Bagi sebagian orang, quiet quitting menjadi cara untuk menetapkan batas agar hidup tidak sepenuhnya dikendalikan oleh pekerjaan.

Generasi Muda Punya Cara Pandang Berbeda tentang Karier

Fenomena quiet quitting juga sangat dipengaruhi perubahan pola pikir generasi muda terhadap dunia kerja.

Jika generasi sebelumnya sering menganggap pekerjaan sebagai identitas utama dan simbol kesuksesan hidup, banyak anak muda saat ini justru lebih menekankan pentingnya keseimbangan antara pekerjaan, kesehatan mental, dan kehidupan pribadi.

Bagi mereka, kesuksesan tidak hanya diukur dari jabatan tinggi atau gaji besar, tetapi juga dari kemampuan menikmati hidup dengan lebih tenang dan sehat.

Karena itu, banyak pekerja muda mulai menolak budaya kerja yang mengharuskan seseorang terus produktif tanpa jeda.

Mereka lebih memilih pekerjaan yang memberi ruang untuk berkembang tanpa harus mengorbankan waktu pribadi secara berlebihan.

Pandangan inilah yang membuat quiet quitting semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan generasi muda pekerja urban.

Antara Menjaga Diri dan Kehilangan Motivasi

Meski dianggap sebagai bentuk perlindungan diri dari burnout, quiet quitting tetap memiliki dua sisi yang berbeda.

Di satu sisi, fenomena ini membantu pekerja menjaga kesehatan mental dan emosional.

Dengan bekerja sesuai batas yang sehat, seseorang bisa memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga, hobi, hingga istirahat yang cukup.

Namun di sisi lain, quiet quitting juga bisa menjadi tanda hilangnya motivasi dan keterikatan terhadap pekerjaan jika dilakukan tanpa tujuan yang jelas.

Ketika seseorang hanya bekerja sekadar menggugurkan kewajiban tanpa semangat berkembang, kondisi tersebut berpotensi menghambat karier dalam jangka panjang.

Karena itu, banyak pakar karier menilai penting bagi pekerja untuk tetap menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan pribadi.

Bekerja secara sehat bukan berarti kehilangan ambisi, melainkan memahami batas kemampuan diri sendiri.

Dunia Kerja Dinilai Perlu Beradaptasi

Fenomena quiet quitting sekaligus menjadi sinyal bahwa dunia kerja modern sedang mengalami perubahan besar.

Perusahaan kini dituntut untuk tidak hanya mengejar produktivitas tinggi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan karyawan.

Lingkungan kerja yang terlalu menekan dinilai justru dapat menurunkan loyalitas dan semangat kerja pegawai dalam jangka panjang.

Banyak perusahaan mulai menyadari bahwa karyawan yang memiliki keseimbangan hidup cenderung bekerja lebih fokus, kreatif, dan bertahan lebih lama di tempat kerja.

Karena itu, konsep seperti jam kerja fleksibel, cuti kesehatan mental, hingga budaya kerja yang lebih manusiawi mulai diterapkan di berbagai perusahaan modern.

Quiet Quitting Jadi Cerminan Perubahan Budaya Kerja

Pada akhirnya, quiet quitting bukan sekadar tren sesaat yang viral di media sosial. Fenomena ini mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap pekerjaan dan kualitas hidup.

Baca Juga: Threads Jadi Tempat Curhat Favorit Gen Z, Budaya Oversharing Kini Dianggap Relatable dan Menenangkan

Banyak pekerja kini semakin berani menetapkan batas, menolak eksploitasi berlebihan, dan memilih pola hidup yang lebih seimbang.

Pesan utama dari quiet quitting sebenarnya sederhana: produktif tidak harus mengorbankan diri sendiri.

Seseorang tetap bisa bekerja dengan baik, menyelesaikan tanggung jawab secara profesional, sekaligus menjaga kesehatan mental dan kehidupan pribadi.

Perubahan pola pikir inilah yang diperkirakan akan terus memengaruhi budaya kerja di masa depan, terutama ketika semakin banyak orang mulai menempatkan kesejahteraan hidup sebagai prioritas utama.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#burnout karyawan #budaya kerja modern #kesehatan mental pekerja #quiet quitting #work life balance