RADARBONANG.ID – Di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, anggapan bahwa uang tunai adalah segalanya kerap menguat.
Banyak orang memilih menyimpan dana dalam bentuk cash, baik di rekening tabungan maupun instrumen super likuid seperti dolar AS, demi berjaga-jaga menghadapi gejolak ekonomi.
Namun, para pakar keuangan justru mengingatkan bahwa menumpuk uang terlalu banyak di rekening bisa menjadi kesalahan finansial serius yang merugikan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Bongkar Judol, Bareskrim Polri Sita Dana Rp154 Miliar dan Bekukan 811 Rekening
Inflasi Menggerus Nilai Uang Secara Diam-Diam
Salah satu risiko utama dari membiarkan uang mengendap terlalu besar di rekening tabungan adalah penurunan daya beli akibat inflasi.
Ketika bunga tabungan lebih rendah dibanding laju inflasi, nilai riil uang akan terus menyusut meski jumlahnya tampak tidak berkurang.
Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat pemilik dana kehilangan potensi pertumbuhan kekayaan secara perlahan tanpa disadari.
Baca Juga: Cara Menabung Emas untuk Pemula: Syarat, Langkah, dan Tips Cerdas
Risiko Keamanan Rekening Tabungan
Jessica Goedtel, perencana keuangan asal Pennsylvania, menyoroti aspek keamanan rekening tabungan yang kerap diabaikan.
Menurutnya, rekening tabungan tidak memiliki sistem perlindungan sekuat kartu kredit.
Jika terjadi peretasan atau pembobolan akun, proses pengembalian dana di rekening tabungan jauh lebih sulit.
Oleh karena itu, menyimpan dana besar dalam satu rekening dinilai sebagai langkah yang kurang bijaksana dari sisi manajemen risiko.
Saldo Ideal di Rekening untuk Kebutuhan Harian
Pendapat senada disampaikan Gregory Guenther, konselor perencanaan pensiun asal New Jersey.
Ia menyarankan agar saldo di rekening utama cukup untuk menutup kebutuhan dan tagihan selama satu hingga dua minggu.
Menyimpan saldo terlalu sedikit bisa memicu rasa cemas saat bertransaksi, sementara saldo terlalu besar justru menghilangkan peluang untuk mengembangkan uang ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi.
Menurut Gregory, batas saldo ideal bersifat subjektif, namun prinsipnya adalah jumlah yang membuat pemilik rekening merasa aman tanpa perlu terus-menerus mengecek saldo saat berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: 6 Tips Menabung untuk Pelajar SMP hingga SMA, Mudah dan Cocok untuk Para Gen Z
Bedakan Saldo Harian dan Dana Darurat
Meski saldo tunai yang cukup dapat membantu menghindari biaya administrasi bank, dana tersebut tidak boleh disamakan dengan dana darurat.
Dana darurat memiliki fungsi khusus untuk menutup kebutuhan besar yang muncul secara mendadak, seperti biaya medis atau kehilangan pekerjaan.
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah mencampur dana harian dengan dana darurat dalam satu rekening, sehingga fungsi pengaman keuangan menjadi tidak optimal.
Strategi Menyimpan Dana Darurat yang Tepat
Para pakar keuangan merekomendasikan dana darurat sebesar tiga hingga enam bulan biaya hidup yang disimpan secara terpisah.
Dana ini sebaiknya ditempatkan pada rekening yang mudah diakses namun menawarkan bunga lebih tinggi.
Dengan strategi tersebut, dana darurat tetap aman, memiliki nilai tambah, dan siap digunakan kapan pun tanpa harus mengorbankan kestabilan keuangan jangka panjang.
Memahami perbedaan fungsi uang dan menempatkannya secara tepat menjadi langkah penting agar kekayaan tidak tergerus secara perlahan oleh inflasi dan risiko keuangan yang tak terlihat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni