RADARBONANG.ID – Di tengah derasnya notifikasi dan terpaan informasi tanpa henti, masyarakat kini hidup dalam kultur baru: tidak boleh terlambat tahu.
Setiap tren harus diikuti, setiap hal viral harus dicoba, dan setiap pembahasan harus dimengerti secepat mungkin.
Dari skincare terbaru, drama Korea yang sedang naik daun, event musik lokal, sampai tempat makan yang mendadak populer—semuanya terasa penting untuk segera diketahui.
Di balik pola hidup serba “harus update” inilah lahir budaya FOMO (Fear of Missing Out) yang makin melekat pada keseharian generasi digital.
Baca Juga: Urban Gardening Jadi Tren: Pekarangan Kecil, Panen Besar
Timeline yang Menggiring Kita ke Sprint Tanpa Henti
Laporan We Are Social & Meltwater Digital 2024 mencatat bahwa orang Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di media sosial, salah satu angka tertinggi di dunia.
Dengan waktu layar sepanjang itu, wajar jika masyarakat merasa semua orang sedang menjalani hidup yang lebih menarik daripada diri sendiri.
Dalam hitungan detik, timeline bisa menyuguhkan berbagai pencapaian dan keseruan: seseorang berlibur ke Bali, teman lama menonton konser, tetangga baru membeli gawai terbaru.
Arus konten ini menciptakan perasaan halus namun menekan: hidup kita terasa terlalu biasa dibandingkan orang lain.
Psikolog klinis UI, Mira D. Kusuma, dalam diskusi publik 2024 menjelaskan bahwa manusia secara alami butuh koneksi sosial.
Media sosial memanfaatkan kebutuhan ini dengan sangat efektif dengan menonjolkan “highlight” hidup orang lain, bukan rutinitas dan realitas yang sebenarnya.
Gen Z Paling Rentan: Ingin Terhubung, Namun Terbakar Tekanan
Di Tuban, banyak pelajar dan mahasiswa mengaku bahwa FOMO muncul bukan selalu karena ingin ikut tren, tetapi karena takut dianggap tidak update dalam pergaulan.
Seorang siswi SMA (nama disamarkan) mengatakan bahwa ia sering merasa tertinggal saat teman-teman membicarakan film atau tempat hits yang belum sempat ia tonton atau kunjungi.
Dorongan untuk selalu siap dengan topik pembicaraan membuat mereka mengikuti tren tanpa jeda.
Hal ini sejalan dengan survei American Psychological Association (APA) 2023 yang menyebutkan bahwa generasi muda paling rentan mengalami FOMO karena ritme sosial mereka bergantung pada interaksi digital.
Validasi teman sebaya menjadi komponen penting dalam rasa percaya diri mereka.
FOMO Bikin Kita Over-Connected, Namun Under-Enjoyed
Budaya FOMO tidak hanya membuat seseorang ingin selalu ikut tren, tetapi juga berdampak pada keputusan sehari-hari.
Banyak orang melakukan pembelian impulsif demi mengikuti challenge OOTD, menghadiri berbagai kegiatan meski tubuh meminta istirahat, atau sibuk merekam momen tanpa benar-benar menikmatinya.
Pada saat yang sama, tekanan sosial membuat seseorang merasa hidupnya kurang semarak.
Dalam laporan kesehatan mental 2023, WHO menegaskan bahwa penggunaan media sosial berlebih dapat meningkatkan kecemasan, terutama ketika seseorang terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar.
Tuban Tak Luput: Event Lokal pun Kena Efek FOMO
Di berbagai event lokal seperti festival UMKM, bazar kampus, dan konser mini, efek FOMO terasa jelas.
Popularitas sebuah acara sering kali lebih dipengaruhi oleh video recap yang aesthetic daripada kualitas acaranya sendiri.
TikTok menjadi pemantik terbesar: satu unggahan visual yang menarik sudah cukup membuat kerumunan membeludak.
Seorang pedagang makanan di sebuah festival lokal mengatakan bahwa banyak pengunjung datang hanya untuk foto sebentar, lalu pulang. FOMO mengubah cara masyarakat menikmati aktivitas: bukan lagi tentang kesenangan, tetapi tentang membuktikan kehadiran.
Hidup dalam Tekanan ‘Fear of Being Irrelevant’
Sosiolog dari Universitas Airlangga menyebut fenomena ini sebagai “ketergesaan sosial digital,” yaitu dorongan untuk selalu tampil up-to-date agar identitas sosial tetap relevan.
Padahal, manusia secara psikologis tidak didesain untuk mengikuti arus cepat setiap saat. Hidup memiliki ritme yang kadang perlu melambat.
Apakah FOMO Harus Dibenci? Tidak Selalu. Tapi…
FOMO berasal dari kebutuhan dasar manusia untuk terhubung. Namun, FOMO berubah menjadi masalah ketika validasi lebih diutamakan daripada kenyamanan pribadi.
Ketika seseorang mengejar tren bukan karena ingin, tetapi karena takut tertinggal dari orang lain, FOMO menjadi beban mental.
Seorang sosiolog UI dalam seminar publik menegaskan bahwa bahaya FOMO muncul ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk berkata cukup.
Saatnya Belajar JOMO
Sebagai antitesis FOMO, konsep JOMO (Joy of Missing Out) mulai berkembang. JOMO mengajarkan kenyamanan untuk tidak ikut semua hal, tidak harus tahu semua tren, dan tetap merasa baik-baik saja.
Tidak semua tempat harus dikunjungi. Tidak semua tren harus dikejar. Tidak semua konten harus ditonton.
Kadang, jeda adalah tren paling sehat yang bisa kita pilih.
Editor : Muhammad Azlan Syah