RADARBONANG.ID - Tren celana melorot atau sagging telah menjadi bagian dari gaya streetwear di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa gaya ini memiliki asal-usul yang jauh dari dunia mode, yakni dari penjara-penjara di Amerika Serikat.
Fenomena ini berawal pada tahun 1980-an hingga 1990-an ketika aturan keamanan di penjara AS melarang narapidana memakai ikat pinggang.
Larangan ini diberlakukan untuk mencegah penggunaan ikat pinggang sebagai senjata atau alat untuk melukai diri sendiri.
Baca Juga: Tips Memilih Smartwatch Pelacak Kesehatan: Bikin Hidup Lebih Sehat dan Stylish!
Akibatnya, celana para napi sering kali melorot di bawah pinggang, memperlihatkan celana dalam mereka.
Kondisi ini awalnya tidak disengaja, melainkan murni konsekuensi dari aturan penjara. Namun, seiring berjalannya waktu, gaya berpakaian ini mulai keluar dari balik jeruji.
Budaya hip-hop, yang memiliki hubungan erat dengan pengalaman hidup di jalanan dan penjara, mulai mengadopsi gaya sagging sebagai bentuk ekspresi diri dan pernyataan identitas.
Pada dekade 1990-an, sejumlah artis rap dan hip-hop ternama seperti Tupac Shakur dan Snoop Dogg mulai tampil dengan celana melorot dalam video musik dan panggung konser.
Dari situlah sagging berkembang menjadi tren mode jalanan yang identik dengan kebebasan, pemberontakan, dan penolakan terhadap norma berpakaian formal.
Di Indonesia, tren ini mulai terlihat pada awal 2000-an, terutama di kalangan remaja yang terpengaruh budaya pop Barat.
Gaya ini sering terlihat di komunitas skate, hip-hop, hingga geng motor, meski tidak jarang memicu perdebatan soal kesopanan.
Sebagian orang menganggap sagging sekadar gaya gaul, sementara yang lain menilainya tidak pantas untuk ruang publik.
Meski pernah menjadi pusat kontroversi, sagging terus bertahan hingga sekarang, bertransformasi mengikuti perkembangan fashion.
Beberapa merek streetwear bahkan merancang celana dengan potongan low-rise yang khusus untuk menciptakan efek melorot tanpa benar-benar kehilangan fungsi kenyamanan.
Namun, sejarah sagging tetap menjadi bagian penting untuk dipahami. Di balik tampilannya yang kasual, tren ini membawa cerita tentang realitas keras penjara AS, pengaruh budaya hip-hop, dan bagaimana sebuah simbol bisa bergeser makna ketika masuk ke dunia mode.
Kini, bagi sebagian orang, sagging adalah bahasa visual tentang kebebasan berekspresi. Bagi yang lain, ini adalah pengingat bahwa gaya berpakaian sering kali lahir dari latar sosial yang jauh dari gemerlap catwalk.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah