RADARBONANG.ID – Jepang selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia.
Bahkan, jumlah penduduk yang berhasil mencapai usia 100 tahun atau lebih terus meningkat setiap tahunnya. Namun, di balik fakta tersebut, muncul temuan yang cukup mengejutkan.
Sejumlah survei dan penelitian menunjukkan bahwa banyak warga Jepang justru tidak ingin hidup hingga usia 100 tahun. Keinginan untuk berumur panjang ternyata tidak selalu sejalan dengan harapan masyarakat di Negeri Sakura.
Temuan ini memunculkan pertanyaan, mengapa masyarakat yang hidup di negara dengan sistem kesehatan maju dan usia harapan hidup tinggi justru enggan mencapai usia satu abad?
Survei Menunjukkan Mayoritas Warga Jepang Tak Ingin Berusia 100 Tahun
Sebuah survei nasional yang dilakukan Japan Hospice Palliative Care Foundation terhadap sekitar 1.000 responden menemukan hanya sekitar seperlima warga Jepang yang ingin hidup hingga usia 100 tahun atau lebih.
Dalam survei lain yang membandingkan enam negara, hanya 27,4 persen responden Jepang menyatakan ingin mencapai usia tersebut, angka yang lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat, China, Jerman, Finlandia, maupun Korea Selatan.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jepang cenderung memandang usia lanjut dari sisi tantangan yang akan dihadapi, bukan semata-mata sebagai kesempatan menikmati hidup lebih lama.
Tak Ingin Menjadi Beban bagi Keluarga
Alasan yang paling banyak disampaikan responden adalah kekhawatiran akan menjadi beban bagi keluarga atau orang lain.
Sekitar 59 persen responden mengaku tidak ingin hidup terlalu lama karena khawatir membutuhkan perawatan intensif ketika kondisi fisik menurun. Mereka merasa tidak ingin merepotkan anak, pasangan, atau kerabat saat memasuki usia lanjut.
Pandangan tersebut cukup erat dengan budaya Jepang yang menjunjung tinggi nilai kemandirian.
Banyak lansia berharap tetap mampu mengurus diri sendiri selama mungkin sehingga ketergantungan kepada orang lain menjadi hal yang ingin dihindari.
Kondisi Fisik yang Menurun Menjadi Kekhawatiran
Selain faktor keluarga, kondisi kesehatan juga menjadi alasan utama.
Hampir separuh responden menyatakan khawatir mengalami penurunan kemampuan fisik apabila hidup hingga usia 100 tahun.
Mereka membayangkan berbagai penyakit kronis, keterbatasan bergerak, hingga ketergantungan pada alat bantu atau perawatan jangka panjang.
Meskipun Jepang memiliki layanan kesehatan yang baik, banyak masyarakat tetap menganggap kualitas hidup lebih penting daripada sekadar usia yang panjang.
Kekhawatiran terhadap Kondisi Keuangan
Faktor ekonomi juga menjadi perhatian.
Lebih dari sepertiga responden mengaku cemas apakah mereka memiliki tabungan atau dana pensiun yang cukup apabila hidup sangat lama.
Biaya perawatan kesehatan, kebutuhan sehari-hari, hingga meningkatnya usia pensiun menjadi pertimbangan tersendiri.
Jepang memang menghadapi tantangan populasi menua.
Bertambahnya jumlah lansia membuat pemerintah harus menyesuaikan berbagai kebijakan terkait jaminan sosial, layanan kesehatan, dan sistem pensiun.
Berbeda dengan Pandangan Negara Lain
Penelitian yang membandingkan enam negara memperlihatkan adanya perbedaan pandangan.
Di Amerika Serikat dan China, lebih dari separuh responden berharap tetap bahagia jika mencapai usia 100 tahun.
Banyak di antara mereka melihat umur panjang sebagai kesempatan menikmati pengalaman baru bersama keluarga atau mengejar hal-hal yang belum sempat dilakukan.
Sebaliknya, hanya sekitar 21 persen responden Jepang yang optimistis dapat hidup bahagia pada usia tersebut.
Penulis studi, Takashi Tanaka, menyebut Jepang menjadi satu-satunya negara dalam penelitian yang lebih banyak melihat sisi negatif dibandingkan peluang dari era harapan hidup 100 tahun.
Jepang Tetap Menjadi Negara dengan Harapan Hidup Tinggi
Meski banyak warga tidak ingin hidup hingga 100 tahun, fakta ini tidak berarti masyarakat Jepang memiliki kesehatan yang buruk.
Sebaliknya, Jepang masih menjadi salah satu negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia.
Jumlah warga berusia 100 tahun ke atas bahkan terus mencatat rekor baru setiap tahun berkat kemajuan layanan kesehatan, pola makan yang relatif seimbang, serta gaya hidup aktif di kalangan lansia.
Namun, meningkatnya usia harapan hidup juga membawa tantangan baru, terutama terkait kualitas hidup, dukungan sosial, dan kesejahteraan psikologis lansia.
Pelajaran yang Bisa Dipetik
Temuan dari Jepang menunjukkan bahwa umur panjang bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan.
Bagi banyak orang, hidup berkualitas dengan kondisi fisik yang baik, kemandirian, hubungan sosial yang kuat, dan rasa aman secara finansial dianggap lebih penting daripada sekadar mencapai usia tertentu.
Karena itu, berbagai negara yang menghadapi populasi menua perlu mempersiapkan sistem kesehatan, layanan sosial, dan dukungan keluarga agar masyarakat dapat menikmati masa tua dengan lebih nyaman.
Pada akhirnya, keinginan hidup hingga usia 100 tahun bukan hanya dipengaruhi oleh angka harapan hidup, tetapi juga oleh bagaimana seseorang memandang kualitas hidup di usia lanjut.
Survei di Jepang menjadi pengingat bahwa memperpanjang usia perlu diiringi upaya menjaga kesehatan, kemandirian, dan kesejahteraan agar masa tua benar-benar menjadi fase kehidupan yang bermakna.
Editor : Muhammad Azlan Syah