RADARBONANG.ID – Kehadiran pusat perbelanjaan modern berskala besar di Tuban bukan sekadar persoalan gaya hidup.
Di tengah stagnasi sektor industri dan melambatnya ekonomi daerah, keputusan Citimall membuka gerai justru memantik satu pertanyaan mendasar: siapa yang benar-benar akan bertahan?
Di satu sisi, Citimall datang membawa wajah baru ritel modern. Di sisi lain, toko-toko kecil—yang selama ini menopang denyut ekonomi lokal—harus kembali bersiap menghadapi tekanan ganda: keterbatasan daya beli masyarakat dan agresivitas ritel modern yang menawarkan kenyamanan serta citra prestise.
Realitas pasar Tuban tak sederhana. Budaya belanja daring dengan harga miring telah lama membentuk kebiasaan masyarakat untuk mencari barang bagus dengan pengeluaran minimal.
Dalam situasi seperti ini, pusat perbelanjaan raksasa tak hanya bersaing dengan e-commerce, tetapi juga secara langsung menggerus ruang hidup toko-toko kecil di sekitar permukiman.
Dosen Ekonomi Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban, Inarotul A’yun, menilai toko online menjadi tantangan besar bagi keberadaan pusat perbelanjaan modern—terlebih Citimall merupakan mall pertama berskala besar di Tuban.
“Untuk saat ini mungkin masyarakat cenderung memilih belanja online karena harganya lebih terjangkau, pilihan lebih banyak, dan prosesnya cukup praktis hanya dari rumah. Sehingga, mall tidak bisa hanya mengandalkan penjualan produk saja,” jelasnya.
Tantangan Berat Bagi Toko Kecil
Namun, persoalan tak berhenti pada persaingan dengan e-commerce. A’yun menegaskan, ketika mall hadir tanpa konsep adaptif, justru toko-toko kecil di sekitarnya yang pertama kali tumbang. Mereka kalah modal, kalah promosi, dan kalah ruang eksposur.
Mall, menurut A’yun, dituntut menawarkan sesuatu yang tak bisa diberikan toko daring—sekaligus tidak mematikan sektor usaha mikro.
A’yun menekankan pentingnya fungsi rekreasi, food court yang inklusif, serta ruang interaksi sosial sebagai strategi bertahan, bukan semata mesin konsumsi.
“Jika Citimall mampu memberikan nilai tambah berupa pengalaman dan layanan langsung, maka keberadaannya tetap bisa relevan walaupun tekanan dari e-commerce sangat kuat,” terang lulusan Magister Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim tersebut.
Nada serupa disampaikan Dosen STIE Muhammadiyah Tuban, Hariyanti. Dia menilai stagnasi industri dalam beberapa tahun terakhir telah menekan daya beli masyarakat yang secara tidak langsung berdampak ke sektor ritel modern dan tradisional.
“Secara teori ekonomi, kondisi tersebut tentu berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Sehingga, potensi belanja di mall tidak langsung optimal sejak awal,” papar Yanti, sapaan akrab Hariyanti.
Segmentasi Pasar Menjadi Sangat Ketat
Yanti mengakui, tantangan paling berat justru hadir dari perubahan perilaku konsumen yang semakin sensitif terhadap harga.
“Perilaku masyarakat sekarang cenderung price sensitive, mereka akan datang di awal karena penasaran, setelah itu kembali ke belanja online karena lebih murah dan pilihan lebih banyak,” lanjutnya.
Yanti menyebut daya beli masyarakat Tuban yang moderat membuat segmentasi pasar menjadi sangat ketat.
“Mereka juga harus menyediakan F&B yang terjangkau, event lokal, pop-up UMKM, hingga pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh belanja online,” ujarnya.
Lebih jauh, Yanti menegaskan mall tidak boleh berdiri sebagai ekosistem tertutup. Tanpa keterlibatan secara maksimal UMKM lokal dan sektor jasa, pusat perbelanjaan modern justru berpotensi menciptakan ketimpangan ekonomi baru.
“Tapi mall tetap punya potensi untuk tumbuh. Mall dan toko online sejatinya melayani kebutuhan yang berbeda. Toko online akan lebih unggul pada harga dan kepraktisan, sementara mall unggul pada pengalaman berbelanja,” tandas Yanti, yang juga Ketua Divisi Inovasi dan Pengembangan Bisnis Iswara Tuban.
Di Tuban, mall bukan hanya soal belanja. Ia adalah ujian: apakah modernisasi bisa berjalan berdampingan dengan ekonomi kerakyatan, atau justru menjadi awal surutnya toko-toko kecil yang selama ini menopang kehidupan kota.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis pukul 17.30, upaya mendapatkan konfirmasi resmi dari manajemen Citimall, khususnya dari Assistant Manager of Creative Marketing and Sponsorship NWP Property, Kevin Lineria, terkait manuver bisnis yang terkesan nekat ini belum membuahkan hasil.
Dia memohon waktu untuk menjawab pertanyaan wartawan koran ini seputar berdirinya Citimall di tengah kondisi perekonomian yang melambat dan gempuran online shop di Tuban. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah