Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Teladani Mikul Dhuwur Mendhem Jero dari Watak Bima dalam Wayang: Ngoko pada Guru Namun Penuh Kejujuran dan Berani Menyuarakan Kebenaran

Amin Fauzie • Sabtu, 14 Juni 2025 | 10:51 WIB
Watak Bima atau Werkudara dalam wayang adalah sosok yang paling unik. Foto adalah ilustrasi.
Watak Bima atau Werkudara dalam wayang adalah sosok yang paling unik. Foto adalah ilustrasi.

RADARBONANG.ID - Di antara tokoh Pandhawa Lima dalam epos Mahabharata versi pewayangan Jawa, Bima atau Werkudara menjadi sosok paling unik.

Bima adalah putra kedua dari Pandhawa Lima, berada di antara Yudistira sebagai sulung dan Arjuna sebagai adik kandung.

Bima dikenal sebagai tokoh yang berperawakan besar, berotot, dan memiliki kekuatan luar biasa.

Namun, yang membuatnya menonjol bukan hanya karena fisiknya, melainkan juga karena gaya bicaranya yang blak-blakan dan tak mengenal basa-basi—even kepada gurunya sendiri.

Dalam sejumlah lakon pewayangan, Bima dikenal sebagai satu-satunya murid dari Pandhawa yang tidak pernah menggunakan bahasa krama atau halus kepada guru atau yang dituakan.

Kepada Resi Drona, misalnya, Bima tetap menggunakan bahasa ngoko, bahkan saat semua saudaranya berbicara sopan penuh tata krama.

Namun, justru di balik sikap lugasnya itu, tersembunyi watak jujur, setia, dan penuh tanggung jawab, menjadikan Bima sebagai lambang kesetiaan dan keberanian yang luar biasa dalam tradisi pewayangan Jawa.

Ngoko tapi Tidak Kurang Ajar

Dalam tradisi Jawa, berbahasa ngoko kepada orang tua atau guru dianggap tak sopan.

Tapi dalam konteks Bima, ini memiliki makna simbolik.

Ngoko-nya Bima bukan karena kurang ajar, melainkan cerminan karakter yang apa adanya dan tidak suka kepura-puraan.

Dia adalah sosok yang tidak pandai menyembunyikan isi hati, tak gemar menjilat, dan menolak bersikap manis bila itu bertentangan dengan hati nuraninya.

Dikisahkan, meski keras dan frontal, Bima adalah satu-satunya murid yang benar-benar setia dan menghormati gurunya dalam tindakan nyata, bukan sekadar ucapan manis.

Dia bahkan tak ragu melawan kezaliman, meski datang dari orang yang dihormati sekalipun, seperti halnya ketika Resi Drona mulai condong membela Kurawa.

Keteladanan dari Watak Bima

Bima adalah simbol kebenaran dan keteguhan hati. Ia tidak mudah goyah oleh iming-iming kekuasaan.

Dalam kisah “Dewa Ruci”, Bima bahkan menjadi satu-satunya Pandhawa yang berhasil bertemu dengan Tuhan dalam wujud Dewa kecil.

Ini menjadi simbol bahwa yang lurus hatinya, yang jujur dan rendah hati, akan lebih mudah bertemu dengan kebenaran sejati.

Bima juga mewakili watak “mikul dhuwur mendhem jero” terhadap keluarganya, terutama ibu dan saudara-saudaranya.

Dia menjadi pelindung utama Pandhawa, tidak banyak bicara, tapi selalu hadir saat dibutuhkan.

Di era penuh kepalsuan dan pencitraan seperti sekarang, sosok Bima menjadi cermin penting: ketulusan lebih utama daripada kemasan.

Meski tak pandai merangkai kata, namun tindakan dan komitmennyalah yang berbicara.

Dalam dunia kerja, keluarga, maupun sosial, karakter seperti Bima adalah langka—berani menyuarakan kebenaran, tak takut berbeda, dan tidak memoles diri demi pujian. (*)

Editor : Amin Fauzie
#Pandhawa Lima #werkudara #watak #Mikul Dhuwur Mendhem Jero #Bima #wayang #Pewayangan jawa #epos Mahabharata