RADARBONANG.ID - Selain terkenal dengan warisan budaya Sunan Bonang dan pantainya yang indah, Tuban ternyata menyimpan banyak kejutan.
Harta karun budaya yang cukup langka dan sayangnya hampir punah, yaitu tradisi Gemblak.
Seni pertunjukan yang unik ini berasal dari zaman Majapahit, tapi saat ini cuma bisa ditemukan di Dusun Bawi Wetan, Desa Hargoretno, Kecamatan Kerek, Tuban.
Di sinilah sisa-sisa gemblak bertahan, dijaga dan dilestarikan oleh beberapa seniman lokal yang masih setia menghidupkan tradisi leluhur.
Gemblak bukan sekadar pementasan biasa. Ini lebih dari sekadar seni yang menampilkan tari, drama, dan musik; gemblak itu punya filosofi dalam yang merujuk pada cerita-cerita Panji klasik Jawa.
Dari namanya saja, 'Gemblak' berasal dari bahasa Jawa yang berarti “meninggalkan yang jelek, memegang yang baik.”
Ini seni yang mewajibkan kita untuk mikir, untuk menilai mana yang sebaiknya dipertahankan dalam hidup dan mana yang mending dibuang jauh-jauh.
Pada era 1970-an hingga 1980-an, gemblak ini sempat berjaya. Penonton pada masa itu betul-betul antusias, setiap kali gemblak tampil, desa seperti punya hajatan besar.
Tapi, perlahan-lahan, ketertarikan orang mulai meredup.
Kesenian ini mengalami mati suri, nyaris lenyap kalau bukan karena niat besar beberapa orang untuk menghidupkannya kembali beberapa tahun terakhir ini.
Salah satu daya tarik utama Gemblak adalah aura magis yang menyelimutinya.
Seni pertunjukan ini bukan sekadar pementasan biasa yang bisa dilakukan tanpa persiapan khusus.
Mulai dari persiapan, latihan, hingga saat tampil, ada ritual-ritual khusus yang harus dilakukan.
Jadi, bisa dibilang gemblak bukan hanya sekadar hiburan, tapi juga semacam penghormatan buat leluhur.
Lakon yang ditampilkan pun selalu cerita-cerita Panji seperti Ande-Ande Lumut, Timun Mas, atau Joko Kendil—cerita klasik yang sarat makna.
Sekarang ini, gemblak berada di ujung tanduk. Kalau saja dusun kecil di Tuban ini menyerah, mungkin seni pertunjukan ini sudah tamat.
Ya, Dusun Bawi Wetan memang satu-satunya tempat di mana gemblak masih bisa ditemukan. Dan karena para senimannya gigih bertahan. (*)