Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Sekitar Makna dan Arti Istilah Wali Songo Sebagai Waliyullah dan Waliyul Amri

Amin Fauzie • Minggu, 22 September 2024 - 23:01 WIB
Ada beragam pendapat dari arti istilah Wali Songo, yakni kesembilan wali yang oleh masyarakat Jawa diyakini memiliki kemampuan linuwih secara fisik maupun spiritual.
Ada beragam pendapat dari arti istilah Wali Songo, yakni kesembilan wali yang oleh masyarakat Jawa diyakini memiliki kemampuan linuwih secara fisik maupun spiritual.

RADARBONANG.ID - Penyebaran Islam di Jawa tidak bisa dilepaskan dari pengaruh dan kiprah perjalanan orang-orang suci yang sangat legendaris dalam cerita lisan orang Jawa-Islam yang sangat populer dengan sebutan Wali Songo.

Kesembilan wali tersebut diyakini oleh masyarakat Jawa memiliki kemampuan linuwih baik secara fisik maupun spiritual.

Lalu, apa sebenarnya makna dan arti istilah Wali Songo?

Pemahaman yang berkembang di masyarakat Jawa, arti istilah Wali Songo atau sembilan wali dikaitkan dengan sekelompok penyiar agama di Jawa yang hidup dalam kesucian sehingga memiliki kekuatan batin tinggi, berilmu kesaktian luar biasa, dan keramat.

Nah, berikut beberapa pendapat sekitar makna dan arti istilah wali songo yang dirangkum Radar Bonang dari berbagai sumber.

Pertama, menurut Solichin Salam dalam Sekitar Wali Songo, kata Wali Songo merupakan kata majemuk yang berasal dari kata wali dan songo.

Kata wali berasal dari bahasa Arab, suatu bentuk singkatan dari waliyullah, yang berarti orang yang mencintai dan dicintai Allah.

Sedangkan Songo berasal dari bahasa Jawa yang berarti sembilan.

Jadi, Wali Songo berarti wali sembilan, yakni sembilan orang yang mencintai dan dicintai Allah.

Mereka dipandang sebagai ketua kelompok dari sejumlah besar mubaligh Islam yang bertugas mengadakan dakwah Islam di daerah-daerah yang belum memeluk Islam di Jawa.

Kedua, Prof. K.H.R. Moh. Adnan berpendapat bahwa kata songo dalam kata Wali Songo merupakan perubahan atau kerancuan dari pengucapan kata sana.

Kata sana diambil dari kata Arab tsana (mulia) yang searti dengan kata mahmud (terpuji), sehingga pengucapan yang betul adalah Wali Sana yang berarti wali-wali yang terpuji.

Ketiga, R. Tanojo dalam kitab Walisana menandaskan bahwa istilah yang benar dari Wali Songo adalah Walisana.

Namun, kata sana bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu sana yang bermakna tempat, daerah, wilayah.

Dengan penafsiran itu, maka yang dimaksud Walisana bermakna wali di suatu tempat, daerah atau wilayah tertentu.

Walisana diberikan untuk sebutan sunan, susuhunan, dengan disertai sebutan kanjeng, yakni kependekan dari kata kang jumeneng.

Dan menurut kitab Walisana, wali-wali yang disebut sebagai Walisana itu tidak berjumlah sembilan melainkan hanya delapan orang.

Keempat, Pendapat dari Prof. Dr. Simuh (1986) bilangan sembilan merupakan bilangan magis di Jawa dan tidak berasal dari budaya santri.

Pandangan Simuh ini erat kaitannya dengan kosmologi orang Jawa yang beragama Hindu yang meyakini bahwa alam semesta ini diatur dan dilindungi dari dewa-dewa penjaga mata angin.

Ada delapan dewa penguasa mata angin dan satu dewa penguasa arah pusat, sehingga keseluruhannya berjumlah sembilan.

Kosmologi yang sama juga dianut oleh orang Bali yang beragama Hindu dengan sedikit perbedaan pada nama dewa.

Kosmologi yang dianut orang Jawa dan Bali yang beragama Hindu ini dikenal dengan sebutan Nawa Dewata (sembilan dewa).

Bertolak dari kosmologi Nawa Dewata, Agus Sunyoto dalam bukunya 'Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan' memaparkan bahwa sewaktu dakwah Islam dilakukan oleh Wali Songo, terjadi perubahan konsep Nawa Dewata menjadi Wali Songo.

Dimana kedudukan dewa-dewa penjaga mata angin itu digantikan oleh manusia-manusia yang dicintai Tuhan, yaitu auliya, bentuk jamak dari wali.

Itu berarti Wali Songo dapat dikatakan sebagai suatu proses pengambilalihan konsep Nawa Dewata yang bersifat hinduistik menjadi konsep sembilan wali yang bersifat sufistik.

Konsep Wali Songo di kalangan sufisme dapat ditemukan dalam konsep sembilan tingkat kewalian.

Seperti yang dipaparkan Syekhul Akbar Ibnu Araby dalam kitab Futuhatut al-Makkiyah, bahwa sembilan wali memiliki tugas masing-masing sesuai kewilayahan.

Kesembilan tingkat kewalian tersebut yakni Wali Aqtab atau Wali Qutub, Wali Aimmah, Wali Autad, Wali Abdal, Wali Nuqaba, Wali Nujaba, Wali Hawariyyun, Wali Rajabiyyun, dan Wali Khatam.

Kelima, Dalam berbagai catatan historiografi di Jawa, keberadaan tokoh-tokoh Wali Songo diasumsikan sebagai tokoh waliyullah sekaligus waliyul amri.

Sebagai waliyullah, Wali Songo sebagai orang-orang yang dekat dengan Allah yang terpelihara dari kemaksiatan.

Sedangkan sebagai Waliyul amri, Wali Songo merupakan orang-orang yang memegang kekuasaan atas hukum kaum muslimin, pemimpin masyarakat yang berwenang menentukan dan memutuskan urusan masyarakat, baik dalam bidang keduniawian maupun keagamaan.

Gelar sunan atau susuhunan diambil dari kata suhun-kasuhun-sinuhun, yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti menjunjung, menghormati, meletakkan kaki seseorang di atas kepala.

Gelar sunan lazim digunakan dalam Islam untuk menyebut guru suci, gelar sunan juga bermakna paduka yang mulia, yang digunakan oleh raja-raja Mataram Islam sampai masa kerajaan Surakarta.

Jadi, sebagian besar tokoh Wali Songo diketahui selain sebagai penguasa duniawi dari sebuah wilayah tertentu, juga sekaligus menjadi guru suci yang diliputi kisah-kisah supranatural yang menakjubkan. (*)

Menu Fellow Caffe
Menu Fellow Caffe
Editor : Amin Fauzie
#islam #Walisana #Waliyul amri #arti istilah Wali Songo #Waliyullah #penyiar agama di Jawa #makna #Mubaligh #Tokoh #Nawa Dewata