Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Batik Gedog Tuban. Dibawa Langsung Laksamana Cheng Ho dari Cina ke Tuban

Dwi Setiyawan • Selasa, 16 Januari 2024 | 21:11 WIB

Uswatun Hasanah memberi malam pada kain bakalan batik gedog di Sanggar Batik Sekar Ayu di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Uswatun Hasanah memberi malam pada kain bakalan batik gedog di Sanggar Batik Sekar Ayu di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.


TUBAN-Kabupaten Tuban, Jawa Timur memiliki batik khas. Namanya batik gedog Tuban. Warisan budaya ini sampai sekarang masih lestari.

Uswatun Hasanah, salah satu perajin sekaligus pelestari batik gedog Tuban mengatakan, batik gedog dalam bahasa aslinya disebut batik Lokcan.

Dia menerangkan, batik ini dibawa langsung Laksamana Cheng Ho dari Cina ke Tuban.

‘’Nuansa China dari batik ini sangat melekat. Itu terlihat dari gambar burung Hong yang menjadi kekhasan batik tersebut,’’ ujarnya.

Setelah masuk Tuban, kata dia, batik gedog diadopsi Ki Jontro, pengikut Ronggolawe yang juga pembuat pakaian.

Dari cerita leluhurnya, Uswatun mengungkapkan, saat Ronggolawe memberontak Majapahit, dia dan pengikutnya bersembunyi di dalam hutan.

Dalam persembunyian Ronggolawe, Ki Jontro, yang namanya dipakai nama alat tenun tradisional, membuatkan pakaian untuk pasukan.

Semula, pakaian dari kain tenun yang dibuat Ki Jontro tersebut bermotif garis-garis sesuai alur benang.

Namun, setelah terpengaruh batik Lokcan milik Laksamana Cheng Ho, kain tenun batiknya bermotif batik Lokcan.

‘’Nama gedok kemudian diambil dari bunyi proses penenunan yang berbunyi gedog… gedok…,’’ tutur pemilik Sanggar Batik Sekar Ayu di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban itu.

Uswatun mengungkapkan, dulu pembantik tidak seperti sekarang.

‘’Untuk membuat motif saja, dulu, pembuat batik harus mencari wangsit atau petunjuk yang memerlukan lelaku ritual. Begitu juga proses mewarnai yang menggunakan bahan alami seperti daun dan kulit pohon,’’ ujarnya.

Kalau tidak tirakat, kata Uswatun, dikhawatirkan diganggu makhluk halus.

Dia kemudian mencontohkan nenek dan buyutnya. Setiap kali membuat motif dan mewarnai batik gedognya selalu menggunakan prosesi ritual.

Prosesi tersebut mulai dari puasa tujuh hari dan membaca mantra.

''Sekarang ini, yang saya terapkan hanya baca mantra saja,'' kata dia. (*)

Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie
#Lokcan #Batik Gedog Tuban #pengikut Ronggolawe #Ki Jontro #laksamana chengho