TUBAN-Berakhir sudah nama Watu Rumpit, lima bongkahan batu besar yang sebelum 2013 menghalangi jalan Kecamatan Kerek-Montong yang legendaris tersebut.
Watu Rumpit yang berlokasi di Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur tersebut dihancurkan dengan sejumlah alat berat pada Juli 2013.
Setelah diruntuhkan, nama Watu Rumpit tersebut sekarang ini tinggal nama.
Gugusan lima batu tersebut tak sekadar berdiri menghalangi jalan Kerek-Montong.
Namun, juga menjadi ikon pelengkap wisata Pemandian Ngipeng yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari batu tersebut.
Gugusan lima batu Rumpit menjadikan jalan seluas selebar 4 meter yang melintas di bawahnya berkelok di antara sela batu. Jumlah total kelokannya tiga buah.
‘’Kelokan itulah yang menjadikan siapa pun yang melintas merasa takjub,’’ kata Nurul Zakiyah, warga Desa Montong Sekar, Kecamatan Montong.
Nurul termasuk salah satu saksi yang masih mengenang kekokohan batu tersebut hingga diruntuhkan.
Dia masih menyimpan foto batu tersebut ketika masih utuh dan tinggal menyisakan sebagian dengan kamera jadulnya, Nokia E71.
‘’Hasil jepretan saya ini nantinya bisa untuk mengenang Watu Rumpit yang sebentar lagi rata dengan tanah,’’ kata ibu tiga anak itu ketika memotret sebagian kondisi batu yang sudah runtuh.
Nurul termasuk salah satu dari banyak warga yang begitu mengidolakan Watu Rumpit yang memesona tersebut.
Batu ini tidak ubahnya dengan Gunung Pegat di Babat, Lamongan.
Bedanya, batu Gunung Pegat berhasil dihancurkan bagian tengahnya untuk dibuat jalan.
Sementara Watu Rumpit yang beratus-ratus tahun tak bisa dihancurkan terpaksa dipertahankan hingga pada 2013 pemerintah daerah memutuskan menghancurkannya karena menghalangi pelebaran jalan.
Basar, salah satu sesepuh warga Desa Winong, Kecamatan Kerek mengatakan, gugusan Watu Rumpit pernah berusaha dihancurkan semasa penjajahan Belanda dan Jepang untuk pembuatan jalan. Namun, upaya tersebut tak membuahkan hasil.
‘’Dinamit yang dipasang tak bisa menghancurkan batu-batu itu,’’ kata dia.
Apa yang disampaikan pengusaha kayu dan batik tersebut benar adanya.
Di sejumlah sisi batu ini terdapat puluhann lubang selebar gelas.
Konon, lubang inilah yang ditanami dinamit untuk menghancurkannya.
Tak berhasilnya gugusan batu tersebut dihancurkan dikaitkan masyarakat setempat dengan kekuatan supranatural yang melindunginya.
Karena dianggap menjadi penghalang atau rumpit, gugusan batu tersebut dinamakan Watu Rumpit.
Rohman, salah satu tokoh Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek mengakui sulitnya batu tersebut dihancurkan.
Selain semasa penjajahan, setelah zaman kemerdekaan pun upaya yang sama pernah dilakukan.
‘’Banyak legenda yang bercerita tentang batu ini,’’ kata dia. (*)
Editor : Amin Fauzie