Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kadipaten Gumenggeng di Tuban. Gadis Keturunan Adipati Pertama Dikenal Berpipi Dekik

Dwi Setiyawan • Minggu, 17 Desember 2023 | 19:19 WIB

Di kaki pegunungan kapur Nglai di Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur mengalir sungai Bengawan Solo. Daerah ini diperkirakan kawasan Kadipaten Gumenggeng.
Di kaki pegunungan kapur Nglai di Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur mengalir sungai Bengawan Solo. Daerah ini diperkirakan kawasan Kadipaten Gumenggeng.


TUBAN-Kadipaten Gumenggeng diperkirakan merupakan pemerintah pertama di Tuban. Jauh sebelum berdiri Kadipaten Tuban.

Buku Cacatan Sejarah 700 Tahun Tuban menguraikan trah adipati Tuban dari Kerajaan Padjajaran di Jabar. Trah tersebut dari Raden Arya Mentahun, salah satu putra Prabu Banjarsari, raja yang memerintah Padjajaran.

Dalam buku karya R. Soeparmo tersebut juga ditulis, putra Raden Arya Mentahun yang bernama Raden Arya Randu Kuning babat alas di Tuban.

Kawasan yang lokasinya diperkirakan di Kalak Wilis, Kecamatan Jenu inilah yang diberi nama Lumajang.

Ulasan buku yang salah satu referensinya bersumber dari Babat Tanah Tuban tersebut hanya berhenti di sini.

Tidak disebutkan kalau salah satu putra Raden Arya Randung Kuning yang bernama Raden Arya Bangah membuka hutan di kaki kawasan pegunungan Rengel.

Kawasan inilah yang kemudian diberi nama Kadipaten Gumenggeng.

Berbeda dengan buku Tuban Bumi Wali, The Spirit of Harmony.

Buku ini menulis keberadaan Raden Arya Bangah yang kelak menurunkan para adipati di Tuban. Hanya, tidak disebutkan Gumenggeng, kadipaten yang diperintahnya.

Suhartono, tokoh masyarakat Gumeng mengatakan kurang detailnya buku-buku sejarah mengupas Kadipaten Gumenggeng karena minimnya bukti sejarah.

Karena itulah, kupasan sejarah yang digali dari para budayawan dan dalang yang bersumber dari serat-serat berbahasa Sansekerta dan Babat Tanah Jawa, diharapkan bisa memberikan tambahan khazanah.

Merujuk cerita lakon Arya Bangah Wisuda, Cikal Bakal Berdirinya Tuban dengan dalang Ki Agus Mabok pada acara sedekah bumi di Dusun Gumeng, Desa Banjaragung, Kecamatan Rengel pada awal April 2012,

Suhartono mengungkapkan, Raden Arya Bangah mempunyai seorang putra bernama Arya Dandang Miring.

Setelah Adipati Arya Bangah mangkat, Arya Dandang Miring bertapa dan meminta petunjuk para dewa.

‘’Dalam semedinya, dia meminta kelak keturunannya menjadi bupati dan negarawan yang mampu memimpin rakyat dengan adil- makmur,’’ kata dia mengutip lakon cerita tersebut.

Dalam lakon wayang tersebut juga diceritakan setelah menyatukan cipta, Raden Arya Dandang Miring mendapatkan wangsit.

Isinya, dia tidak diperkenankan menjadi Adipati Gumenggeng. Namun, diperintah membuka hutan Papringan. Lokasinya di barat laut kadipatennya.

Diperkirakan wilayah ini di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

Ketika menempati kawasan hutan Papringan ini, sebagian besar rakyat Gumenggeng diajak.

Pada fase babat alas Papringan ini, hampir semua buku sejarah menulis sama.

Buku Cacatan Sejarah 700 Tahun Tuban menulis, ketika Dandang Wacana, putra Raden Arya Dandang Miring membuka hutan, keluar sumber air atau metu banyune (bahasa Jawa).

Kata me-tu ban-yune inilah yang kemudian disingkat menjadi nama Tuban.

Di daerah inilah, pemerintahan Tuban berawal. Bekas pusat pemerintahan pertama tersebut sekarang ini ditempati kantor Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding. Kadipaten Tuban ketika itu memiliki tiga wilayah.

Meliputi, Trowulan, Prunggahan Kulon dan runggahan Wetan. Nama wilayah yang disebut pertama sekarang menjadi dukuhan di Desa Prunggahan Kulon. Sementara dua wilayah lain sekarang menjadi desa.

Wanita kelahiran tiga wilayah ini terkenal parasnya yang cantik dengan satu ciri khas. Yakni, dekik atau lesung pipi. Konon, kecantikan tersebut juga dikaitkan dengan trah Adipati Tuban pertama tersebut.

Selain mendirikan pusat pemerintahan, Dandang Wacono juga membangun pesanggran yang dikelilingi parit dan kolam. Pesanggrahan ini diberi nama Bekti. Nama tersebut diambilkan dari kata Pangabekti (bahasa Jawa).

Ketika Dandang Wacana istirahat di pesanggrahan ini, banyak penggawa dan rakyat berdatang untuk menyembah atau mangabekti (Jawa).

Karena istilah ini sering digunakan, kawasan pesanggrahan ini lebih dikenal dengan nama Bektiharjo yang artinya banyak pengunjung.

Kawasan inilah yang sekarang menjadi pemandian alam sekaligus tempat wisata.

Saat memerintah, Dandang Wacana berganti nama menjadi Kyai Gede Papringan.

Setelah mangkat, jasadnya dimakamkan di dekat Kaligunting, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding. (*)

Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie