Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Lunturnya Tradisi Kirab Khitanan di Pantura Tuban. Sulit Mendapat Jaran Jenggo, Diganti Becak

Dwi Setiyawan • Senin, 11 Desember 2023 | 01:09 WIB

Salah satu kirab khitanan di Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban.
Salah satu kirab khitanan di Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban.


TUBAN-Di era sebelum 70-an, di sepanjang pantai utara (pantura) Tuban berlaku tradisi kirab khitanan bagi anak yang dikhitan. Kini, tradisi Islam tersebut nyaris punah digerus zaman.

Salah satu kekhasan dari kirab khitanan ini adalah anak yang dikhitan didandani bak pengantin muslim.

Make up-nya menyolok. Busana jubah putihnya mirip tsaub, busana khas jazirah Arab. Lengkap dengan surban putih yang diikat igal di kepala. Bedanya, di kedua sisi igal digantung bunga plastik yang menjuntai hingga pusar.

Becak yang dinaiki kirab khitanan juga dihias rontek. Hiasan ini berupa tancapan kayu lidi yang ditempeli guntingan kertas warna-warni menyerupai pohon kelapa.

Untuk mengesankan jok becak menyerupai singgasana, dipasang papan yang lebih tinggi dan dihias kertas warna-warni. Hiasan lainnya, tanaman hidup.

Di tempat duduk inilah, bocah yang khitan diapit dua bocah berusia sebaya. Mereka mengenakan pakaian serba putih dan berkopiah putih. Dandanan keduanya tak kalah menor.

Selama dikirab becak, belasan bocah berpakaian kuning biru mengiring di belakang. Mereka membawa bendera kecil merah-putih.

Di depan iring-iringan ini, puluhan orang dewasa berpakaian muslim menabuh rebana. Selebihnya, mengusung rontek. Selama mengiringi kirab, mereka melantunkan pujian-pujian.

Kirab khitanan ini sekarang sulit ditemukan. Hanya segelintir masyarakat yang masih mempertahankan budaya Islam tersebut.

Sujono Ali Mujahidin, salah satu pemuka masyarakat Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur mengatakan, generasinya mulai jarang mengenal tradisi ini.

‘’Kita hanya tahu. Namun, sama sekali tak memahaminya,’’ kata warga dia.

Tradisi kirab yang konon dijadikan alat siar bagi wali penyebar ajaran Islam di pesisir Laut Jawa tersebut sekarang ini hanya dipertahankan sebagian orang yang masih memegang teguh tradisi. Sementara orang modern banyak meninggalkannya.

Sunaryo, salah satu pemerhati budaya Tuban, mengatakan, kirab bocah yang dikhitan dengan becak adalah bagian dari mempertahankan tradisi budaya Islam.

Menurut dia, berdasar budaya aslinya, sarana yang digunakan mengirab adalah jaran jenggo.

‘’Karena jaran jenggo sekarang ini sulit didapat, sebagai gantinya ya becak itu,’’ kata mantan kepala Bidang Pariwisata Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban itu.

Namun demikian, kata Sunaryo, upaya mempertahankan sebagian kekhasan dari kirab tersebut masih terlihat.

Salah satunya, empat warna rontek. Dia mengatakan, rontek jangan dilihat sebagai hiasan semata. Di balik hiasan tersebut terdapat makna filosofi mendalam.

Rontek hijau bisa dimaknai dari harapan kemakmuran. Kuning bermakna kemuliaan dan keagungan. Sementara merah lambang keberanian dan putih kesucian.

Menurut Sunaryo, selain hiasan khas kirab khitanan, empat warna rontek yang sama juga dipakai pada pertunjukan sandur. Bedanya, rontek dipasang di tengah panjak hore.

Dia menyampaikan, khitan adalah ritual yang menandakan anak laki-laki berani menantang kehidupan. Juga lambang keberanian.

Karena itu, dalam budaya asli, dipilih kuda untuk tunggangan kirab karena merupakan lambang ketangguhan.

Bukti lain kalau budaya kirab khitan ini alkultarasi Jawa-Islam yang identik dengan Arab, adalah busana tsaub yang dikenakan anak yang dikhitan. Juga, tetabuhan dan puji-pujian yang dilantunkan. (ds)

Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie
#islam #khitan #tradisi #Jazirah Arab #jaran jenggo #Kirab Khitanan