TUBAN-Klenteng Tjoe Ling Kiong Tuban diperkirakan ada sejak peradaban etnis Tionghoa di pesisir pantai utara Tuban.
Karena bangunannya tidak terlalu besar dan diapit dengan kawasan pertokoan, tempat ibadah umat tri darma, yakni Konghucu, Buddha, dan Tao ini seperti tersisihkan di tengah hingar-bingar pusat kota.
Swie Hwa, salah satu tokoh umat Konghucu mengatakan, klenteng di Jalan Panglima Sudirman 104 Tuban tersebut lebih dikenal dengan sebutan klenteng Mak Co.
Dia menerangkan, Mak Co adalah bahasa Hokkian dari Dewi Tianhou, dewi utama yang disembah Tjoe Ling Kiong.
Dalam bahasa Mandarin, dewi ini dikenal dengan sebutan Tian Shang Sheng Mu atau Thian Siang Sing Bo.
Klenteng Tjoe Ling Kiong bisa dibilang tersisihkan. Kondisi klenteng di utara Alun-Alun Tuban ini tak ubahnya seperti secuil daerah asing di tengah perkotaan.
Ketika lingkungan sekitarnya hingar-bingar dengan keramaian, klenteng ini tetap samun.
Karena tak banyak umat dan pengunjung yang datang, baris nyala lilin maupun hio-nya pun bisa dihitung dengan jari.
Kondisi klenteng Tjoe Ling Kiong jauh berbeda dengan klenteng Kwan Sing Bio Tuban.
Klenteng di Jalan RE Martadinata 1 Tuban tersebut tiap hari didatangi banyak umat dan pengunjung.
Kondisinya pun jauh lebih hidup. Meski tersisihkan, klenteng yang altar utamanya dijaga sepasang patung harimau di kedua sisinya ini begitu bertuah. Tidak ada satu pun referensi yang menulis berdirinya klenteng Tjoe Ling Kiong.
‘’Saya dan leluhur tidak pernah tahu. Ini sudah sangat tua,’’ Swie Hwa.
Salah satu petunjuk yang merunut sejarah klenteng Tjoe Ling Kiong ini hanyalah berupa inskripsi atau relief pada pahatan kusen di atas depan yang tertulis angka 1850.
Diperkirakan, tahun ini bukan berdirinya. Namun, periode pemugarannya. Kalau itu benar, berarti klenteng ini ada jauh sebelum 164 tahun lalu.
Sumber lain menyebut, diperkirakan klenteng ini seumur dengan peradaban etnis Tionghoa di Tuban.
Asumsi tersebut didasarkan pada tulisan Ma Huan, penerjemah Laksamana Cheng Ho yang ikut mendampingi ekspedisi menuju nusantara.
Ditulis, bahwa di Tuban bermukim etnis Tionghoa yang berasal dari Provinsi Guangdong dan Fujian, tepatnya daerah Zhangzhou dan Guanzhou.
Hal itu yang menjadikan mereka mendirikan klenteng sebagai tempat ibadahnya.
Klenteng dimaksud kemungkinan adalah Tjoe Ling Kiong. (ds)
Editor : Amin Fauzie