RADARBONANG.ID — Perdebatan tentang penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Hollywood kembali memanas setelah seorang orang dalam industri memberikan klaim mengejutkan: banyak sineas dan studio film papan atas ternyata diam-diam menggunakan AI secara luas, bahkan jauh lebih sering dari yang diakui publik.
Pernyataan ini menjadi sorotan besar, terutama di tengah percepatan teknologi AI yang kini mampu menghasilkan konten visual dan naratif yang kompleks.
Klaim dari Sumber Hollywood
Menurut Janice Min, mantan editor The Hollywood Reporter sekaligus CEO Ankler Media, terdapat ketidakjujuran yang sistemik mengenai penggunaan AI di kalangan pembuat film besar.
Dalam wawancara dengan media internasional, Min menyatakan bahwa semua pihak di Hollywood “sedikit berbohong” tentang sejauh mana mereka memakai teknologi ini.
“Studio-studio berbohong tentang seberapa banyak mereka menggunakannya,” ujar Min, yang dikenal sebagai pengamat industri perfilman dengan wawasan dalam terhadap praktik internal Hollywood.
Baca Juga: SUV Listrik Murah Rp 180 Jutaan Kini Sudah Bisa Dipesan, Fitur Lengkap dan Baterai Tahan Jauh
Ketika ditanya apakah penggunaan sebenarnya lebih banyak atau lebih sedikit, jawabannya tegas: lebih banyak.
Ia menambahkan bahwa studio seringkali memuji kemampuan dan potensi AI, tapi di sisi lain kreator tidak mau mengakui bahwa mereka memakai alat seperti chatbot AI dalam tahap pengembangan naskah atau konsep.
“Saya tantang Anda untuk menemukan penulis skenario yang sedang menatap halaman kosong dan tidak berbicara dengan Claude atau ChatGPT pada saat yang bersamaan,” sindir Min.
Contoh Kasus: AI dalam Film Pemenang Oscar
Min menyinggung contoh yang pernah menjadi kontroversi publik: film The Brutalist, yang memenangkan Oscar dan menghadapi kritik setelah sang sutradara mengonfirmasi penggunaan AI untuk membantu mempertegas aksen para pemeran utama.
Kasus ini sempat ramai dibicarakan sebagai gambaran awal bagaimana AI bisa dipakai dalam produksi fitur panjang.
Namun bagi Min, itu hanya “puncak gunung es”. Ia percaya bahwa praktik serupa terjadi lebih luas di balik layar Hollywood, termasuk pada proyek-proyek besar lainnya yang tidak pernah diungkap ke publik.
“Don’t Ask, Don’t Tell” dari Akademi Film
Pernyataan lain yang membuat ramai adalah kritik terhadap The Academy — lembaga yang menyelenggarakan ajang Oscar — yang dinilai tidak tegas dalam menetapkan aturan tentang AI.
Min mengatakan kebijakan yang berlaku di institusi ini lebih mirip don’t ask, don’t tell.
Artinya, tidak ditanyakan dan tidak diungkap, sehingga praktik penggunaan teknologi ini berjalan tanpa transparansi atau pengawasan publik yang kuat.
Menurut Min, besar kemungkinan bahwa setiap film yang dinominasikan sebagai film terbaik tahun ini telah menggunakan AI dalam proses produksinya, baik itu dalam tahap penulisan, pengeditan, atau paska produksi.
Ini tentu menimbulkan pertanyaan tentang etika, integritas karya seni, dan kontribusi manusia dalam film.
Skeptisisme dan Konteks Industri
Meskipun klaim ini menarik perhatian, para pengamat industri lain mengingatkan perlunya interpretasi hati-hati.
Istilah “AI” sendiri sering dipakai secara luas, mencakup beragam alat teknologi yang sebenarnya sudah digunakan di perfilman sejak lama, seperti efek visual, motion capture, dan perangkat lunak grading warna canggih.
Tidak semuanya merupakan AI generatif yang bisa membuat konten dari nol.
Selain itu, sejarah konflik tentang AI di Hollywood sudah panjang. Pada 2023, aksi mogok besar yang melibatkan penulis skenario dan aktor terkait kekhawatiran AI sempat mengguncang industri, menjadi salah satu mogok terpanjang dalam sejarah.
Aksi itu menunjukkan adanya penolakan kuat dari komunitas kreatif terhadap penggunaan teknologi yang dianggap menggerus peran manusia dalam karya seni.
Dampak dan Pertanyaan Lebih Lanjut
Klaim seputar penggunaan AI ini memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan Hollywood:
-
Apakah transparansi seputar penggunaan teknologi dalam proses kreatif perlu ditingkatkan?
-
Sejauh mana AI boleh ikut campur dalam pembuatan film yang kemudian diperlakukan sebagai karya seni manusia?
-
Bagaimana dampaknya terhadap pekerja kreatif seperti penulis, sutradara, atau aktor?
Sebelumnya, kontroversi lain mengenai AI juga muncul dalam bentuk video generatif populer yang menampilkan tokoh Hollywood seperti Brad Pitt dan Tom Cruise dalam adegan yang sepenuhnya dihasilkan alat AI tertentu — memicu peringatan dari organisasi industri dan diskusi tentang hak cipta serta etika penggunaan wajah selebritas secara digital.
Terlepas dari pro dan kontra, yang jelas adalah bahwa topik seputar AI di Hollywood tidak lagi sekadar wacana teknologi, melainkan telah menjadi bagian penting dari dinamika industri hiburan modern.
Ke depan, bagaimana industri besar seperti Hollywood menyeimbangkan inovasi dan etika akan terus menjadi sorotan publik.
Editor : Muhammad Azlan Syah