RADARBONANG.ID - Dalam upaya memperkuat ketahanan nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia resmi menandatangani kesepakatan strategis untuk mendorong kolaborasi di bidang teknologi.
Fokus utamanya adalah menghadapi tantangan besar seperti kecerdasan buatan (AI), disrupsi digital, dan transformasi industri 5.0.
Penandatanganan dilakukan di Jakarta dan disaksikan langsung oleh perwakilan lembaga negara serta pelaku industri nasional.
Kolaborasi ini menandai langkah konkret pemerintah dan sektor swasta dalam menjembatani kesenjangan antara pengambilan kebijakan strategis dan inovasi teknologi yang terus berkembang cepat.
“Kita tidak bisa menghadapi revolusi teknologi sendirian. AI dan disrupsi digital dapat menjadi kekuatan positif atau ancaman nyata jika tidak dikendalikan dengan bijak. Lemhannas ingin membangun sinergi dengan Kadin agar Indonesia mampu merespons secara taktis dan visioner,” ujar Gubernur Lemhannas RI, Andi Widjajanto.
Kerja sama Lemhannas dan Kadin ini mencakup beberapa bidang krusial:
•Pembangunan ekosistem data nasional yang aman dan berdaulat
•Pengembangan kebijakan etika dan regulasi AI
•Peningkatan kapasitas SDM nasional di bidang teknologi
•Penerapan teknologi strategis untuk sektor pertahanan dan ekonomi
Kadin, yang mewakili pelaku usaha nasional, akan menjadi penghubung utama antara kebutuhan industri dan lembaga strategis negara.
Hal ini dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga menjadi produsen dan pelaku utama dalam rantai inovasi global.
“Industri harus siap bukan hanya menghadapi AI, tapi juga memanfaatkannya. Dengan Lemhannas, kita ingin menyatukan kepentingan strategis dan ekonomi,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid.
Kolaborasi ini lahir dari keprihatinan atas pesatnya perkembangan AI yang belum diimbangi dengan kesiapan regulasi, infrastruktur, dan kesadaran sosial.
Dalam laporan global terbaru, Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap disrupsi akibat teknologi otonom dan AI generatif, terutama dalam sektor pekerjaan dan keamanan siber.
Oleh karena itu, Lemhannas mendorong agar kebijakan nasional diarahkan tidak hanya untuk adaptasi, tapi juga proyeksi jangka panjang terhadap kemungkinan konflik atau instabilitas akibat teknologi.
Editor : Adib Turmudzi