Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kisah Pilu Legetang, Dusun di Banjarnegara yang Tertimbun Tanah dan Warga Tak Ada yang Selamat

Muhammad Azlan Syah • Jumat, 13 Februari 2026 | 14:10 WIB

Legetang, desa subur di Dieng, hilang dalam semalam karena longsor besar pada 1955. Kini hanya tinggal tugu peringatan sebagai saksi bisu tragedi yang tak terlupakan.
Legetang, desa subur di Dieng, hilang dalam semalam karena longsor besar pada 1955. Kini hanya tinggal tugu peringatan sebagai saksi bisu tragedi yang tak terlupakan.

RADARBONANG.ID – Di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, tersimpan kisah pilu yang tak lekang oleh waktu: hilangnya sebuah dusun beserta seluruh penduduknya hanya dalam satu malam.

Nama dusun itu adalah Legetang, yang kini tinggal sejarah dan tugu peringatan sebagai saksi bisu peristiwa tragis yang terjadi puluhan tahun silam.

Desa yang Dihancurkan Alam

Dusun Legetang dulunya berada di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, sebuah wilayah yang dikenal dengan tanahnya yang subur dan kehidupan pertanian yang makmur.

Baca Juga: Mengungkap Asal-usul Valentine’s Day, Perjalanan Sejarah Romawi Kuno hingga Jadi Simbol Kasih Sayang Global

Ratusan jiwa mendiami dusun ini, hidup dari bercocok tanam di lahan dataran tinggi yang kaya mineral dan air.

Namun, keindahan dan kesuburan itu berubah menjadi malapetaka pada 16–17 April 1955. Dalam malam yang tenang itu, lereng Gunung Pengamun-amun tiba-tiba longsor besar akibat hujan lebat berkepanjangan.

Tanah yang sudah jenuh air bergerak turun sehingga menimbun seluruh dusun dalam gelapnya malam.

Hilang dalam Sekejap

Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, suara gemuruh yang sangat keras terdengar dari arah lereng sebelum bencana terjadi.

Warga dusun tetangga yang tinggal sekitar satu kilometer dari Legetang mengaku mendengar suara itu, namun karena gelap dan minim penerangan, mereka enggan mendekat ke lokasi.

Baru keesokan paginya, setelah matahari terbit, mereka menemukan bahwa dusun Legetang telah lenyap.

Material tanah longsoran menutup rumah, ladang, dan kehidupan seluruh warga. Tingginya tumpukan tanah disebut mencapai lebih dari dua meter di sejumlah titik.

Sayangnya, upaya pencarian korban terbatas karena keterbatasan peralatan, sehingga banyak jasad warga tertimbun dan tak berhasil ditemukan.

Tugu Peringatan yang Menjadi Penanda

Kini lokasi bekas Dusun Legetang hanya tinggal cerita dan sebuah tugu beton setinggi sekitar 10 meter di tengah ladang kentang milik warga lokal.

Tugu ini dibangun sebagai penanda peristiwa luar biasa tersebut — sebuah monumen yang mengingatkan semua generasi bahwa bencana dapat datang tanpa ampun.

Pada prasasti yang terpasang juga tercatat jumlah korban yang mencapai ratusan jiwa.

Tugu itu kini tampak lapuk dimakan usia, namun bagi anak-cucu warga Pekasiran, keberadaannya tetap penting sebagai tanda pengingat masa lalu dan sebagai pelajaran tentang kekuatan alam.

Antara Fakta dan Cerita Turun-Temurun

Peristiwa Legetang sering diceritakan turun-temurun oleh penduduk sekitar. Meski ada beberapa versi cerita yang berkembang, termasuk yang mengaitkan bencana ini dengan murka atau kutukan karena perilaku sosial penduduknya, fakta sejarah terutama menunjukkan bahwa longsor besar akibat hujan ekstrim pada periode tersebut adalah penyebab utama tragedi ini.

Kisah dusun yang tiba-tiba hilang ini mirip dengan narasi tragedi alam lain di dunia — seperti lenyapnya kota kuno seperti Pompeii akibat letusan gunung berapi.

Baca Juga: Jung Eun-woo Meninggal Dunia di Usia 39, Unggahan Terakhirnya Memicu Perhatian Publik

Namun konteks dan lokasinya berbeda, karena Legetang lenyap bukan karena letusan vulkanik, melainkan longsor tanah yang sangat besar.

Warisan dan Pelajaran

Bencana Legetang menjadi pengingat bahwa wilayah Dieng, selain menyimpan pesona alam dan budaya, juga merupakan kawasan dengan risiko geologi tinggi.

Aktivitas hujan lebat dan karakter tanah lereng yang rapuh bisa saja memicu longsor besar. Pemahaman tentang risiko ini tetap penting agar tragedi serupa dapat diantisipasi di kemudian hari.

Kisah ini juga mengajarkan tentang fragilitas kehidupan manusia di hadapan kekuatan alam yang tak terduga. Meski Legetang kini hanya tinggal nama, kenangan tentang desa yang hilang dalam sekejap terus hidup dalam catatan sejarah dan memori masyarakat sekitar.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#bencana longsor Banjarnegara #legetang Dieng hilang #Dusun Legetang #sejarah Dieng #desa hilang dalam semalam