Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kisah Bilal bin Rabah Menerima Siksaan Kafir Quraisy, Menjadi Muadzin hingga Turut Serta Perang Bersama Rasulullah SAW

Amin Fauzie • Sabtu, 28 September 2024 | 23:29 WIB
Ilustrasi kisah Bilal bin Rabah, sahabat Rasulullah SAW yang pernah mengalami pedihnya siksaan Kafir Quraisy.
Ilustrasi kisah Bilal bin Rabah, sahabat Rasulullah SAW yang pernah mengalami pedihnya siksaan Kafir Quraisy.

RADARBONANG.ID - Salah satu sahabat Rasulullah yang pertama memeluk Islam dari golongan budak dan hamba sahaya adalah Bilal bin Rabah.

Bilal bin Rabah dikenal sang Muadzin Rasulullah SAW yang memiliki sejarah hidup yang amat hebat dalam perjuangan akidah.

Dalam artikel ini, Radar Bonang menampilkan Kisah Bilal bin Rabah, sosok Muadzin pertama kali yang mengumandangkan Adzan yang ceritanya senantiasa diulang dari zaman ke zaman tanpa membuat telinga manusia bosan untuk mendengarkannya.

Bilal bin Rabah, seorang pria yang dilahirkan dalam ketidakberdayaan, hidup di tanah gersang Mekkah kira-kira 34 tahun sebelum hijrah.

Ibunya, Hamamah, adalah seorang budak wanita berkulit hitam.

Karena itu, banyak orang memanggil Bilal dengan sebutan yang merendahkan, "Ibnu Sauda" – anak budak hitam.

Ia tumbuh dalam lingkungan yang keras, hidup sebagai budak yang tak punya banyak pilihan di bawah kekuasaan Bani Abdid Daar.

Masa itu adalah masa ketika kegelapan menyelimuti Mekkah, tetapi tak lama kemudian datanglah cahaya, sinar dari sebuah agama baru yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Bilal, tanpa ragu, termasuk dalam deretan orang-orang pertama yang menerima kebenaran Islam.

Ia memeluk agama ini meski tidak ada jaminan keselamatan atau kemudahan, bahkan ketika siksaan dan penderitaan sudah menjadi takdir bagi siapa pun yang berani melawan penguasa Quraisy.

Bagi Bilal, keyakinan pada Allah dan kebenaran yang dibawa Rasulullah lebih berharga dari hidupnya sendiri. Quraisy, yang begitu geram melihat keteguhan iman Bilal, memutuskan untuk membuatnya contoh bagi orang-orang lain.

Mereka menyiksanya dengan cara yang tak terbayangkan. Salah satu momen yang paling membekas dalam sejarah adalah saat Bilal ditindih dengan batu besar di dadanya di bawah terik matahari.

Cambukan bertubi-tubi menghujam punggungnya, tetapi yang keluar dari bibirnya hanya satu kata: “Ahad, Ahad”—Allah Yang Esa.

Dalam buku Kisah Heroik 65 Orang Sahabat Rasulullah SAW karya Dr. Abdurrahman Ra'fat al-Basya diceritakan, suatu hari mereka mendera punggung Bilal dengan cambuk, namun tetap saja Bilal berkata: Ahad, Ahad (Allah Yang Esa, Allah Yang Esa).

Mereka menimpakan batu-batu besar pada dada Bilal, namun tetap saja Bilal berkata: Ahad, Ahad (Allah Yang Esa, Allah Yang Esa).

Meski mereka sudah menyiksa dengan sekeras mungkin, namun tetap saja Bilal berkata: Ahad, Ahad (Allah Yang Esa, Allah Yang Esa).

Mereka berusaha mengingatkan Bilal kepada Lata wal Uzza, namun Bilal malah menyebut Allah dan Rasul-Nya.

Mereka berkata kepada Bilal: “Katakan apa yang kami ucapkan!”. Bilal pun menjawab: “Lisanku tidak dapat mengucapkannya.”

Maka sontak mereka menambahkan penyiksaannya dan semakin gila dalam penganiayaannya.

Pernah suatu hari Umayyah bin Khalaf mengikatkan sebuah tali besar di leher Bilal lalu menyerahkannya kepada orang-orang bodoh dan anak-anak.

Lalu, Umayyah menyuruh mereka untuk membawa Bilal keliling ke seluruh perkampungan Mekkah serta menariknya ke seluruh dataran yang ada di kota tersebut.

Namun, dalam merasakan penyiksaan, Bilal selalu mendendangkan ucapannya yang berbunyi: “Ahad, Ahad, Ahad, Ahad!” Dia tidak pernah bosan mengulanginya, dan tidak pernah berhenti mengucapkannya.

Di tengah penderitaan itu, datanglah Abu Bakar Ash-Shiddiq, seorang sahabat Rasulullah yang mulia.

Ia tahu betapa berharganya Bilal di mata Allah dan Rasul-Nya. Dengan tekad kuat, Abu Bakar berusaha membeli kebebasan Bilal.

Ketika Umayyah bin Khalaf mencoba memainkan harga, Abu Bakar tetap teguh.

Dengan 9 awqiyah emas, ia akhirnya berhasil membebaskan Bilal dari rantai perbudakan.

Kabar gembira ini segera disampaikan kepada Rasulullah SAW.

Mendengar bahwa Bilal telah dibebaskan, Rasulullah tersenyum dan berkata, “Libatkan aku dalam pembebasannya, wahai Abu Bakar!” Tetapi Abu Bakar dengan rendah hati menjawab, “Aku telah membebaskannya, ya Rasulullah.”

Setelah bebas, Bilal tak pernah berpisah dari Rasulullah. Dalam setiap perjalanan, setiap shalat, setiap perang, Bilal selalu ada di sisi Rasulullah.

Bahkan ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, Bilal ikut serta.

Di sana, ketika adzan pertama kali disyariatkan, Bilal mendapatkan kehormatan sebagai muadzin pertama yang mengumandangkan panggilan untuk shalat, sebuah tugas yang ia emban dengan penuh kebanggaan dan dedikasi.

Suatu hari, di tengah banyaknya manusia yang berkumpul di sekitar Ka'bah, Rasulullah memanggil Bilal untuk naik ke atas Ka'bah dan mengumandangkan adzan.

Dengan suaranya yang kuat, Bilal melantunkan kalimat tauhid, dan ribuan orang yang hadir, termasuk mereka yang baru saja masuk Islam, mengikuti setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya dengan khusyuk.

Namun, suatu ketika Rasulullah wafat, Bilal merasakan sesuatu yang tak biasa, saat ia mencoba mengumandangkan adzan seperti biasanya, suaranya tiba-tiba tercekik di tenggorokannya ketika ia hendak mengucapkan, “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.”

Air matanya tak terbendung, begitu juga dengan semua orang yang mendengar adzannya.

Kesedihan atas kepergian Rasulullah begitu mendalam sehingga Bilal tak sanggup lagi melanjutkan tugasnya sebagai muadzin.

Karena peristiwa itu, Bilal akhirnya meminta izin kepada Khalifah Abu Bakar untuk tidak lagi mengumandangkan adzan.

Bilal kemudian memilih untuk berangkat ke negeri Syam bersama para pejuang Islam.

Di sana, di tanah yang jauh dari Madinah, Bilal menghabiskan sisa hidupnya hingga ia menemui ajalnya di Damaskus.

Suara adzan Bilal mungkin telah terhenti, tetapi gaungnya akan terus terdengar dalam sejarah.

Keberanian dan keteguhannya adalah bukti bahwa iman mampu menaklukkan segalanya—bahkan rasa sakit dan penindasan.

Kisah Bilal bin Rabah adalah bukti nyata bagaimana keteguhan iman dapat mengalahkan segala bentuk penyiksaan, dan bagaimana seorang budak yang terpinggirkan bisa menjadi simbol kehormatan dalam sejarah Islam. (*)

Editor : Amin Fauzie
#Siksaan Kafir Quraisy #kisah #Rasulullah SAW #bilal bin rabah #As Sabiquna Al Awwalun #Muadzin pertama kali #Adzan #sahabat