Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Charlotte, Emily, dan Anne Brontë: Kisah di Balik Nama Pena Brontë Bersaudara

Shafa Dina Hayuning Mentari
Potret lukisan bronte bersaudara. (istimewa)
Potret lukisan bronte bersaudara. (istimewa)

Advertisement

RADARBONANG.ID – Sebelum dikenal sebagai penulis karya sastra klasik Inggris, Charlotte, Emily, dan Anne Brontë harus menyembunyikan identitas mereka di balik nama pena laki-laki.

Ketiganya menggunakan nama Currer Bell, Ellis Bell, dan Acton Bell ketika menerbitkan karya pada abad ke-19 demi menghindari prasangka terhadap perempuan di dunia sastra.

Kisah perjuangan tiga bersaudara tersebut menjadi gambaran tentang tantangan yang dihadapi perempuan untuk memperoleh pengakuan di era Victoria.

Kala itu, dunia kepenulisan didominasi laki-laki, sementara perempuan yang ingin berkarier sebagai penulis kerap dipandang sebelah mata.

Sebagaimana ditulis Prihandini Anisa dalam Historia pada 17 September 2026, salah satu pengalaman yang menggambarkan kuatnya pandangan tersebut dialami Charlotte Brontë.

Advertisement

Pada 1836, Charlotte mengirimkan puisi dan surat kepada penyair Robert Southey untuk meminta masukan mengenai karyanya.

Balasan yang diterimanya justru menyarankan agar Charlotte tidak menjadikan sastra sebagai fokus utama hidupnya. 

Meski mendapat tanggapan yang mengecilkan harapannya, Charlotte tidak menghentikan keinginannya untuk menulis.

Bersama kedua adiknya, dia terus mengembangkan karya hingga akhirnya nama mereka dikenal luas melalui novel-novel yang kini menjadi bagian penting dalam sejarah sastra Inggris.

Tumbuh dalam Keluarga yang Dekat dengan Buku

Advertisement
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari

Artikel Terkait

Mengenal Novel Hujan Tere Liye, Ketika Kisah Cinta Bertemu Teknologi Masa Depan dan Perpisahan

Mengenal Novel Hujan Tere Liye, Ketika Kisah Cinta Bertemu Teknologi Masa Depan dan Perpisahan

Novel Hujan karya Tere Liye mengisahkan Lail dan Esok dalam dunia masa depan, dengan cerita tentang cinta, persahabatan, kehilangan, dan kenangan.

Resensi Novel Cantik Itu Luka: Ketika Sejarah Kelam, Cinta, dan Kutukan Berbaur dalam Satu Kisah

Resensi Novel Cantik Itu Luka: Ketika Sejarah Kelam, Cinta, dan Kutukan Berbaur dalam Satu Kisah

Resensi novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, mengulas sinopsis, kritik sosial, realisme magis, serta pesan mendalam di balik kisahnya.

Menolak Lupa Lewat ‘Laut Bercerita’: Perlawanan Kultural Generasi Muda Terhadap Pembungkaman Sejarah

Menolak Lupa Lewat ‘Laut Bercerita’: Perlawanan Kultural Generasi Muda Terhadap Pembungkaman Sejarah

Bagaimana novel berat bisa digandrungi generasi muda? Simak ulasan di balik kesuksesan Laut Bercerita.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer