RADARBONANG.ID – Memasuki 10 malam terakhir Ramadan, suasana di berbagai masjid sering berubah secara drastis.
Jika pada malam-malam sebelumnya masjid mulai lengang setelah salat tarawih, pada periode ini justru terlihat semakin ramai hingga larut malam bahkan mendekati waktu sahur.
Karpet masjid dipenuhi jamaah yang duduk membaca Al-Qur’an, berzikir, atau melaksanakan salat malam.
Beberapa di antaranya juga membawa tas kecil berisi perlengkapan pribadi seperti sajadah, mushaf Al-Qur’an, hingga selimut tipis untuk beristirahat sejenak.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Banyak umat Muslim memilih menjalani i’tikaf pada penghujung Ramadan, yakni berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Baca Juga: Bukan Sekadar Drama Seni, The Art of Sarah Tawarkan Misteri dan Intrik yang Bikin Penonton Ketagihan
Lalu, apa sebenarnya yang membuat begitu banyak orang rela menghabiskan malam di masjid selama 10 hari terakhir Ramadan?
Berburu Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Salah satu alasan utama orang melakukan i’tikaf adalah keinginan untuk mendapatkan malam istimewa yang dikenal sebagai Lailatul Qadr.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa malam tersebut memiliki nilai yang lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam itu diyakini memiliki pahala yang sangat besar, bahkan setara dengan puluhan tahun ibadah.
Namun, waktu pasti datangnya Lailatul Qadr tidak pernah disebutkan secara jelas. Banyak ulama menjelaskan bahwa malam tersebut kemungkinan terjadi pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan.
Karena itulah, banyak umat Muslim berusaha menghidupkan seluruh malam pada periode tersebut dengan berbagai amalan, salah satunya melalui i’tikaf di masjid.
Menjauh dari Hiruk-Pikuk Dunia
Selain untuk mengejar keutamaan ibadah, i’tikaf juga menjadi kesempatan bagi banyak orang untuk sejenak menjauh dari kesibukan kehidupan sehari-hari.
Di tengah kehidupan modern yang penuh aktivitas, pekerjaan, serta berbagai distraksi digital, tidak semua orang memiliki waktu untuk benar-benar fokus pada ibadah.
Dengan menjalani i’tikaf, seseorang bisa mengurangi interaksi dengan dunia luar dan lebih banyak menghabiskan waktu dalam suasana yang tenang dan penuh refleksi.
Masjid menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan spiritual. Di sana, seseorang dapat membaca Al-Qur’an, berdoa, berzikir, serta merenungkan perjalanan hidup tanpa gangguan rutinitas harian.
Menghidupkan Malam-Malam Ramadan
Bagi banyak umat Muslim, 10 malam terakhir Ramadan dianggap sebagai fase paling penting dalam bulan puasa. Pada periode ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.
Berbagai amalan biasanya dilakukan sepanjang malam, mulai dari salat tahajud, zikir, tadarus Al-Qur’an, hingga memperbanyak doa.
I’tikaf membantu seseorang menjaga konsistensi ibadah tersebut. Dengan berada di lingkungan masjid, seseorang cenderung lebih mudah mempertahankan fokus dan semangat spiritual.
Tidak sedikit jamaah yang mengaku ibadah terasa lebih khusyuk ketika dilakukan bersama orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah.
Fenomena yang Semakin Ramai
Menariknya, fenomena i’tikaf kini tidak hanya dilakukan oleh kalangan tertentu saja. Jika dulu kegiatan ini identik dengan orang tua atau tokoh agama, kini semakin banyak generasi muda yang ikut meramaikan masjid pada 10 malam terakhir Ramadan.
Sebagian dari mereka datang bersama teman atau komunitas. Mereka melakukan berbagai kegiatan seperti tadarus bersama, mengikuti kajian agama, hingga berbuka dan sahur bersama di masjid.
Kehadiran anak muda ini membuat suasana masjid terasa lebih hidup. Selain menjadi tempat ibadah, masjid juga menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat rasa persaudaraan di antara jamaah.
Baca Juga: Ramadan Jadi “Bootcamp” Frugal Living: Saat Puasa Diam-Diam Mengajarkan Hidup Lebih Hemat
Kesempatan yang Datang Sekali Setahun
Bagi banyak orang, bulan Ramadan adalah momen yang sangat berharga karena hanya datang sekali dalam setahun. Terlebih lagi pada 10 malam terakhir yang diyakini memiliki keutamaan luar biasa.
Karena itulah, i’tikaf sering dianggap sebagai kesempatan untuk memaksimalkan ibadah sebelum Ramadan berakhir.
Di tengah keheningan malam, para jamaah duduk bersimpuh dalam doa, membaca Al-Qur’an, atau sekadar merenung dalam ketenangan.
Mereka datang dengan harapan yang sama: semoga di antara malam-malam tersebut terdapat Lailatul Qadr, malam penuh keberkahan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Editor : Muhammad Azlan Syah