Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Bukan Sekadar Menahan Lapar, Puasa Ramadan Jadi Momentum Tubuh Daur Ulang Sel Rusak Lewat Autophagy

Rista Dwi Indarwati • Senin, 23 Februari 2026 | 11:45 WIB

Bukan cuma menahan lapar, puasa Ramadan ternyata mengaktifkan autophagy — proses alami tubuh mendaur ulang sel rusak jadi lebih sehat.
Bukan cuma menahan lapar, puasa Ramadan ternyata mengaktifkan autophagy — proses alami tubuh mendaur ulang sel rusak jadi lebih sehat.

RADARBONANG.ID – Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Di balik rasa perut kosong, ternyata tubuh manusia sedang menjalankan sebuah mekanisme biologis luar biasa yang disebut autophagy — proses “pembersihan mandiri” sel dengan mendaur ulang komponen yang rusak menjadi energi baru dan sel yang lebih sehat.

Istilah autophagy pertama kali dipopulerkan secara luas oleh ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang meraih Penghargaan Nobel Kedokteran pada 2016 berkat penelitiannya mengenai mekanisme ini.

Penemuan tersebut membuka pemahaman baru bahwa puasa bukan sekadar praktik spiritual, tetapi juga memiliki dampak ilmiah yang signifikan terhadap kesehatan tubuh.

Baca Juga: Hidup Terasa Sibuk tapi Tidak Berprogres? 5 Rahasia Produktivitas Berkah Menurut Ustad Abdurrahman Zahir

Tubuh Masuk Mode “Bertahan Hidup” yang Cerdas

Secara medis, autophagy aktif ketika tubuh tidak menerima asupan makanan dalam jangka waktu tertentu.

Saat seseorang berpuasa, cadangan gula dalam bentuk glikogen yang tersimpan di hati dan otot perlahan habis. Biasanya, kondisi ini terjadi setelah sekitar 10–12 jam tanpa asupan kalori.

Pakar kesehatan, dr. Indra Gunawan, menjelaskan bahwa pada fase tersebut tubuh mulai beralih ke mode efisiensi tinggi.

“Ketika cadangan energi cepat pakai sudah habis, tubuh tidak langsung melemah. Justru sebaliknya, ia melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap komponen sel yang sudah menua atau rusak,” ujarnya dalam sebuah kajian kesehatan.

Proses itu ibarat sistem daur ulang internal. Protein rusak, sisa metabolisme, bahkan partikel asing seperti virus dan bakteri yang tidak lagi dibutuhkan akan diidentifikasi, dihancurkan, lalu diubah menjadi bahan baku baru berupa asam amino dan energi. Hasilnya, terbentuk sel-sel yang lebih sehat dan berkualitas.

Benteng Alami Melawan Penyakit

Menariknya, autophagy bukan hanya sekadar “bersih-bersih” sel. Mekanisme ini juga disebut berperan dalam menekan risiko berbagai penyakit kronis. Saat puasa, kadar gula darah dan insulin menurun secara alami.

Kondisi rendah insulin inilah yang menciptakan lingkungan kurang ideal bagi pertumbuhan sel kanker, yang umumnya membutuhkan pasokan energi tinggi untuk berkembang.

Selain itu, autophagy membantu membersihkan penumpukan protein abnormal di otak yang sering dikaitkan dengan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Dengan kata lain, puasa berpotensi membantu menjaga fungsi kognitif dan memperlambat proses penuaan sel.

Beberapa penelitian modern juga mengaitkan autophagy dengan peningkatan sistem imun dan perbaikan metabolisme.

Tubuh menjadi lebih sensitif terhadap insulin, pembakaran lemak lebih optimal, serta risiko peradangan kronis bisa ditekan.

Tantangan Saat Berbuka Puasa

Namun, manfaat besar ini dapat berkurang bahkan hilang jika pola makan saat berbuka tidak terkontrol.

Lonjakan gula darah akibat konsumsi makanan tinggi gula sederhana dan karbohidrat olahan secara berlebihan dapat memicu peningkatan insulin yang tajam.

Kondisi ini berpotensi “mematikan” proses autophagy yang sebelumnya sudah aktif selama berpuasa.

Karena itu, masyarakat dianjurkan berbuka secara bertahap. Mengikuti anjuran sunah, memulai dengan kurma dan air putih menjadi pilihan bijak.

Kandungan serat alami dalam kurma membantu menjaga kestabilan gula darah agar tidak melonjak drastis.

Setelah itu, makanan utama sebaiknya tetap seimbang, mengandung protein, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks.

Selain menjaga pola makan, kualitas tidur dan kecukupan cairan juga berperan penting dalam mendukung proses regenerasi sel selama Ramadan.

Ramadan: Harmoni Ibadah dan Ilmu Pengetahuan

Pemahaman tentang autophagy memberi perspektif baru bahwa puasa Ramadan menyimpan hikmah kesehatan yang mendalam.

Baca Juga: Ramadan di Madinah: Suasana Buka Puasa di Masjid Nabawi yang Dipenuhi Jamaah, Sedekah Hidangan, dan Spiritualitas yang Mendalam

Ibadah yang dijalankan dengan niat spiritual ternyata selaras dengan mekanisme ilmiah tubuh manusia.

Di balik rasa lapar yang mungkin terasa berat di awal, tubuh justru sedang bekerja memperbaiki diri pada tingkat seluler.

Proses ini menjadi momentum alami untuk “mereset” metabolisme, memperkuat daya tahan, dan memperbaharui kualitas sel.

Dengan menjaga pola makan yang tepat serta menjalankan puasa secara konsisten dan sehat, umat Muslim dapat merasakan manfaat ganda: pahala ibadah sekaligus peningkatan kesehatan jangka panjang.

Karena sesungguhnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang memberi kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan dan memperbaharui dirinya secara alami.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#puasa turunkan gula darah #manfaat puasa Ramadan bagi kesehatan #autophagy saat puasa #daur ulang sel rusak #puasa dan pencegahan kanker