TUBAN-Apa makna sesungguhnya dari Idul Fitri?
Mengutip literatur-literatur Islam klasik, laman Ponpes Langitan Tuban mengupas Idul Fitri disebut sebagai Idul Ashgar atau hari raya kecil.
Sedangkan Idul Adha disebut Idul Akbar atau hari raya besar.
Idul Fitri juga dianggap sebagai hari kemenangan mengalahkan hawa nafsu setelah berpuasa selama sebulan penuh.
Untuk lebih memahami makna Idul Fitri dikupas dari sisi etimologis dan terminologi. Berikut penjelasannya:
1. Sisi etimologis
Idul Fitri terdiri dari dua kata. Pertama, kata ‘id yang dalam bahasa Arab bermakna kembali, dari asal kata ada.
Ini menunjukkan bahwa Hari Raya Idul Fitri selalu berulang dan kembali datang setiap tahun.
Sebagian merujuk kata ‘adah yang berarti kebiasaan, yang bermakna bahwa umat Islam sudah biasa pada 1 Syawal selalu merayakannya (Ibnu Mandlur, Lisaanul Arab).
Dalam Alquran diceritakan, ketika para pengikut Nabi Isa tersesat, mereka pernah berniat mengadakan ‘id (hari raya atau pesta) dan meminta kepada Nabi Isa agar Allah SWT menurunkan hidangan mewah dari langit (QS Al Maidah 112-114).
Allah SWT mengabulkan permintaan tersebut dan menurunkan makanan.(QS Al-Maidah: 115).
Sejak itulah berlaku budaya hari raya sangat identik dengan makan-makan dan minum-minum yang serbamewah.
Dalam hari raya tak ada larangan menyediakan makanan, minuman, dan pakaian baru selama tidak berlebihan dan tidak melanggar larangan. Apalagi bila disediakan untuk yang membutuhkan.
Abdur Rahman Al Midani dalam bukunya Ash-Shiyam Wa Ramadhân Fil Kitab Was Sunnah (Damaskus), menjelaskan beberapa etika merayakan Idul Fitri.
Di antaranya untuk merayakan Idul Fitri umat Islam perlu makan secukupnya sebelum berangkat ke tempat sholat id, memakai pakaian yang paling bagus, saling mengucapkan selamat dan doa semoga Allah SWT menerima puasanya, serta memperbanyak bacaan takbir.
Kata yang kedua adalah fitri. Fitri atau fitrah dalam bahasa Arab berasal dari kata fathara yang berarti membedah atau membelah, bila dihubungkan dengan puasa maka mengandung makna berbuka puasa (ifthaar).
Kembali kepada fitrah, ada kalanya ditafsirkan kembali kepada keadaan normal, kehidupan manusia yang memenuhi kehidupan jasmani dan rohaninya secara seimbang.
Sementara kata fithrah bermakna yang mula-mula diciptakan Allah SWT.
Berkaitan dengan fitrah manusia, Allah SWT berfirman; Dan, ketika Tuhanmu mengeluarkan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?
Mereka menjawab: ”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (QS. Al A`râf: 172).”
Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh manusia pada firtah-nya mempunyai ikatan primordial yang berupa pengakuan terhadap ketuhanan Allah SWT.
Rasulullah SAW juga mempertegas dengan sabdanya; “Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah: kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi.’’ (HR. Bukhari)
2. Sisi terminologi
Meski dalam literatur-literatur Islam klasik, Idul Fitri disebut sebagai Idul Ashgar (hari raya yang kecil), umat Islam di tanah air lebih semarak merayakan Idul Fitri dibandingkan hari-hari besar lainnya.
Momen Idul Fitri dirayakan dengan aneka ragam acara, dimulai dengan shalat Id berjamaah di lapangan terbuka hingga halal bi halal antarkeluarga.
Dalam terminologi Islam, Idul Fitri secara sederhana adalah hari raya yang datang berulang kali setiap 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari.
Artinya, kata fitri diartikan berbuka atau berhenti puasa yang identik dengan makan-makan dan minum-minum.
Tidak salah apabila Idul Fitri disambut dengan pesta makan-makan dan minum-minum mewah yang tak jarang terkesan diada-adakan sebagian keluarga.
Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna Idul Fitri, juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi.
Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci, sebagaimana dia baru saja dilahirkan dari rahim ibu.
Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.
Idul Fitri berarti kembali pada naluri kemanusian yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci. Kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak islami. Inilah makna Idul Fitri yang sesungguhnya.
Adalah kesalahan besar apabila Idul Fitri dimaknai dengan perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum, sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah Idul Fitri balas dendam.
Atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan.
Intinya, kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang saleh musiman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrian dan nilai ketakwaan. (*)