Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Etika Makan Rasulullah Mengunyah 33 Kali dan Manfaatnya dari Segi Medis

Dwi Setiyawan • Minggu, 31 Maret 2024 | 17:00 WIB

Ilustrasi makan
Ilustrasi makan


TUBAN-Rasulullah SAW mengajarkan berbagai etika kehidupan yang menyimpan manfaat luas. Salah satunya etika makan.

Laman Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta mengupas, salah satu yang diajarkan Rasulullah adalah makan secara perlahan.

Artinya, tidak tergesa-gesa dan mengunyah makanan dengan sempurna.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW: Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan. (HR. Al-Baihaqi dari Anas bin Malik RA).

Rasulullah SAW juga bersabda; Kecilkan suapan dan baguskan mengunyahnya.

Beberapa sumber menyebut Rasul mengunyah makanannya sebanyak 33 kali. Sumber lain menyebut 32 kali.

Makna tersebut bukan pada berapa banyak kunyahannya, melainkan anjuran untuk mengunyah dengan sempurna hingga makanan yang ditelan menjadi halus.

Banyak tidak memperhatikan anjuran tersebut dan makan dengan terburu-buru. Terutama bagi yang lapar dan sedang sibuk.

Dari segi medis, mengunyah merupakan tahap pertama dalam proses pencernaan sebelum makanan ditelan dan masuk ke dalam kerongkongan.

Proses mengunyah bertujuan memperkecil ukuran makanan, sehingga terbentuk bolus (partikel kecil) yang mudah ditelan dan mengurangi risiko tersedak.

Selain itu, liur di dalam mulut mengandung air dan lendir yang juga berperan dalam proses tersebut.

Makanan akan terbasahi air dan terikat lendir, sehingga menjadi licin dan mudah ditelan.

Air liur juga mengandung enzim ptialin (amilase) yang berfungsi mengubah karbohidrat menjadi gula sederhana (maltosa) sehingga lebih mudah dicerna tubuh.

Dengan mengunyah secara sempurna, waktu kontak antara makanan dengan saliva menjadi lebih optimal.

Makanan yang dikunyah dengan sempurna 33 kali dapat meringankan kerja lambung karena hanya partikel kecil yang dapat dengan mudah dicerna oleh enzim di lambung.

Sebaliknya, makanan yang sulit dicerna dapat menyebabkan naiknya asam lambung dan sisa makanan ke kerongkongan.

Peristiwa tersebut memicu terjadinya gerd atau yang dikenal sebagai penyakit maag.

Setelah dicerna lambung, makanan akan diserap oleh usus yang bersifat selektif.

Hanya partikel berukuran Sementara partikel yang lebih besar dari itu akan langsung dikeluarkan dari tubuh.

Makanan yang tidak dikunyah dengan sempurna tidak dapat diserap dengan baik di usus.

Hal ini dapat menyebabkan tubuh menjadi kekurangan nutrisi karena makanan tersebut akan langsung dikeluarkan dari tubuh tanpa diserap dengan baik.

Sisa makanan inilah yang kemudian akan difermentasi oleh bakteri jahat di usus dan menghasilkan gas. Gas hasil fermentasi tersebut dapat menyebabkan perut kembung, sendawa, dan buang angin yang berlebihan.

Selain bermanfaat untuk proses pencernaan, mengunyah secara perlahan dan sempurna dapat membantu menurunkan berat badan.

Ketika seseorang mengunyah secara perlahan, otak akan mengirimkan sinyal bahwa makanan tersebut sudah cukup sehingga lambung akan menjadi lebih cepat kenyang.

Dengan demikian, porsi makan akan menjadi lebih terkontrol dan berdampak positif terhadap penurunan berat badan. (*)

Editor : Amin Fauzie
#Etika Makan Rasulullah #Mengunyah 33 Kali