TUBAN-Tembang Cublak-Cublak Suweng dikenal sebagai lagu yang mengiringi dolanan cublak-cublak suweng.
Tembang berbahasa Jawa ini berasal dari Jawa Tengah yang diciptakan Wali Songo.
Dolanan atau permainan juga menjadi salah satu media dakwah Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Nusantara.
Dalam sejarah permainan ini yang dikupas di laman Universitas Negeri Jakarta disebutkan makna pesan filosofis dari Wali Songo untuk diteruskan kepada generasi mendatang.
Berikut lirik dan maknanya:
Cublak cublak suweng (Cublak=tempat, suweng=anting, perhiasan wanita Jawa).
Maknanya, tempat harta berharga atau harta sejati.
Suwenge teng gelenter (Teng gelenter= berserakan).
Maknanya, harta sejati itu berupa kebahagiaan dan berserakan di sekitar manusia.
Mambu ketundhung gudhel (Mambu=bau, ketundhung=ditujukan, gudhel=anak kerbau).
Maknanya orang berusaha mencari harta sejati. Bahkan, orang-orang bodoh diibaratkan anak kerbau mencari harta dengan penuh nafsu ego, korupsi dan keserakahan, dengan tujuan menemukan kebahagiaan sejati.
Pak empo lera-lere (Pak empo=laki-laki tua ompong, lera lere=(bingung/menengok kanan kiri).
Maknanya, orang-orang bodoh itu diibaratkan seperti orang tua ompong yang kebingungan. Meski hartanya berlimpah, namun harta palsu bukan harta sejati atau kebahagiaan. Mereka kebingungan karena dikuasai hawa nafsu keserakahan sendiri.
Sopo ngguyu ndhelikake (Sopo ngguyu= siapa tertawa, ndhelikake= menyembunyikan).
Maknanya, barang siapa bijaksana, dialah yang menemukan tempat harta sejati. Dia adalah orang yang tersenyum-sumeleh dalam menjalani setiap keadaan hidup sekalipun berada di tengah-tengah kehidupan orang-orang yang serakah.
Sir pong dele kopong (Sir=hati nurani, pong dele kopong=kedelai kosong)
Maknanya, di dalam hati nurani yang kosong. Untuk sampai pada tempat harta sejati, orang harus melepaskan diri dari kecintaan pada harta benda duniawi, mengosongkan diri, rendah hati tidak merendahkan sesama, serta senantiasa memakai rasa dan mengasah tajam hati nuraninya. (*)