TUBAN- Pada renovasi terakhir pada 2004 yang merombak total bangunan utamanya, Masjid Agung Tuban, Jawa Timur masih mempertahankan sejumlah bangunan situs bersejarah.
Pertimbangan mempertahankan situs-situs tersebut karena tingginya nilai Sejarah.
Masjid di barat Alun-Alun Tuban yang mulanya bernama Masjid Jami’ tersebut dibangun pada abad ke-XV masehi. Persisnya, pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tejo, bupati Tuban ke-7.
Raden Ario Tejo adalah bupati Tuban pertama yang memeluk agama Islam.
Renovasi pertama Masjid Agung Tuban di Jalan Sunan Bonang tersebut berlangsung pada 1894 semasa pemerintahan Raden Toemenggoeng Koesoemodiko, bupati ke-35 Tuban.
Saat itu, Raden Toemenggoeng Koesoemodiko menggunakan jasa arsitek berkebangsaan Belanda, BOHM Toxopeus.
Nama arsitek inilah yang terpahat pada prasasti batu marmer yang terpasang pada dinding luar bagian tengah masjid.
Tertulis, Batoe Jang Pertama dari Inie Missigit (masjid) di Pasang pada Hari Akat Tanggal 29 Juli 1894 oleh Raden Toemenggoeng Koesoemodikdo Bupati Toeban.
Inie Missigit Terbikin oleh Toewan Oezichter B. O. W. HM Toxopeus.
Renovasi besar selanjutnya berlangsung 1985 ketika bangunan masjid mengalami perluasan. Renovasi terakhir berlangsung pada 2004.
Diwawancarai pada 4 Agustus 2012 mengatakan, Wakil Ketua Takmir Masjid Agung Tuban, Ahmad Mundzir mengatakan, dua bangunan bersejarah yang masih dipertahankan dalam renovasi besar pada 2004 adalah bangunan kubah kecil yang dipakai tempat wudlu pria dan wanita.
Setelah direnovasi, bangunan tersebut kini berada di bagian dalam sisi utara dan selatan masjid.
‘’Setelah direnovasi, bangunan ini dialihfungsikan sebagai tangga penghubung,’’ tuturnya.
Bangunan berikutnya yang masih dipertahankan keasliannya, lanjut dia, adalah pilar luar atau depan yang menempel batu prasasti.
Juga, menara di selatan tempat pengimaman.
Bangunan menara yang dulunya tak begitu tinggi, kini ditambah hingga tampak menjulang.
‘’Tangga yang menuju menara ini juga terlihat masih asli,’’ tandas ulama itu.
Mundzir mengungkapkan, bangunan lain yang masih asli adalah empat soko guru di bagian tengah dan enam pilar bagian luar.
Salah satu ornamen yang masih dipertahankan adalah lampu sewu yang terpasang menjuntai dari atas kubah. (*)