RADARBONANG.ID – Harga emas batangan di Indonesia kembali mencetak sejarah.
Pada perdagangan Selasa, 21 Januari 2026, harga emas produksi Antam dan Antam Retro resmi menembus level psikologis Rp3 juta per gram.
Lonjakan ini sekaligus menandai rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan emas ritel di Tanah Air.
Data dari Pegadaian menunjukkan kenaikan harga terjadi merata pada hampir seluruh produk logam mulia, termasuk Antam, Galeri 24, dan UBS.
Baca Juga: Emas Batangan Antam Cetak All Time High Lagi, Harga 1 Gram Capai Rp2.705.000
Kenaikan ini melanjutkan tren bullish yang telah berlangsung sejak akhir 2025, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan pergeseran minat investor ke aset lindung nilai (safe haven).
Untuk ukuran 1 gram, emas Antam dibanderol sekitar Rp3.011.000, naik signifikan dibanding hari sebelumnya.
Sementara itu, Antam Retro—yang selama ini dibanderol sedikit lebih murah—ikut menembus angka Rp3 juta per gram, mencatat tonggak baru dalam sejarah pergerakan harga emas nasional.
Tak hanya Antam, produk emas lainnya juga mengalami penguatan harga.
Emas UBS 1 gram kini berada di kisaran Rp2,82 jutaan, sedangkan emas Galeri 24 1 gram diperdagangkan sekitar Rp2,76 jutaan.
Meski belum menyentuh angka Rp3 juta, kedua produk ini tetap mencerminkan lonjakan harga yang tajam dalam waktu singkat.
Dorongan Global dan Domestik
Analis menilai lonjakan harga emas domestik tak lepas dari penguatan harga emas dunia.
Ketegangan geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta fluktuasi nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga logam mulia.
Di sisi lain, permintaan emas fisik di dalam negeri juga tetap kuat. Masyarakat masih menjadikan emas sebagai instrumen penyimpan nilai yang relatif aman, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Momentum awal tahun yang biasanya diiringi perencanaan investasi turut memperkuat permintaan.
Emas produksi Antam tetap menjadi primadona karena memiliki tingkat likuiditas tinggi dan sertifikasi internasional.
Hal ini membuat harga Antam cenderung lebih mahal dibanding UBS atau Galeri 24, namun juga lebih diminati karena mudah diperjualbelikan kembali.
Perbedaan Harga Antar Produk
Perbedaan harga antar merek emas disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari biaya produksi, sertifikasi, hingga tingkat kepercayaan pasar.
Antam Retro, meski berasal dari Antam, biasanya dipasarkan dengan harga sedikit lebih rendah karena desain kemasan lama. Namun kini, lonjakan harga membuat selisih tersebut semakin tipis.
Sementara itu, UBS dan Galeri 24 kerap menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin berinvestasi emas dengan modal lebih terjangkau.
Kendati harganya lebih rendah, tren kenaikan yang konsisten tetap menjadikan kedua produk ini menarik untuk investasi jangka menengah hingga panjang.
Strategi Investor di Tengah Harga Tinggi
Meski harga emas berada di level tertinggi, para analis mengingatkan masyarakat agar tetap bijak.
Bagi investor jangka panjang, kenaikan ini mencerminkan kuatnya fundamental emas sebagai aset lindung nilai. Namun untuk investor jangka pendek, volatilitas tetap perlu diwaspadai.
Baca Juga: Stres, Capek, Mumet? Anak Muda Sekarang Pilih Angkat Barbel
Masyarakat disarankan memperhatikan selisih harga beli dan harga jual kembali (buyback), serta menyesuaikan pembelian dengan tujuan keuangan masing-masing.
Membeli emas secara bertahap (dollar cost averaging) dinilai lebih aman dibanding membeli dalam jumlah besar sekaligus saat harga berada di puncak.
Dengan tren global yang masih penuh ketidakpastian, harga emas diperkirakan tetap berpotensi bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.
Namun satu hal pasti, tembusnya harga Rp3 juta per gram menjadi penanda penting dalam sejarah investasi emas di Indonesia.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah