Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Semua Dibagikan ke Story? Fenomena Oversharing yang Diam-Diam Mengintai Gen Z

Widodo • Rabu, 11 Maret 2026 | 14:28 WIB

Dari bangun tidur hingga curhat soal hubungan, banyak orang kini membagikan hampir semua hal ke media sosial. Fenomena oversharing pun makin sering terjadi di era digital.
Dari bangun tidur hingga curhat soal hubungan, banyak orang kini membagikan hampir semua hal ke media sosial. Fenomena oversharing pun makin sering terjadi di era digital.

RADARBONANG.ID – Bangun tidur langsung mengecek ponsel. Saat sarapan mengunggah foto ke story. Ketika suasana hati sedang buruk, menulis caption panjang di media sosial.

Bagi banyak orang saat ini, media sosial sudah seperti buku harian digital tempat mencurahkan berbagai cerita.

Apa yang dipikirkan, dirasakan, hingga masalah pribadi sering kali langsung berpindah ke layar ponsel dan dibagikan kepada publik.

Kebiasaan ini kemudian memunculkan istilah yang semakin sering dibicarakan di era digital: oversharing.

Baca Juga: Sebelum Majapahit Berdiri, Ini 5 Kerajaan Tertua Indonesia yang Mengawali Peradaban Nusantara

Secara sederhana, oversharing merupakan kebiasaan membagikan terlalu banyak informasi pribadi di ruang publik digital.

Hal ini bisa terjadi secara sadar maupun tanpa disadari. Banyak orang merasa media sosial menjadi tempat paling cepat untuk mengekspresikan emosi, terutama ketika sedang mengalami tekanan atau masalah.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah semua hal memang perlu dibagikan di internet?

Dari Curhat Biasa ke Terlalu Terbuka

Kemunculan berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X membuat aktivitas berbagi cerita terasa sangat mudah.

Hanya dengan satu unggahan, ratusan bahkan ribuan orang bisa melihat apa yang sedang dialami seseorang dalam hitungan detik.

Mulai dari keluhan tentang pekerjaan, konflik dengan teman, hingga persoalan hubungan asmara sering kali muncul di timeline publik. Banyak orang merasa lega setelah menuliskan cerita mereka di media sosial.

Perasaan tersebut wajar. Menulis atau berbicara tentang masalah memang bisa membantu seseorang melepaskan emosi yang terpendam.

Namun ketika terlalu banyak informasi pribadi dibagikan secara terbuka, batas antara ruang pribadi dan ruang publik menjadi semakin kabur.

Kenapa Orang Mudah Oversharing?

Fenomena oversharing tidak muncul begitu saja. Ada sejumlah faktor psikologis yang membuat seseorang terdorong untuk membagikan terlalu banyak cerita di internet.

Salah satunya adalah kebutuhan akan validasi sosial. Ketika seseorang mengunggah cerita dan mendapatkan banyak respons berupa like, komentar, atau pesan dukungan, muncul perasaan dihargai oleh orang lain.

Menurut penelitian yang dirilis oleh American Psychological Association, aktivitas berbagi pengalaman pribadi di media sosial dapat memicu pelepasan dopamin di otak.

Dopamin merupakan zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan. Inilah sebabnya seseorang bisa merasa lebih baik setelah mendapatkan respons positif dari unggahannya.

Efek ini membuat aktivitas berbagi cerita di media sosial menjadi semacam kebiasaan yang terus berulang. Tanpa disadari, seseorang bisa semakin sering membagikan berbagai hal tentang dirinya.

Risiko yang Sering Terabaikan

Meskipun terasa menyenangkan, kebiasaan oversharing juga memiliki sejumlah risiko yang sering kali tidak disadari.

Informasi yang dibagikan di internet tidak selalu benar-benar hilang, bahkan setelah dihapus. Jejak digital bisa bertahan lama dan berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Perusahaan keamanan siber Kaspersky pernah mengingatkan bahwa terlalu banyak membagikan informasi pribadi di media sosial dapat membuka peluang penyalahgunaan data, pencurian identitas, hingga penipuan digital.

Selain itu, oversharing juga dapat memicu konflik sosial. Misalnya ketika seseorang mengunggah masalah pribadi yang melibatkan orang lain.

Hal yang awalnya hanya emosi sesaat bisa berubah menjadi drama publik karena disaksikan banyak orang. Situasi ini sering kali membuat masalah menjadi semakin rumit.

Belajar Menjaga Batas di Era Digital

Di tengah perkembangan teknologi, berbagi cerita di media sosial memang sulit dihindari. Platform digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda.

Baca Juga: Review MacBook Neo Bermunculan, Laptop Murah Apple Ini Layak Dibeli?

Namun semakin banyak orang mulai menyadari satu hal penting: tidak semua hal harus dibagikan ke internet.

Ada cerita yang cukup disimpan sendiri. Ada juga masalah yang lebih baik dibicarakan langsung dengan orang terdekat, seperti keluarga atau sahabat.

Menjaga batas antara ruang pribadi dan ruang publik menjadi keterampilan penting di era digital.

Karena meskipun timeline media sosial terasa seperti ruang pribadi, sebenarnya ia adalah panggung terbuka yang dapat dilihat oleh banyak orang.

Di dunia yang semua hal bisa viral dalam hitungan menit, kemampuan untuk menahan diri dan memilih apa yang layak dibagikan justru menjadi bentuk kebijaksanaan digital yang sederhana, tetapi sangat berharga.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#privasi di media sosial #kebiasaan curhat di internet #oversharing media sosial #dampak oversharing #fenomena oversharing Gen Z