Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Bunga Berusia 32.000 Tahun Berhasil Mekar Kembali dari Biji Zaman Es

Amaliya Syafithri • Minggu, 8 Maret 2026 | 13:05 WIB

Ilmuwan berhasil menumbuhkan kembali bunga dari biji berusia sekitar 32.000 tahun yang ditemukan membeku di permafrost Siberia sejak zaman es.
Ilmuwan berhasil menumbuhkan kembali bunga dari biji berusia sekitar 32.000 tahun yang ditemukan membeku di permafrost Siberia sejak zaman es.

RADARBONANG.ID – Sebuah penemuan luar biasa dalam dunia sains berhasil membuktikan bahwa kehidupan dapat bertahan jauh lebih lama dari yang selama ini dibayangkan.

Para ilmuwan berhasil menumbuhkan kembali tanaman berbunga dari biji yang diperkirakan telah berusia sekitar 32.000 tahun.

Biji purba tersebut ditemukan di wilayah Siberia, Rusia, yang selama ribuan tahun terkubur di dalam lapisan tanah beku permanen atau permafrost.

Lapisan tanah yang sangat dingin ini berfungsi seperti kapsul waktu alami yang mampu menjaga berbagai material biologis tetap awet selama puluhan ribu tahun.

Penemuan ini kemudian menjadi salah satu keberhasilan paling menakjubkan dalam penelitian botani modern, sekaligus membuka wawasan baru dalam bidang genetika tanaman purba.

Baca Juga: Amplop THR Biasa Terlihat Membosankan? Coba DIY Kreatif Ini, Dijamin Lebaran Makin Seru dan Senyum Anak-Anak Langsung Mengembang!

Ditemukan di Sarang Tupai Tanah Purba

Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan Rusia yang melakukan penggalian di wilayah permafrost Siberia. Dalam proses penelitian tersebut, para ilmuwan menemukan sarang tupai tanah purba yang diperkirakan berasal dari masa zaman es terakhir.

Di dalam sarang tersebut tersimpan berbagai jenis biji tanaman yang diyakini telah dikumpulkan oleh hewan pengerat itu sebagai cadangan makanan. Sarang tersebut kemudian tertimbun tanah dan membeku selama puluhan ribu tahun.

Kondisi suhu yang sangat rendah serta stabil membuat biji-biji tanaman itu tetap terawetkan dengan sangat baik.

Hal inilah yang memungkinkan jaringan tanaman di dalamnya masih dapat dipelajari oleh para ilmuwan hingga sekarang.

Setelah dilakukan analisis di laboratorium, para peneliti menemukan bahwa sebagian jaringan tanaman di dalam biji tersebut masih memiliki struktur yang cukup baik untuk diteliti lebih lanjut.

Menghidupkan Kembali Tanaman Purba

Para ilmuwan tidak langsung menanam biji tersebut ke tanah. Sebagai gantinya, mereka menggunakan metode ilmiah yang lebih canggih untuk memastikan jaringan tanaman yang tersisa masih dapat berkembang.

Tim peneliti mengekstraksi jaringan tanaman dari bagian plasenta biji yang masih tersisa. Bagian ini diketahui memiliki sel-sel yang berpotensi untuk berkembang menjadi tanaman baru.

Jaringan tersebut kemudian ditumbuhkan menggunakan teknik kultur jaringan di laboratorium. Teknik ini memungkinkan ilmuwan untuk menumbuhkan tanaman baru dari potongan jaringan kecil yang masih hidup.

Hasilnya sangat mengejutkan. Setelah melalui proses penelitian dan perawatan yang cukup lama, jaringan tersebut berhasil tumbuh menjadi tanaman baru yang sehat. Tidak hanya itu, tanaman tersebut akhirnya juga menghasilkan bunga.

Tanaman purba yang berhasil tumbuh kembali tersebut diketahui berasal dari spesies bunga liar bernama Silene stenophylla. Tanaman ini merupakan bunga kecil yang secara alami tumbuh di wilayah Arktik dengan kondisi lingkungan yang sangat dingin.

Membuka Wawasan Baru bagi Ilmu Pengetahuan

Keberhasilan ini menjadi pencapaian penting dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang genetika tanaman dan konservasi keanekaragaman hayati.

Melalui penelitian ini, para ilmuwan dapat mempelajari bagaimana tanaman mampu bertahan dalam kondisi ekstrem selama puluhan ribu tahun.

Hal ini memberikan gambaran mengenai kemampuan adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungan yang sangat keras.

Selain itu, penelitian ini juga membuka kemungkinan baru dalam upaya konservasi tanaman langka atau bahkan spesies yang telah punah.

Dengan teknik kultur jaringan dan teknologi genetika modern, ilmuwan dapat mempelajari kembali materi genetik dari tanaman purba yang tersimpan di alam.

Para peneliti juga menyebut bahwa permafrost dapat berfungsi sebagai “bank genetik alami”. Lingkungan yang sangat dingin mampu menyimpan berbagai informasi biologis dari masa lalu, termasuk biji tanaman, mikroorganisme, hingga sisa-sisa hewan purba.

Dengan mempelajari material biologis tersebut, para ilmuwan dapat memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kondisi ekosistem di masa prasejarah serta bagaimana kehidupan berkembang selama ribuan tahun.

Baca Juga: Bukan Sekadar Menu Lebaran! Ternyata Ini Makna Tersembunyi di Balik Hidangan Khas Hari Raya yang Selalu Ada di Meja

Potensi Penelitian di Masa Depan

Penemuan ini juga menunjukkan bahwa masih banyak misteri ilmiah yang tersimpan di wilayah permafrost.

Dengan perkembangan teknologi biologi molekuler dan genetika yang semakin maju, kemungkinan untuk menemukan organisme purba lain yang dapat dipelajari kembali menjadi semakin besar.

Penelitian semacam ini tidak hanya membantu memahami sejarah evolusi tanaman, tetapi juga dapat memberikan manfaat praktis bagi manusia.

Misalnya, dalam pengembangan metode penyimpanan benih yang lebih efektif untuk menjaga ketahanan pangan di masa depan.

Keberhasilan menumbuhkan kembali bunga berusia puluhan ribu tahun ini menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan terus membuka jendela baru untuk memahami kehidupan di bumi, bahkan dari masa yang sangat jauh di masa lalu.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Tanaman purba Siberia #biji zaman es #Penelitian permafrost #bunga 32000 tahun #tanaman tertua di dunia #Silene stenophylla