Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Cara Mengelola Emosi: Kenapa Kita Mudah Marah? Ini Penjelasan Gobind Vashdev

Antika Luviana • Jumat, 13 Februari 2026 | 13:55 WIB

Mudah marah bukan karena dunia kejam, tapi karena respons kita belum terlatih. Yuk belajar atur napas dan emosi biar hidup lebih tenang.
Mudah marah bukan karena dunia kejam, tapi karena respons kita belum terlatih. Yuk belajar atur napas dan emosi biar hidup lebih tenang.

RADARBONANG.ID – Kenapa kita gampang marah, tersinggung, atau merasa dunia tidak adil? Dalam podcast Room for Improvement bersama Rory Asyari, Gobind Vashdev membahas satu hal penting: emosi bukan datang dari orang lain, tapi dari cara kita merespons keadaan.

Menurut Gobind, banyak orang merasa lelah, kecewa, bahkan sakit hati bukan semata karena masalahnya berat, tetapi karena belum mampu mengelola respons diri sendiri.

Masalah boleh sama, tetapi kapasitas mental tiap orang berbeda. Saat mental kuat, masalah terasa lebih kecil. Saat mental rapuh, hal sepele pun bisa meledak jadi amarah.

Baca Juga: “Kok Kamu Main Sama Dia Lagi?” Hati-Hati, Ini Tanda Monopoli dalam Pertemanan yang Diam-Diam Bikin Toxic!

Emosi Itu Soal Respons, Bukan Situasi

Gobind menekankan bahwa emosi adalah hasil interpretasi. Ketika seseorang berbicara kasar, misalnya, reaksi kita bisa marah atau tetap tenang.

Situasinya sama, tetapi responsnya berbeda. Artinya, kendali tetap ada pada diri sendiri.

Ia mengingatkan bahwa menyalahkan keadaan hanya membuat kita kehilangan daya. Semakin sering menyalahkan luar, semakin lemah kontrol terhadap diri sendiri.

Salah Kaprah soal Ikhlas dan Pasrah

Dalam obrolan tersebut, Gobind juga membahas perbedaan ikhlas dan pasrah yang sering disalahartikan. Banyak orang mengira ikhlas berarti menyerah. Padahal, menurutnya, ikhlas justru butuh energi besar.

Ikhlas berarti menerima kenyataan tanpa drama, tetapi tetap melakukan yang terbaik. Pasrah bukan “ya sudah lah”, melainkan berani bertanggung jawab penuh atas hidup sendiri tanpa menyalahkan siapa pun.

Sikap ini membuat seseorang lebih stabil secara emosional karena fokusnya bukan lagi pada hal yang tidak bisa dikontrol, melainkan pada tindakan yang bisa dilakukan.

Teknik Napas LSD: Light, Slow, Deep

Salah satu bagian paling menarik adalah saat Gobind memperkenalkan teknik LSD Breathing: Light, Slow, Deep.

Teknik ini mengajarkan agar napas dilakukan dengan ringan, pelan, dan dalam—melalui hidung, bukan mulut.

Menurutnya, napas adalah jembatan antara tubuh dan pikiran. Saat marah, napas biasanya menjadi cepat dan dangkal. Sebaliknya, jika napas diatur lebih lambat dan dalam, sistem saraf akan lebih tenang sehingga emosi ikut stabil.

Ia bahkan menyebut bahwa sebagian besar pembakaran lemak dalam tubuh dikeluarkan melalui napas, bukan hanya lewat keringat. Artinya, kualitas napas punya dampak besar pada kesehatan fisik sekaligus mental.

Teknik sederhana ini bisa dipraktikkan kapan saja, terutama saat mulai merasa emosi meningkat.

Gagal Bukan Akhir

Gobind juga menyinggung soal kegagalan. Ia menekankan bahwa gagal bukan berarti selesai. Selama seseorang mau evaluasi dan mencoba lagi, itu masih bagian dari proses belajar.

Banyak orang mudah marah pada diri sendiri karena merasa gagal. Padahal, kemarahan itu sering muncul dari ekspektasi yang tidak realistis.

Ketika sudut pandang diubah, kegagalan bisa dilihat sebagai bahan perbaikan, bukan alasan untuk menyalahkan diri.

Hubungan Makanan dan Emosi

Hal lain yang dibahas adalah pentingnya menjaga kesehatan usus. Gobind mengingatkan bahwa apa yang kita makan berpengaruh pada hormon dan kondisi mental.

Konsumsi serat yang cukup membantu kesehatan pencernaan, yang pada akhirnya memengaruhi produksi hormon terkait suasana hati.

Artinya, mengelola emosi bukan hanya soal pikiran, tetapi juga gaya hidup secara keseluruhan.

Dua Jenis “Sakit” dalam Hidup

Di akhir pembicaraan, Gobind menyampaikan pesan yang cukup menohok. Menurutnya, hidup hanya punya dua jenis sakit: sakit karena disiplin atau sakit karena penyesalan.

Baca Juga: Google Mulai Batasi Akses Lirik Lagu di YouTube Music untuk Pengguna Gratis

Sakit karena disiplin datang dari olahraga, menjaga pola makan, bangun pagi, dan melatih diri. Sementara sakit karena penyesalan muncul saat kita menunda perubahan dan akhirnya menyesal di kemudian hari.

Pesannya sederhana: lebih baik capek sekarang daripada menyesal nanti.

Kenapa Kita Mudah Marah?

Jawabannya bukan karena dunia terlalu keras, tetapi karena kita belum cukup terlatih mengelola respons diri. Emosi tidak salah, tetapi cara kita meresponsnya yang menentukan kualitas hidup.

Dengan memahami napas, disiplin, pola pikir, dan tanggung jawab pribadi, kita bisa lebih stabil secara emosional. Karena pada akhirnya, yang bisa kita kendalikan bukan situasi—melainkan diri sendiri.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#cara mengontrol emosi #Gobind Vashdev #Teknik LSD breathing #cara mengelola emosi #kenapa mudah marah