RADARBONANG.ID – Tren meal prep atau menyiapkan makanan untuk beberapa hari ke depan kian populer, terutama di kalangan pekerja muda dan mahasiswa.
Alasannya sederhana: hemat waktu, praktis, dan tetap bisa makan makanan rumahan di tengah jadwal yang padat.
Namun, di sisi lain, masih banyak orang yang setia dengan fresh cooking atau memasak setiap hari.
Makanan baru matang dianggap lebih segar, lebih lezat, dan lebih bernutrisi. Lantas, di antara dua gaya makan ini, mana yang sebenarnya lebih sehat menurut ahli gizi?
Baca Juga: PSSI Mengerucutkan Calon Pelatih Timnas Indonesia: John Herdman dan Van Bronckhorst Jadi Sorotan
Meal Prep: Efisien, Tapi Perlu Strategi Agar Tetap Bergizi
Menurut dokter spesialis gizi klinik, Dr. Dian Maharani, Sp.GK, meal prep bisa menjadi pilihan sehat asalkan dilakukan dengan cara yang tepat.
Ia menegaskan bahwa masalah utama bukan terletak pada konsep meal prep, melainkan pada penyimpanan dan proses pemanasan ulang makanan.
“Makanan yang disimpan terlalu lama di kulkas, lebih dari empat sampai lima hari, bisa mengalami penurunan kandungan vitamin tertentu, seperti vitamin C dan beberapa jenis vitamin B kompleks,” jelasnya.
Meski jumlah kalori tidak berubah, nilai gizinya bisa berkurang. Karena itu, meal prep perlu disesuaikan dengan jenis makanan dan metode pengolahannya. Kendati demikian, meal prep memiliki keunggulan besar dalam hal kontrol porsi dan kalori.
Dengan menyiapkan makanan sendiri, seseorang bisa mengatur keseimbangan karbohidrat, protein, dan lemak sesuai kebutuhan tubuh. Bagi mereka yang sedang menjalani diet atau ingin mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, meal prep menjadi solusi praktis yang efektif.
Fresh Cooking: Nutrisi Lebih Optimal, Tapi Tak Selalu Praktis
Sementara itu, Rizka Hapsari, M.Gizi, pakar nutrisi dan dosen gizi di Jakarta, menyebut fresh cooking unggul dalam hal kesegaran nutrisi.
“Makanan yang dimasak dan langsung dikonsumsi umumnya mempertahankan vitamin, mineral, dan enzim alami dengan lebih baik dibanding makanan yang disimpan,” ujarnya.
Selain kandungan gizi, makanan segar juga memiliki rasa dan tekstur yang lebih optimal karena tidak melalui proses pendinginan dan pemanasan ulang.
Namun, Rizka mengingatkan bahwa tantangan terbesar dari fresh cooking adalah konsistensi.
“Banyak orang berniat masak sehat setiap hari, tapi karena kelelahan atau tidak punya waktu, akhirnya memilih makanan instan atau cepat saji,” katanya.
Dalam kondisi seperti itu, fresh cooking justru berisiko gagal dijalankan dan berujung pada pola makan yang kurang sehat.
Jadi, Mana yang Lebih Sehat?
Menurut para ahli gizi, tidak ada pemenang mutlak antara meal prep dan fresh cooking. Keduanya sama-sama bisa sehat, tergantung bagaimana cara penerapannya.
Meal prep tetap aman dan seimbang jika menggunakan bahan segar, disimpan pada suhu yang tepat (sekitar 1–4 derajat Celsius), dan dikonsumsi maksimal empat hari setelah dimasak.
Sementara fresh cooking membutuhkan komitmen waktu dan tenaga agar tidak berujung pada pilihan makanan instan.
Dengan kata lain, risiko terbesar bukan pada metode memasak, melainkan pada pola makan yang tidak terkontrol.
Baca Juga: Ahmad Dhani Ekspansi Bisnis Kopi Dewa 19 ke Bandara Indonesia, Buka Banyak Lapangan Kerja
Tips Aman Meal Prep agar Tetap Sehat
Agar meal prep tetap bergizi dan aman dikonsumsi, ahli gizi menyarankan beberapa hal berikut:
-
Hindari menu bersantan atau berkuah kental
-
Gunakan bahan makanan segar dan berkualitas
-
Simpan makanan dalam wadah kedap udara
-
Pisahkan saus atau dressing agar tidak cepat rusak
-
Hindari pemanasan ulang berulang kali
Kombinasi Adalah Kunci Pola Makan Sehat
Alih-alih memilih salah satu, para ahli justru menyarankan kombinasi antara meal prep dan fresh cooking.
Misalnya, menyiapkan bahan dasar seperti nasi merah, ayam panggang, atau sayur rebus di awal minggu, lalu mengolahnya secara cepat setiap hari dengan bumbu yang berbeda.
Cara ini memungkinkan efisiensi waktu sekaligus menjaga rasa dan nutrisi tetap optimal.
Meal prep unggul dalam efisiensi dan kontrol porsi, cocok untuk gaya hidup sibuk selama penyimpanan dilakukan dengan benar.
Fresh cooking menawarkan kesegaran dan nutrisi maksimal, namun membutuhkan waktu dan konsistensi tinggi.
Kombinasi keduanya menjadi strategi paling realistis untuk menjaga pola makan tetap sehat, praktis, dan berkelanjutan.
Editor : Muhammad Azlan Syah