Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Mengenal Baking Therapy Lebih Dekat: Dari Tepung Jadi Kebahagiaan

Siska Yudianti • Jumat, 12 September 2025 | 21:25 WIB
Baking therapy, salah satu cara menenangkan pikiran, fenomena  cara sederhana untuk healing yang kini jadi tren viral di media sosial. Foto adalah ilustrasi.
Baking therapy, salah satu cara menenangkan pikiran, fenomena cara sederhana untuk healing yang kini jadi tren viral di media sosial. Foto adalah ilustrasi.

RADARBONANG.ID – Di tengah tekanan hidup yang makin padat, orang-orang mencari cara sederhana untuk healing.

Siapa sangka, aktivitas dapur yang dulu dianggap ribet kini justru naik kelas jadi terapi mental populer: Baking Therapy.

Dari sekadar mencampur tepung, gula, dan telur, lahirlah kebahagiaan yang bisa menenangkan pikiran.

Fenomena ini kini ramai jadi perbincangan di media sosial. Hashtag seperti #BakingTherapy, #StressRelief, dan #HappyBaking banjir jutaan tayangan di TikTok dan Instagram.

Banyak yang mengaku, baking bukan sekadar bikin kue, tapi juga bikin hati adem dan pikiran lebih jernih.

Kenapa Baking Bisa Jadi Terapi?

Psikolog klinis menjelaskan bahwa baking punya efek mirip meditasi.

Proses menakar bahan, mengaduk adonan, hingga menunggu kue mengembang membuat seseorang fokus penuh pada satu aktivitas.

Kondisi ini disebut mindfulness, yaitu keadaan ketika pikiran benar-benar hadir pada momen sekarang.

Selain itu, ada efek fisiologis. Wangi adonan yang dipanggang bisa merangsang otak memproduksi hormon dopamin dan serotonin, yang dikenal sebagai hormon bahagia.

Itulah sebabnya, banyak orang langsung merasa lebih tenang hanya dengan mencium aroma kue baru matang.

Dari Adonan Jadi Kebahagiaan

Menariknya, Baking Therapy bukan soal hasil akhir yang sempurna.

Meski kuenya bantat atau gosong, prosesnya tetap memberi pengalaman berharga: belajar sabar, menerima kegagalan, dan menikmati usaha sendiri.

Selain itu, membagi hasil baking ke orang lain juga menambah kebahagiaan.

Memberi kue buatan tangan ke sahabat atau tetangga bisa menumbuhkan rasa kebersamaan dan memperkuat hubungan sosial.

Viral di Media Sosial dan Jadi Gaya Hidup Baru

Baking Therapy makin dikenal sejak pandemi.

Banyak orang yang terjebak di rumah akhirnya mencoba hobi baru, termasuk membuat roti dan kue.

Dari sekadar coba-coba, muncul tren berbagi resep dan video baking yang estetik di media sosial.

Kini, tren itu tak hanya bertahan, tapi semakin meluas.

Bahkan sejumlah toko kue memanfaatkan fenomena ini dengan membuka kelas baking singkat.

Kelas tersebut bukan sekadar ajang belajar, tapi juga tempat healing bersama.

Tak jarang, anak muda yang sebelumnya jarang menyentuh dapur kini rutin meluangkan waktu untuk baking.

Mereka menganggapnya sebagai bentuk self-care sederhana: menenangkan diri tanpa perlu keluar rumah atau mengeluarkan biaya besar.

Tips Praktis Baking Therapy untuk Pemula

Buat kamu yang ingin mencoba Baking Therapy, nggak perlu jadi chef profesional dulu. Berikut beberapa tips sederhana:

Dari sekadar mengisi waktu luang, Baking Therapy kini dianggap sebagai salah satu bentuk gaya hidup sehat mental.

Tidak heran jika makin banyak orang melirik dapur sebagai ruang meditasi baru.

Daripada pusing mencari cara healing yang mahal, kenapa tidak coba berkreasi dengan tepung, gula, dan oven?

Siapa tahu, dari dapur rumahmu, lahir resep sederhana untuk bahagia. (*)

Editor : Amin Fauzie
#Baking therapy #bahagia #cara sederhana untuk healing #fenomena #viral #media sosial #Bikin Kue